Do little things to save the wolrd

Do Little Things to Save the World

Posted: December 9th 2020

Si imut Tarsius Siau (Tarsius tumpara) yang Semakin Memudar di Bumi

Gambar 1. Tarsius Tumpara (Sumber: www.iucnredlist.org)

Pengantar

Tarsius Siau (Tarsius tumpara) adalah salah satu spesies dari Genus Tarsius, yang hanya bisa ditemui di Pulau Siau, Sulawesi Utara. Tarsius Siau merupakan seekor primata endemik Sulawesi, yang keberadaannya sudah sulit untuk ditemui karena hewan ini memasuki masa kepunahan. Tarsius Siau tercatat ditemukan pertama kali pada tahun 2002, lewat penelitian oleh Museum Zoologi Bogor. Hewan ini merupakan jenis baru yang ditemukan dari Genus Tarsius. Saat ini, Tarsius Siau masuk ke dalam daftar 25 hewan yang terancam punah, yang dilindungi oleh PBB dan badan konservasi dunia. Klasifikasi Tarsius Siau (Tarsius tumpara) menurut Shekelle dkk. (2008) adalah sebagai berikut:

  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Kelas: Mamalia
  • Ordo: Primata
  • Family: Tarsiidae
  • Genus Tarsius
  • Spesies: Tarsius tumpara

Ciri-ciri dari Tarsius Siau

Tarsius Siau memiliki tinggi sekitar 10-15 cm, lalu mempunyai bulu abu-abu gelap dengan bintik-bintik coklat. Tarsius Siau pun memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki hewan ini memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar. Mata Tarsius siau pun sangat besar dan memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri layaknya burung hantu.Tarsius Siau merupakan hewan nokturnal beraktifitas pada sore hingga malam hari sedangkan siang hari lebih banyak dihabiskan untuk tidur. Makanan utamanya adalah serangga seperti kecoa, dan jangkrik namun juga memakan reptil kecil.

Jumlah Populasi

Jumlah populasi Tarsius Siau terus turun setiap tahunnya. Pada pendataan tahun 2009 oleh Shekelle dan Salim (2009), diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.358 ekor yang hidup di sekitar kolam air tawar kecil di ujung selatan pulau Siau, di tebing curam di sisi pantai timur pulau, dan di lereng dekat kaldera Gunung Karengetang.  Berdasarkan tingkat kepunahannya, menurut IUCN tahun 2011, Tarsius Siau memasuki tahap critically endangred. Pengategorian Tarsius Siau dalam status critically endangered adalah berdasarkan penurunan populasi tarsius dalam 3 generasi terakhir yang sangat signifikan akibat 80% habitat alami yang sudah hilang.

Penyebab Ancaman

Ancaman utama yang dapat menyebabkan Tarsius Siau semakin sedikit atau bahkan punah adalah ancaman gunung berapi aktif Mt. Karengentang, lalu hal ini diperparah dengan populasi manusia yang semakin bertambah akibatnya banyak lahan kosong yang tadinya habitat primer tempat tinggal Tarsius Siau berubah menjadi daerah perumahan atau dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Hal lain yang menjadi ancaman penurunan populasi adalah pemburuan dan penjebakkan Tarsius Siau dengan tujuan jual beli atau sebagian masyarakat mengonsumsinya sebagai makanan sehari-hari. Hal ini dapat terjadi akibat hampir tidak ada kawasan konservasi atau program konservasi di Pulau Siau.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Banyak hal yang dapat dilakukan sebenarnya untuk menghentikan penurunan jumlah Tarsius Siau yang merupakan hewan endemik di pulau Siau, Sulawesi Utara ini. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memberikan penyuluhan mengenaik hewan terancam punah dan pentingnya daerah konservasi kepada masyarakat sekitar sehingga mereka dapat mengetahui apa yang akan terjadi jika tidak menghentikan perburuan dan pembukaan lahan terus menerus. Pemberian sanksi pada pemburu juga dapat dilakukan jika setelah penyuluhan masih ada orang-orang yang menangkap Tarsius Siau dengan alasan apapun.

Pada faktor alam seperti aktifnya gunung berapi Mt. Karengentang memang sulit untuk dihindari dan sulit untuk diprediksi, namun hal ini dapat dicegah dengan membangun daerah konservasi yang sekiranya aman dari jangkauan letusan gunung berapi, lalu hal yang paling penting lainnya adalah kerja sama antara Gubernur Sulawesi Utara dengan pemerintah untuk membuat daerah konservasi dengan tambahan beberapa objek wisata sehingga Tarsius Siau dapat menjadi daya tarik wisatawan dan menjadi keuntungan untuk masyarakat Pulau Siau, namun tetap melestarikan dan menjaga hewan tersebut dari kepunahan.

Mari lestarikan Tarsius Siau (Tarsius tumpara) yang merupakan hewan endemik !

Referensi:

https://www.iucnredlist.org/species/179234/7636582#population

Shekelle, M., Groves, C., Merker, S., dan Supriatna, S. 2008. Tarsius tumpara: a new tarsier species from Siau Island, North Sulawesi. Primate Conservation 23: 55-64.

Shekelle, M. dan Salim, A. 2009a. An acute conservation threat to two tarsier species in the Sangihe Island chain, North Sulawesi, Indonesia. Oryx 43: 419-426.


7 responses to “Do Little Things to Save the World”

  1. Ignasius Trisna Laksana says:

    Wah menarik dan lengkap artikelnya…semoga upaya yang akan dilakukan kedepannya membuahkan hasil yang baik.Salam Sehat!

  2. Gregorius Valens Eryen says:

    semoga pemerintah dapat memberi perhatian yang lebih terhadap tarsisius ini agar tetap lestari

  3. michelleonibala says:

    Wah artikelnya sangat lengkap dan informatif! Semoga aksi konservasinya dapat terlaksana dengan baik sehingga Tarsius Siau dapat dilestarikan !

  4. Irma Kristiany Br Ginting says:

    wah mantap, sungguh bermanfaat kak, semangat

  5. Vania Uly Andyra says:

    Waaaaahh saya jadi tau bahwa heean ini terancam punah dan penyeban kepunahannya. Semoga kita bisa mengurangi penurunan populasinya yaa

  6. vaniauly says:

    Waaaahhh saya jadi tahu bahwa hewan yang imut ini sudah terancam punah dan saya jadi tahu penyebab kepunahannya. Semoga kita bisa mengurangi penurunan populasi Tarsius tarsier yaa

  7. lucyfear16 says:

    mantap, informasi tasisus jelas dan ringkas sehingga action plan mampu dipahami dengan baik. semoga action plan dapat dilaksanakan denan baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php