Semangat Anti Kerut Iman Anti Bocor

Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

Posted: May 10th 2012

Desember 9, 2011

Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan
kabut tipis, pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap
seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi
brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan
gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan
tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu, persimpangan Soko mulai riuh
dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti
sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber
plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman .
Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju
perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan di tepi
posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh
derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan
yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi, brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan
memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna.
“Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat
ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca, jaman itu surat mobil masih
diistilahkan rebuwes.

Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping
secara penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget,
ia mengenali siapa pria itu. “Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati.
Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya
tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia
memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan
Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir, orang sebesar sultan HB IX
mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup
lumayan, entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk
mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun sultan menolak.

“Ya ..saya salah, kamu benar, saya pasti salah !” Sinuwun turun dari
sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes
tanpa tahu harus berbuat apa.

“Jadi…?” Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi
brigadir Royadin menjawabnya.

“Em..emm ..bapak saya tilang, mohon maaf!” Brigadir Royadin heran, sinuwun
tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi
dengannya, jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara
dan Rajapun beliau tidak melakukannya.

“Baik..brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya
harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera
membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat
tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia
sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi
di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak
sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia
berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu
gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan, rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia
menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya
menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir
royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran
berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi
manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk
tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, Ia menyerahkan rebuwes
kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut, lalu kembali
kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di markas polisi
pekalongan, nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris.
Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap
komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing
mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa
jawa, di tangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri
bolak balik.

“Sekarang aku mau Tanya, kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun .. biarkan
lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo sinuwun?”
Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“Siap pak, beliau tidak bilang beliau itu siapa, beliau ngaku salah ..dan
memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku, kok malah
mbok tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri !”
Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian
Negara.

Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya
sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja
..memang Koppeg (keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun,
masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan
rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar
kabar, keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada
akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk
mengembalikan rebuwes tanpa mengikutsertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa, satu minggu
setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan
bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota
pekalongan selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang
menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali
ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang
komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin, ia
membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan
setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan
soko .

“Siap pak !” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan,
untuk apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan, ini hanya merepotkan
diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar
tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja
bukan di sini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana, pangkatmu mau
dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris, disodorkan surat yang ada
digenggamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “Mohon
dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas saya
selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta
bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya
satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia
tak sangup menolak permintaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia
juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan. Ia cinta
pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini.

“Mohon bapak sampaikan ke sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa
pindah dari pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan
hormat saya pada beliau, dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau
atas kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa
luasnya hati sinuwun Sultan HB IX, Amarah hanya diperolehnya dari sang
komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi
korban ketegasannya.

July 2010, saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin
kepada sang khalik dari keluarga di pekalongan, saya tak memilki waktu
cukup untuk menghantar kepergiannya. Suaranya yang lirih saat mendekati
akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua
sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku
dan prinsip kepada keturunannya, sekaligus kepada saya selaku
keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai
akhir masa baktinya, pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme
yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran.

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati. Dan juga
kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya
melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.

Depok June 25′ 2011

Aryadi Noersaid


One response to “Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php