Evangelia's Site

Yuk Lestarikan Flora Identitas Kudus

Posted: November 30th 2016

        Di jaman yang semakin maju ini, semakin banyak buah-buah impor dari luar negri yang mahal dan dianggap berkelas untuk dimakan. Tetapi sebenarnya nutrisi yang sama sebenarnya kita bisa mendapatkan buah-buahan lokal, misalnya buah jambu yang menjadi sumber karbohidrat, serat, dan protein penting bagi tubuh. Namun tahukah kamu, bahwa jambu memiliki banyak varietas dan diantaranya sudah berada pada status langka bahkan ketika belum seluruh masyarakat Indonesia tahu varietas jambu tersebut? Contohnya varietas Jambu bol, yang saat ini menjadi maskot Kota Kudus selain daun tembakau sebagai lambang Kota Kretek tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan nama Jambu Bol di salah satu daerah di Kudus, hingga penggunaan namanya sebagai salah satu perusahaan rokok yang cukup berkembang sebelum PT Djarum berjaya, berikut adalah gambar PT Djambu Bol yang saat ini masih ada di Kudus.

140911-usaha2

       Jambu yang memiliki nama spesies Syzygium malaccense (L.) ini dikatakan langka karena luas produksinya sulit dipastikan. Luasnya yang terbatas itu bisa dikarenakan erosi genetika dari beberapa jenis tanaman, sehingga tanaman jambu bol ini berada pada status Rare atau jarang menurut tingkat kelangkaan dari suatu plasma nutfah nabati. Apa sih status rare itu??? Status rare itu menunjukkan kalau jenis tanaman jambu bol populasinya terbilang besar tapi gak menyebar secara lokal, atau bisa juga penyebarannya luas tapi jarang kita jumpai. Selain itu menurut Trina (2002), tingkat kelangkaan jambu bol juga dilihat dari produksi buah per tahunnya dan jumlah pohon yang produktif yaitu dari tahun ke tahun jumlahnya makin sedikit dan jaraaanggg sekali dijumpai. Gimana kalau nanti anak cucu kita udah gak pernah dengar lagi tentang tanaman Jambu Bol? Makanya, mulai dari generasi kita inilah yang sebenernya masih bisa menolong populasi Jambu Bol supaya tidak punah…

manfaat-jambu-bol

         Buat yang baru pertama denger tentang Jambu Bol, beberapa informasi tentang Jambu Bol mungkin bisa menggugah kamu buat tahu lebih dalam tentang dia J Jadi Jambu Bol ini adalah salah satu jenis jambu yang diperkirakan berasal dari daerah Indo – Cina, Malaysia, Filipina, dan Indonesia dengan wilayah penyebarannya terkonsentrasi di pulau jawa, terutama di provinsi Jawa Tengah yaitu Purworejo, Boyolali, Karanganyar, Sragen, Jepara, dan Kudus; serta Jawa Timur yaitu Malang, Banyuwangi, Pamekasan; dan D.I. Yogyakarta. Terus, kenapa kita harus melestarikan Jambu Bol ini? Well, mungkin kalian juga berpikir kalau gak ada Jambu Bol masih ada jenis jambu lain, kan?

        Salah satu kelebihan jambu ini, dia berkhasiat untuk pengobatan karena kandungan gizi seperti serat, kalsium, fosfat, vitamin A, tiamin, dan riboflavinnya lebih tinggi dibanding jambu lain yang bisa mengatasi dan mencegah penyakit (Fosberg dkk., 1979). Selain itu seluruh bagian tanaman bisa digunakan, yaitu bagian daun kering digunakan untuk penyembuhan sariawan dan bibir pecah-pecah, batang sebagai obat konstipasi (Cambie dan Ash, 1994), akarnya digunakan sebagai obat disentri sedangkan buah sebagai sumber nutrisi untuk dikonsumsi (Fosberg dkk., 1979).

       Kandungan tiamin yang tinggi berperan penting dalam mengatur air dalam tubuh dan mencegah penurunan nafsu makan yang menjadi penyebab sembelit maupun penurunan tonus dari otot usus, serta mencegah penyakit beri beri (Ayuna, 2009). Nah, efek yang mungkin paling bisa kita rasakan adalah dalam kasus sakit tenggorokan yang setidaknya masing-masing dari kita pasti pernah radang minimal sekali dalam setahun bukan? Tidak hanya buahnya saja, tapi Daun Jambu Bol ini juga bisa dimanfaatkan untuk membunuh bakteri sehingga bisa mengatasi radang tenggorokan, sariawan, gatal-gatal, hingga radang selaput lender saluran nafas (Alwaaidhoh, 2012).

       Jambu bol merupakan salah satu sumber plasma nutfah yang kini terbilang langka karena belum ada perkebunan khusus untuk tanaman jambu bol, selain itu juga dipengaruhi karena terjadinya erosi genetika pada tanaman. Jambu bol memiliki cita rasa yang khas, memiliki kasiat obat untuk berbagai penyakit dan dapat berbuah sepanjang tahun. Sehingga memiliki niai ekonomis yang cukup tinggi dan potensial untuk dikembangkan. Namun kini populasi jambu bol terbatas dan memiliki daya kecambah rendah maka perlu dilakukan perbanyakan tanaman jambu bol. Salah satunya dapat dilakukan yaitu dengan perbanyakan secara generatif dengan penambahan zat pengatur tumbuh GA3.

      Lalu kenapa bisa Jambu Bol menjadi langka? Selain yang tadi sudah dijelaskan bahwa faktor kelangkaannya adalah berkurangnya habitat jambu bol itu sendiri. Namun sebenarnya ada faktor lain menurut Wilkinson dan Elevitch (2000), pohon tanaman Jambu Bol rentan terhadap penyakit dan hama, misalnya lalat buah maupung kumbang bunga yang memakan daun-daun muda di pohon Jambu Bol yang masih muda dapat menekan pertumbuhan awal sehingga tanaman itu jadi sulit tumbuh.

      Setelah mengetahui beberapa alasan mengapa kita perlu melestarikan jambu bol serta faktor-faktor yang menyebabkan kelangkaannya, selanjutnya kita juga harus memikirkan rencana realistis kita untuk pelestarian Jambu Bol. Konservasi tidak perlu dilakukan secara muluk-muluk. Tingkatan aksi konservasi ada 4, yang pertama adalah farm, village, forest, or laboratory kemudian yang kedua bioregional, yang ketiga ditingkat nasional, dan yang keempat adalah international. Nah, untuk mengkonservasi jambu bol ini kita sebagai kaum muda dan beginners pastinya belum bisa langsung menjajak ke tingkat yang lebih lanjut, sehingga langkah yang paling realistis adalah pada aksi tingkat konservasi pertama.

        Rencana konservasi ini dapat kita wujudkan dengan menanam sedikitnya 1 pohon untuk setiap orang. Caranya bisa melalui perbanyakan generatif maupun vegetatif, namun perbanyakan generatif akan menghasilkan tanaman yang lebih lambat reproduksinya meskipun dengan perbanyakan generatif akan diperoleh tanaman yang homozigot atau serupa dengan induk jantannya serta tanaman bersifat poliembrionik yaitu banyaknya tunas (Setyati, 1995). Perbanyakan generatif dapat dilakukan dengan menanam biji jambu bol yang kemudian diberi beberapa zat pengatur tumbuh untuk memacu pertumbuhan. Zat pengatur tumbuh ini bisa diperoleh dari toko tanaman terdekat dengan membeli pupuk baik pupuk cair maupun pupuk padat, namun penggunaannya harus dilakukan dengan benar karena jika terlalu banyak akan bersifat toksik pada tanaman Jambu Bol, dan jika terlalu sedikit akan tidak memberikan efek pada pertumbuhan tanaman jambu bol.

       Rencana konservasi ini akan saya laksanakan di wilayah perumahan saya yang juga bertepatan di Kudus. Menurut Henuhili (2010), jambu biji sulit diperbanyak dengan cara cangkok sehingga perbanyakan paling efektif adalah dengan biji yang disemai dalam polibag kecil. Disamping itu saya juga sudah mempertimbangkan kesesuaian suhu dan pH untuk pertumbuhan jambu bol yaitu 18-28 oC dan pH 5,5-7,5 sehingga budidaya buah jambu bol akan saya lakukan di daerah pegunungan Colo di Kudus karena di sana ada pekarangan khusus yang biasa digunakan untuk budidaya tanaman tertentu untuk penelitian maupun untuk dijual ke warga setempat.

1022169163taman-ria-colo

        Pekarangan khusus itu masih merupakan bagian dari Taman Ria Colo namun letaknya cukup jauh untuk meminimalisir dampak negatif pengunjung terhadap ancaman pertumbuhan tanaman didalamnya. Selain itu dalam pekarangan khusus tersebut ada beberapa orang yang dapat dipercaya menjaga tanaman yang kita tanam, seperti pengairannya, penyiangan hamanya, hingga pemupukannya yang kita ketahui bahwa hal ini tidak dilakukan secara gratis. Untuk itu saya juga berencana untuk bekerjasama dengan beberapa rekan, terutama teman-teman dalam satu jurusan untuk turut berperan dalam rencana aksi saya.

REFERENSI

Cambie, R.C., and J.E. Ash. 1994. Fijian Medicinal Plants. CSIRO Australia, Collingwood, Victoria, Australia.

Elevitch, C.R., and K.M. Wilkinson (eds.). 2000. Agro- forestry Guides for Pacific Islands. Permanent Agricul- ture Resources, Holualoa, Hawai‘i.

Fosberg, F.R., M.-H. Sachet, and R. Oliver. 1979. A geo- graphical checklist of the Micronesian Dicotyledonae. Micronesica 14(1–2): 41–295.

Henuhili, V. 2010. Budidaya dan Peningkatan Nilai Jual Jambu Bol di Wilayah Pedukuhan Jogotirto, Desa Krasakan, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Skripsi-S1. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.

Wilkinson, K.M., and C.R. Elevitch. 2003. Propagation protocol for production of container Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry plants. In: Native Plant Network. Uni- versity of Idaho, College of Natural Resources, Forest Re- search Nursery, Moscow, Idaho. <http://www.nativeplant- network.org>.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php