Evangelia's Site

Primata Unik Endemik Jawa Barat Terancam Punah

Posted: August 21st 2016

Surili Jawa (Presbytis comata)

Surili atau kerap disebut sebagai Lutung Jawa Barat memiliki raut wajah lucu dan menggemaskan, serta bersuara melengking yang memecah keheningan ketika kita berkunjung ke Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Halimun Salak, Taman Nasional Ujung Kulon,  Taman Nasional Bali Barat, atau Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Surili Jawa telah menjadi maskot kota Bogor, Jawa Barat karena Surili hanya dapat ditemukan di Jawa Barat dan Banten.

Namun nama Surili pada abad ke-20 sudah kian jarang didengar oleh masyarakat luas. Pasalnya, jumlah Surili secara keseluruhan di Indonesia kian menurun hingga pada tahun 1996 hanya ditemukan 2500 ekor Surili di Indonesia. Hal tersebut membuat Surili berada dalam daftar satwa terancam punah (Edangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan dilindungi oleh Undang-undang no 5 tahun 1990. Ancaman kepunahan Surili berasal dari para ‘pecinta satwa’ yang ingin memelihara bayi Surili, dan untuk mengambil bayi Surili sekelompok pemburu harus membunuh induknya terlebih dahulu atau bahkan sekawanan Surili yang berusaha melindungi bayi Surili tersebut. Surili merupakan hewan yang sensitif terhadap lingkungannya, sehingga ketika bayi Surili dipelihara di dalam habitat yang berbeda dengan habitat aslinya maka bayi Surili tersebut akan stress dan mati. Hal tersebut menyebabkan jumlah hewan Surili di Indonesia kian menurun.

Mengenal Surili Jawa
Surili Jawa (Presbytis comata) hanya dapat ditemui di Indonesia dengan habitat yang terbatas yaitu di hutan-hutan yang ada di Jawa Barat. Surili Jawa adalah lutung endemik jawa yang ditemukan di Jawa bagian Barat dan tengah. Surili Jawa ditetapkan sebagai fauna identitas Bogor, Jawa Barat. Lutung Surili Jawa terdiri dari dua spesies yaitu Presbytis comate comate yang hidup di Jawa Barat dan Presbytis comate fredericae yang terdapat di Jawa Tengah (Harrison dkk., 2006).
a
Menurut Ruchiyat (1983), taksonomi dari Surili Jawa adalah sebagai berikut :
Kingdom        : Animalia
Phylum           : Chordata
Class               : Mammalia
Order             : Primates
Subordo        : Anthropoidea
Superfamily : Cercopithecoidae
Family           : Cercopithecidae
Subfamily     : Colobinae
Genus            : Presbytis
Species          : Presbytis comate
Surili Jawa memiliki punggung (dorsal) tubuh berwarna hitam atau coklat keabuan kemudian pada bagian kepala berwarna hitam hingga ke jambulnya. Tubuh bagian depan (ventral) mulai dari bawah dagu, dada, dan perut hingga kaki dan ekor berwarna putih. Surili yang baru lahir tubuhnya berwarna putih mengkilat dengan garis hitam mulai dari kepala hingga ekor. Panjang tubuh individu jantan dan betina hampir sama yaitu berkisar 430-600 mm dengan berat tubuh rata-rata sebesar 6,5 kg (Ruchiyat, 1983).

Bagaimana Habitat Surili Itu Sendiri?
Surili Jawa atau Grizzled Leaf Monkey menempati habitat hutan primer dan sekunder mulai dari hutan pantai, hutan bakau, hingga hutan pegunungan pada ketinggian sekitar 2000 m dpl. Habitat Surili di Jawa Barat dapat ditemukan di Taman Nasional Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Hutan Lindung Situ Lembang, Cagar Alam Kamojang, dan Ranca Danau. Habitat Surili Jawa di Jawa Tengah dapat ditemui di Gunung Slamet, Dataran Tinggi Dieng, dan Gunung Lawu (Megantara, 1993).
Menurut Iskandar dkk. (2002), Surili merupakan jenis primata yang banyak mengkonsumsi daun muda atau kuncup daun sebagai makanannya. Selain itu, Surili juga mengkonsumsi bungam serangga, serta jamur di tanah. Surili aktif di siang hari sehingga disebut primata diurnal dan lebih banyak melakukanaktivitasnya pada bagian atas dan tengah dari tajuk pohon (arboreal), namun seringkali primata langka ini juga turun ke dasar hutan untuk memakan tanah. Pada malam hari kelompok Menurut Eudrey (1987), Surili tidur saling berdekatan pada ketinggian sekitar 20 m diatas permukaan tanah. Surili jarang menggunakan pohon sebagai tempat tidur yang sama dengan hari sebelumnya.

Jika Surili terancam punah, bagaimana status konservasinya?
Populasi Presbytis comata semakin menurun seiring dengan berkurangnya luas hutan dan kerusakan hutan yang terjadi di Pulau Jawa. Pada tahun 1986 diperkirakan hanya terdapat 8040 ekor Surili Jawa namun pada tahun 1999 jumlah yang tersisa hanya 2500 ekor saja/ Penurunan populasi Surili yang drastis dalam satu decade tersebut membuat IUCN Redlist memasukkan Surili Jawa dalam status terancam punah sejak tahun 1988 hingga sekarang (IUCN, 2005).b                                                  
Surili merupakan satwa yang hanya terdapat (endemik) di Jawa Barat dan Banten. Satwa ini dilindungi oleh perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yaitu berdasarkan SK Menteri Pertanian No 247/Kpts/Um/1979 tanggal 5 April 1979, SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tanggal 10 Juni 1991 dan Undang-undang No. 5 Tahun 1990. Penyusutan habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Surili. Saat ini jenis primata ini hanya dapat dijumpai di kawasan lindung dan konservasi dengan jumlah yang tersisa berkisar antara 4000-6000 ekor (IUCN, 2005).
Surili Jawa merupakan salah satu jenis primata yang umum diperjualbelikan secara ilegal, padahal jenis primata tersebut merupakan satwa langka yang dilindungi oleh UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam, Hayati dan Ekosistem. Dalam ketentuan pasal 21 UU No. 5 tersebut ditegaskan bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, membunuh, memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup, mati atau bagian-bagian tubuhnya (Iskandar dkk. 2002). Menurut Megantara (1993), terhadap pelanggaran pasal 21 tersebut bisa dikenai ancaman hukuman penjara maksimum lima tahun penjara dan denda sebesar-besarnya Rp 100 juta. Walau telah ada ancaman sanksi, kenyataannya penjualan primata maupun jenis satwa dilindungi lainnya di Indonesia masih tinggi tetapi penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal satwa yang dilindungi masih belum optimal.

Dengan status konservasi yang demikian, apakah kita semua tahu apa yang menyebabkan Surili berada dalam daftar hewan yang terancam punah? Pada dasarnya semua berbalik pada tangan manusia itu sendiri serta ego manusia mulai dari pembangunan yang secara tak langsung menggusur habitat asli Surili hingga keinginan untuk mendapat nilai materiil tinggi dengan menjual Surili sebagai hewan peliharaan. Berikut adalah beberapa hal yang melatarbelakangi status kepunahan Surili :

  1. Penyusutan habitat menjadi ancaman terbesar bagi populasi Surili. Penyusutan habitat Surili diakibatkan pertumbuhan penduduk yang sangat pesar di Pulau Jawa sehingga Surili kehilangan sekitar 96% habitatnya yaitu dari seluas 43.274 km2 menjadi 1.608 km2 (Harrison dkk., 2006).
  2. Perburuan liar di masyarakat menyebabkan penurunan jumlah populasi Surili di Jawa Barat (Harrison dkk., 2006).
  3. Faktor ekonomi yang krisis mendorong warga untuk tertarik melakukan perburuan satwa liar termasuk Surili untuk dijual (Iskandar dkk., 2002).
  4. Perhutani dapat menjadi ancaman bagi keberadaan Surili di suatu cagar alam karena menyebabkan kawasan hutan cagar alam terpisah dari kawasan hutan alam lainnya sedangkan hutan produksi Perum Perhutani tidak dapat menjamin keutuhan habitat Surili di alam (Iskandar dkk., 2002).
  5. Berdasarkan komposisi umur yang terdapat pada setiap kelompok, dimana setiap kelompok terdapat individuusiamuda (termasuk usia anak dan bayi), maka diperkirakan dalam beberapa tahun mendatang jumlah kelompok akan bertambah. Karena individu muda yang sekarang ada akan membentuk kelompok-kelompok baru, selain kelompok yang ada sekarang akan melahirkan bayinya. Luas kawasan cagar alam yang hanya 21,18 hektar akan mengakibatkan daya dukung habitat surili akan menurun (Ruchiyat, 1983).
  6. Perambahan hutan, alih fungsi kawasan hutan dengan maraknya pembangunan akibat bertambahnya populasi manusia mengancam keberadaan Surili.
  7. Surili sensitif terhadap perubahan habitatnya sehingga primata ini akan terancam punah jika tempat yang menjadi habitatnya dirusak (Ruchiyat, 1983).
  8. Ancaman biologis bagi surili dapat berupa mikroorganisme yang ditularkan non-human primate maupun human-primate (manusia). Penyakit yang paling sering ditularkan kepada surili dari manusia adalah Tubercullosis, yang dapat disebarkan secara aerosol, fecal-oral, maupun melalui fomites (benda asing). Surili juga rentan terhadap benda-benda tajam, allergen, kotoran, dan debu, karenanya kebersihan dan keamanan kandang dalam penangkaran/pusat rehabilitasi surili haruslah sangat diperhatikan (Ruchiyat, 1983).

Lalu, apakah kita hanya diam saja???

Upaya pencegahan terus dilakukan dengan sosialisasi serta melakukan patroli dan pengawasan di lahan-lahan konservasi Usaha konservasi yang telah dilakukan yaitu di Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Halimun Salak, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Bali Barat, dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Supriatna dan Hendra, 2000). Selain itu juga dengan memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya melindungi satwa liar guna menyelamatkan ekosistem alam. Penyadaran yang dilakukan oleh Indonesia telah terlaksana selama tiga tahun terakhir, yaitu dengan penggalakan konservasi Surili yang diinformasikan ke seluruh daerah di Indonesia melalui poster, Koran, dan sosial media.
cde

           DAFTAR PUSTAKA

Gurmaya, J. K. 1992. A Preliminary Study on Ecology and Conservation of The Javan Primate in                        Ujung Kulon West Java, Indonesia. Strasbourg, France,
Ruchiyat, Y. 1983. Socio-ecological Study of Presbytis aygula in West Java. Primates 24(3):344-359.
Iskandar, S., Nurjaman, dan Bismark, M. 2002. Status Populasi dan Kondisi Habitat Surili                                  (Presbytis comatd) di Cagar Alam Situ Patengan, Jawa Barat. Berita Biologi 6(3):455-459.
Harrison, T., Kingbaum, J., dan Manser, J. 2006. Primate Biogeography and Ecology on the Sunda                  Shelf Island: A Paleontological ana Zoorchaeological Perspective. Primate Biogeography                      12(1): 351-357.
Eudrey, A. A. 1987. Action Plan for Asian Primate Conservation 1987-1991. University of California                  IUCN/SSC Primate Specialist Group, USA.
MacKinnon, J. 1987. Conservation Status of Primate in Malaysia with Special Reference to                                Indonesia. Primate Conservation 8(1):175-183.
Megantara, E. N. 1993. Status Primata Indonesia, Tantangan bagi Konservasi Jenis. Cisarua, Bogor.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php