Erlina Susanti

Maskot kan ya? Lestarikan donk!

Posted: November 30th 2016

koko3Hai semua, masih inget gak sama kokoleceran? bukan, bukan koko-koko, tapi tanaman yang jadi identitas provinsi Banten itu loh.

Nah pada topik sebelumnya, telah dibahas mengenai manfaat dari kokoleceran yaitu sebagai bahan bangunan dan pembuatan kapal. Tapi sayangnya tanaman ini termasuk dalam kategori Endangered menurut IUCN sejak tahun 1998. Hal ini dikarenakan adanya perubahan iklim dan konversi lahan hijau.

Menurut Badan Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Banten (2011), kokoleceran termasuk ke dalam tumbuhan langka yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon. Untuk menjaga kelestarian dari keanekaragaman hayati tersebut, pemerintah kabupaten atau kota mengeluarkan surat keputusan yang di harapkan dapat mendorong masyarakat untuk membudidayakan dan melestarikan keanekaragaman tersebut. Peraturan atau Peraturan Daerah (PERDA) terkait dengan cara untuk menjaga spesies ini tidak punah. Hal ini tercantum pada Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 8 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Kehutanan.

Action Plan yang akan saya lakukan berupa sosialisasi serta pengenalan lebih lanjut mengenai flora ini ke masyarakat, khususnya masyarakat di daerah Banten. Kenapa? Karena flora endemik ini merupakan identitas dari Banten, sehingga ia tidak boleh punah. Selain sosialisasi, diperlukan kemauan serta niat dari masyarakat Banten dan sekitarnya agar mau peduli terhadap tanaman ini karena meskipun telah dilakukan sosialisasi serta penanaman berlanjut, namun jika masyarakat sekitar tidak peduli dengan kokoleceran maka kegiatan penanaman serta sosialisasi tersebut akan dirasa kurang bermanfaat.

Penanaman kokoleceran dapat menggunakan biji. Tidak hanya itu, untuk mendukung pertumbuhan serta memperbesar kemungkinan flora itu tumbuh dapat digunakan teknik kultur in vitro berupa kultur jaringan batang atau kultur biji. Kultur biji dapat mempercepat masa dormansi dari kokoleceran sehingga mempercepat pertumbuhan dari biji menjadi tunas. Namun teknik kultur in vitro memerlukan tingkat aseptisitas yang tinggi serta peralatan yang cukup mahal sehingga penanaman konvensional merupakan cara yang paling murah dan mudah untuk dilakukan.

Sekian dulu topik dari saya saat ini, semoga bermanfaat! #SalamKoko-leceran

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php