Stefanus Setia Putra

Budaya ditengah Ancaman

Posted: November 29th 2018

Casuarius (Casuarius casuarius) adalah salah satu jenis burung besar yang hidup di tanah papua. Kasuari diperlengkapi tanduk diatas kepalanya yang membantu burung ini sewaktu berjalan di habitatnya di hutan yang lebat. Selain tanduk juga kasuari memiliki kaki yang sangat kuat dan berbuku tajam. Burung kasuari betina memiliki ukuran tubuh yang lebih besar daripada yang jantan. Kasuari adalah burung karnivora, atau sebagai konsumen akhir dalam ekosistem rantai makanan pada hutan dalam. Semua kasuari memiliki bulu yang terdiri dari poros dan barbules yang longgar. Mereka tidak memiliki retrices atau bulu ekor atau kelenjar preen.

Kasuari memiliki sayap kecil dengan 5-6 porsi besar. Cakar ada di setiap jari kedua. Furcula dan coracoid merosot, dan tulang palatal dan tulang sphenoid saling bersentuhan. Ini, bersama dengan tubuh berbentuk baji mereka, dianggap sebagai adaptasi untuk menangkal tanaman merambat, duri, dan daun bergerigi, yang memungkinkan mereka berlari dengan cepat melalui hutan hujan.

Casuarius casuarius.jpg

Gambar 1. Burung Kasuari (Casuarius casuarius)

Kasuari menggunakan kaki mereka sebagai senjata. Kasuari memiliki kaki tiga jari dengan cakar yang tajam. Jari kaki kedua, bagian dalam di posisi medial, olahraga seperti cakar seperti pisau yang bisa panjangnya 125 mm (5 in). Cakar ini sangat menakutkan karena kasuari terkadang menendang manusia dan hewan dengan kaki mereka yang sangat kuat. Kasuari bisa berjalan hingga 50 km / jam (31 mph) melalui hutan lebat dan bisa meloncat hingga 1,5 m (4,9 kaki). Mereka adalah perenang yang baik, menyeberangi sungai yang luas dan berenang di laut.

Papua yang memiliki luas wilayah sekitar 421.981 Km2 kaya akan keanelaragaman hayati dalam hutan hujan tropis sebagai sumberdaya alam yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Kasuari merupakan salah satu satwa endemic yang sangat tersebar luas dan merata pada tanah papua. Burung kasuari memiliki status Least Concern yang berarti tingkat resiko kepunahan masih rendah.

Image result for suku nduga

Gambar 2. Suku Nduga di Papua

Budaya pada suku suku pedalaman di papua yaitu perburuan liar yang masih sangat tradisional atau bisa dibilang primitive. Burung kasuari adalah salah satu hewan yang menjadi kebutuhan protein hewani masyarakat suku pedalaman di papua. Tak hanya dijadikan sumber pangan protein hewani tetapi juga bulu dari burung kasuari tersebut dijadikan sebagai symbol kehormatan suku pedalaman dan dijadikan sebagai salah satu sarana kegiatan ritual dipada suku tersebut.

Salah satu contoh yang masih menggunakan dan menjalankan budaya tersebut adalah suku Nduga yang berada Di Utara Kabupaten Asmat. Kegiatan sehari hari dari suku ini adalah melakukan perburuan dari alam termasuk burung kasuari tersebut. Mereka menggunakan burung kasuari sebagai sumber protein hewani dan menggunakan bulu kasuari untuk atribut upacara kebudayaan bagi petinggi suku tersebut. Setidaknya hal tersebut terjadi setiap harinya pada suku tersebut.

Kegiatan ini jelas membuat suatu kedilemaan antara melestarikan budaya Indonesia atau konservasi. Harus ada upaya untuk mengotrol agar budaya tetap terjaga dan kelestarian tetap terjaga. Jika tidak ditangani secara serius maka akan berakibat fatal untuk efek jangka panjang. Upaya yang harus dilakukan yang paling dini adalah sosialisasi kepada suku pedalaman tersebut secara perlahan lahan dan bertahap. Hal ini harus dilakukan dengan sangat teliti dan hati hati, karena budaya tersebut sudah melekat dalam para suku pedalaman, dan sebagai langkah paling dini untuk mengurangi angka perburuan. Tahap selanjutnya ialah membuat penangkaran kasuari sebagai kawasan lindung kasuari agar dapat menjaga populasi kasuari tersebut dan juga sekaligus menjaga ekosistem rantai makanan hutan dalam.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php