Valensa

Hibridisasi dan Filogenetik Anggrek

Posted: August 22nd 2017

Negara Indonesia dikenal sebgai negara yang agraris yang sebagian besar penduduknya adalah bermatapencaharian pada sektor pertanian. Banyak jenis-jenis pertanian yang dikembangkan di indonesia salah satunya adalah budidaya tanaman hias. Saat ini tanaman hias yang paling dilirik oleh masyarakat adalah tanaman Anggrek sehingga tanaman ini pun banyak dikembangkan oleh petani dan pelaku hortikultura (tanaman yang dibudidaya). Tanaman anggrek biasanya dilakukan hibridisasi untuk meningkatkan ketertarikan konsumen, kebutuhan, dan selera pasar. Akan tetapi, permasalahan yang seringkali dijumpai oleh para pelaku hortikultura dalam hibridisasi tanaman anggrek adalah anggrek yang tidak bisa dihibridisasi dan anggrek hasil hibridisasi yang berumur pendek. Para petani dan pelaku hortikultura mungkin tidak menyadari bahwa permasalahan hibridisasi pada tanaman anggrek ini dipengaruhi oleh foktor genetik. Oleh karena itu penting untuk mengetahui hubungan kekerabatan dan evolusi pada tanaman anggrek. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode filogenetika yaitu sistematika untuk memahami keanekaragaman makhluk hidup melalui rekonstruksi hubungan kekerabatan (phylogenetic relationship).

Karakter morfologi telah lama digunakan dalam banyak penelitian filogenetika. Dengan pesatnya perkembangan teknik-teknik di dalam biologi molekuler, seperti polymerase chain reaction (PCR) dan sequencing DNA, penggunaan sekuen DNA dalam penelitian filogenetik telah meningkat pesat dan telah dilakukan pada semua tingkatan taksonomi, misalnya famili, marga, dan spesies. Filogenetik molekuler mengombinasikan teknik biologi molekuler dengan statistik untuk merekonstruksi hubungan filogenetika dengan menggunakan sequen DNA dari inti dan kloroplas. Mengetahui filogenetik dari tanaman anggrek dimungkinkan akan dapat mempermudah dalam hibridisasi untuk menghasilkan tanaman yang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pasar.

Berdasarkan penelitian Hidayat dan Pancoro (2008) mengenai analisis filogenik pada tanaman anggrek dengan menggunakan sequen anggrek subtripe Aeridinae menghasilkan beberapa kelompok monofiletik, yang disebut dengan istilah alliance. Hibridisasi dapat dilakukan antarjenis di dalam alliance yang sama, misalnya pada alliance Aerides. Pada alliance ini terdapat beberapa jenis dari marga Aerides, Vanda, Ascocentrum, Trudelia, Christensonia, Paraphalaenopsis, Rhyncostilis, Seidenfadenia, Holcoglossum, dan Neofinetia, yang satu dengan yang lain dapat saling dihibridisasi. Hibridisasi pada tanaman anggrek untuk menghasilkan tanaman anggrek yang memiliki nilai komersial tinggi dapat dilakukan dengan memperhatikan hubungan filogenetik dan kualitas sumber genetik anggrek akan di hibrid sebelum melakukan hibridisasi.

Ref : Hidayat,T dan Pancoro, A. 2008. Kajian filogenetika dan perannya dalam menyajikan informasi dasar untuk meningkatkan kualitas sumber genetik anggrek. J. AgroBiogen 4(1): 35-40.


One response to “Hibridisasi dan Filogenetik Anggrek”

  1. krisdianti says:

    informasi yang menarik. Anggrek menjadi salah satu tanaman hias yang umumnya diperjualbelikan dan memiliki nilai yang tinggi. Selain itu, di Indonesia memiliki anggrek endemik salah satunya di Kalimantan. HAl ini dapat menjadi tantangan bagi para peneliti untuk memanfaatkan kajian ekologi molekuler bagi biodeversitas yag ada di Indonesia. Apakah hibridisasi anggrek telah dilakukan di Indonesia?
    Keep spirit elsa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php