Apakah kamu tahu?

Babi+Rusa= Babirusa

Posted: September 8th 2014

Babirusa merupakan hewan endemik Sulawesi, Indonesia. Babirusa yang dalam bahasa latin disebut sebagai Babyrousa babirussa hanya bisa dijumpai di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya seperti pulau Togian, Sula, Buru, Malenge, dan Maluku. Sebagai hewan endemik, Babirusa tidak ditemukan di tempat lainnya. Sayangnya satwa endemik ini mulai langka. Babirusa mempunyai tubuh yang menyerupai babi namun berukuran lebih kecil. Yang membedakan dari babi dan merupakan ciri khas babirusa mempunyai taring panjang yang mencuat menembus moncongnya. Lantaran bentuk tubuh dan taring yang dipunyainya hewan endemik Sulawesi ini dinamakan babirusa.

Gambar 1. Babirusa

Gambar 1. Babirusa

Babirusa mempunyai ciri khas bentuk tubuhnya yang menyerupai babi namun mempunyai taring panjang pada moncongnya. Hewan endemik Indonesia ini mempunyai tubuh sepanjang 85-105 cm. Tinggi babirusa sekitar 65-80 cm dengan berat tubuh sekitar 90-100 kg. Binatang endemik yang langka ini juga mempunyai ekor yang panjangnya sekitar 20-35 cm.
Babirusa (Babyrousa babirussa) memiliki kulit yang kasar berwarna keabu-abuan dan hampir tak berbulu. Ciri yang paling menonjol dari binatang ini adalah taringnya. Taring atas Babirusa tumbuh menembus moncongnya dan melengkung ke belakang ke arah mata. Taring ini berguna untuk melindungi mata hewan endemik Indonesia ini dari duri rotan. Babirusa termasuk binatang yang bersifat menyendiri namun sering terlihat dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu babirusa jantan yang paling kuat sebagai pemimpinnya.

Babirusa (Babyrousa babyrussa) tersebar di seluruh Sulawesi bagian utara, tengah, dan tenggara, serta pulau sekitar seperti Togian, Sula, Malenge, Buru, dan Maluku. Satwa langka endemik ini menyukai daerah-daerah pinggiran sungai atau kubangan lumpur di hutan dataran rendah.
Beberapa wilayah yang diduga masih menjadi habitat babirusa antara lain Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Cagar Alam Panua. Sedangkan di Cagar Alam Tangkoko, dan Suaka Margasatwa Manembo-nembo satwa unik endemik Sulawesi ini mulai langka dan jarang ditemui.
Populasinya hingga sekarang tidak diketahui dengan pasti. Namun berdasarkan persebarannya yang terbatas oleh IUCN Redlist satwa endemik ini didaftarkan dalam kategori konservasi Vulnerable (Rentan) sejak tahun 1986. Dan oleh CITES binatang langka dan dilindungi inipun didaftar dalam Apendiks I yang berarti tidak boleh diburu dan diperdagangkan.

Gambar 2. status konservasi IUCN redlist

Gambar 2. status konservasi IUCN redlist

Berkurangnya populasi babirusa diakibatkan oleh perburuan untuk mengambil dagingnya yang dilakukan oleh masyrakat sekitar. Selain itu deforestasi hutan sebagai habitat utama hewan endemik ini dan jarangnya frekuensi kelahiran membuat satwa endemik ini semakin langka.

Ancaman serius terhadap kelangsungan hidup adalah berkurangnya ruang habitat, menurunnya kualitas habitat dan perburuan. Berkurangnya luas habitat akibat dari konversi kawasan hutan baik legal maupun ilegal menjadi lahan pertanian, perkebunan, pemukiman dan lain-lain. Mengingat populasi satwa ini sudah sangat memperhatinkan, apalagi penyebaran populasinya yang terbatas pada wilayah-wilayah tertentu saja. Dengan demikian sudah saatnya pemerintah dan semua pihak yang terkait perlu berpartisipasi dalam upaya pelestarian satwa ini baik secara insitu maupun eksitu. Sosialisasi diperlukan berkaitan pentingnya satwa ini terutama bagi penelitian, pendidikan, wisata maupun keseimbangan ekosistem. Begitupula dari segi konservasinya yaitu pentingnya satwa ini hidup bebas di habitatnya tanpa ada tekanan perburuan, kerusakan habitat serta kekurangan pakan.

Ada beberapa hal strategis yang dapat dilakukan yaitu, habitat yang ada diluar kawasan konservasi segera ditetapkan sebagai kawasan konservasi atau hutan lindung, sedangkan yang berada didalam taman nasional dijadikan zona inti agar satwa tersebut tidak terancam kelestariannya. Kedua, perlunya penyuluhan sebagai upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian satwa. Ketiga, perlunya merestorasi habitat anoa yang rusak. Keempat, penelitian tentang teknik penangkaran sebagai upaya pelestarian eksitu perlu segera dilakukan. Dan Kelima, perlunya dilakukan penelitian mengenai data pasti jumlah populasi satwa yang ada di Sulawesi.

Sumber:

http://alamendah.org/2010/05/13/babirusa-hewan-endemik-sulawesi-indonesia/

http://celebio.org/beranda/babirusa/

http://www.iucnredlist.org/details/2461/0

http://unikonservasifauna.org/2011/02/konservasi-herbivora-sulawesi/


3 responses to “Babi+Rusa= Babirusa”

  1. pelangiasmara says:

    apakah belum ada usaha dari pemerintah untuk mengkonservasi babi rusa??

  2. nanda1301 says:

    eksploitasi secara berlebihan dan tidak bertanggung jawab banyak menyebabkan penurunan jumlah populasi suatu spesies termasuk babi rusa ini. bahkan sudah masuk cagar alam saja tidak menjamin keselamatan hewan tersebut (di Cagar Alam Tangkoko, dan Suaka Margasatwa Manembo-nembo satwa unik endemik Sulawesi ini mulai langka dan jarang ditemui). perlu tindakan nyata dari pemerintah untuk masalah ini terutama pengawasan cagar alam dari gangguan dan kerusakan. keep save babirusa…

  3. adeirma says:

    Tidak disangka hewan yang dulunya dianggap hama sekarang malah menjadi langka akibat perburuan. Inilah Indonesia kita, apapun yang dianggap mengganggu langsung dimusnahkan tanpa dipikirkan efeknya kedepan mungkin kita sebagai orang – orang biologi yang harus berpikir lebih kritis terlebih dahulu sebelum yang lain.

    Tetap sehat tetap kece badai!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php