Elfridayenny

Masa depan Tengkawang (Shorea spp.)

Posted: November 28th 2016

images

Tengkawang atau Borneo tallow nut merupakan salah satu jenis kayu genus Shorea famili Dipterocarpaceae. Tengkawang (Shorea spp.) ada puluhan jenis di Kalimantan, tetapi saat ini ada 13 jenis Tengkawang yang sudah ditetapkan sebagai jenis kayu yang dilindungi di Indonesia dari kepunahan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, di antaranya adalah Shorea stenoptera (Tengkawang Tungkul) yang buahnya relatif lebih besar dibandingkan dengan jenis lain, Shorea pinanga (Tengkawang Rambai), Shorea mecystopteryx (Tengkawang Layar), Shorea semiris (Tengkawang Terendak), Shorea beccariana (Tengkawang Tengkal), Shorea micrantha (Tengkabang Bungkus), Shorea singkawang (Sengkawang Pinang) dan jenis lainnya (Prosiding, 2014). Keputusan Menteri Pertanian No. 54/kpts/um/2/1972 menyatakan bahwa pohon penghasil tengkawang termasuk pohon yang dilindungi (Heriyanto dan Mindawati, 2008).

images-3images-2images-1

Tengkawang juga memiliki banyak manfaat, yaitu biji tengkawang  (Borneo Illipe nut) merupakan salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang penting sebagai bahan baku lemak nabati yang bernilai tinggi sebagai pengganti coklat yang dapat dimanfaatkan dalam industri kosmetik dan kayunya dapat dipungut untuk dimanfaatkan sebagai salah satu jenis kayu bernilai tinggi yang banyak diminati baik untuk industri kayu lapis maupun industri kayu gergajian (Prosiding, 2014). Pemanfaatan biji tengkawang sebagai bahan baku lemak nabati ini, menjadi salah satu penyebab pada tahun 2005 yang lalu masyarakat masih sering mengumpulkan biji tengkawang yang hanyut di sungai lalu menjemurnya kemudian dijual.

Tengkawang termasuk dalam kayu kelas tiga, dengan ciri-ciri pohon tinggi besar, mempunyai banyak cabang, dan berdaun rimbun. Siklus hidup tengkawang juga terbilang unik, dimana dalam sekali berbuah butuh periode antara 3 hingga 7 tahun. Siklus hidup Tengkawang yang lama ini menyebabkan penurunan jumlah pohon tengkawang di hutan akibat maraknya penebangan liar di hutan Kalimantan. Tengkawang  banyak dipelihara di kawasan hutan masyarakat yang biasa disebut Tembawang oleh masyarakat Dayak, tetapi banyaknya perusahaan sawit yang masuk di Kalimantan menjadi salah satu penyebab berkurangnya kawasan hutan ini. Pelestarian hutan tengkawang secara tradisional perlu di tingkatkan lagi, terutama oleh generasi muda salah satunya dengan mulai menanam biji Tengkawang mulai dari sekarang, karena menurut (Prosiding, 2014) buah tengkawang yang jatuh ke tanah lembab akan segera berkecambah dalam 2-3 hari dan buah tengkawang ini lekas tumbuh karena tidak memiliki masa dormansi.

Buah tengkawang yang mudah berkecambah tersebut tetap memerlukan campur tangan manusia untuk tetap tumbuh, karena jika lahan yang terdapat pohon tengkawang dialih fungsikan sama dengan menyebabkan kepunahan Tengkawang. Pembibitan menggunakan biji Tengkawang merupakan salah satu cara konvensional yang dapat dilakukan untuk mempertahankan hutan Tengkawang, tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan ada teknik kultur jaringan yang merupakan salah satu perbanyakan vegetatif yang dapat membantu program pemuliaan tanaman yang dapat dilihat pada jurnal ini.

Upaya konservasi yang dapat dilakukan untuk saat ini adalah mempengaruhi masyarakat mulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat adat di Kalimantan Barat, yaitu untuk:

  1. Melakukan penanaman ulang pada lahan yang sebelumnya menjadi tempat tumbuh Tengkawang, tetapi ditebang karena ingin memanfaatkan kayunya
  2. Melakukan pembibitan Tengkawang dan menanam bibit Tengkawang dapat dilakukan di sekeliling kebun atau lahan yang relatif besar karena pohon ini tumbuh sangat tinggi dan besar
  3. Menjaga tembawang (kawasan hutan adat dayak) yang memiliki pohon tengkawang dengan ukuran pohon yang masih kecil dengan melakukan metode tebang pilih

Para generasi muda, mari kita mulai melestarikan tengkawang baik secara konvensional atau menggunakan teknik kultur jaringan, sepaya anak cucu kita tetap mengenal dan mengetahui salah satu tanaman endemik Kalimantan ini. Mulai dari hal kecil untuk hasil yang besar 🙂

Daftar pustaka

Heriyanto, N.M., dan Mindawati, N. 2008. Konservasi Jenis Tengkawang (Shorea spp.) pada Kelompok Hutan Sungai Jelai-Sungai Delang-Sungai Seruyan Hulu di Propinsi Kalimantan Barat. Info Hutan 5 (3) : 281-287.

Prosiding. 2014. http://www.forda-mof.org/files/Prosiding_Tengkawang_B2PD_2014.pdf.  Diakses 27 November 2016.

 


4 responses to “Masa depan Tengkawang (Shorea spp.)”

  1. liam1552 says:

    bagus banget aku suka, dan harapanya dengan tengkawang daoat dikonservasi dengan baik sehingga tidak ternacam punah.

  2. meliasuryadevi says:

    Artikel yang menarik! Jangan lupa tentunya kita harus memperkaya informasi dahulu dengan studi tentang kultur jaringan tumbuhan berkayu karena teknis nya cukup berbeda.. Salam lestari!

  3. Shendy says:

    Informasi yang disampaikan sungguh lengkap dan menarik. semoga tengkawang terus dilestarikan di dalam Kalimantan dan semoga action plan mu dapat diterapkan di dalam masyarakat 🙂

  4. lidyaseptilia says:

    wah semangat kak. dengan banyaknya kemajuan teknologi dalam melestarikan tanaman yaitu baik scr konvesional maupun kultur jaringan semoga benar-benar efektif dalam menjaga populasi flora ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php