eifstellafel

tulang tua.. tulang terbakar.. ???

Posted: May 27th 2013

Tiga minggu lalu, saya mendapat tugas untuk mereview sebuah jurnal yang berhubungan dengan Isolasi DNA dari asisten praktikum Teknologi Molekuler. Ketika memilah-milih jurnal, pilihan jatuh pada sebuah judul “A Simple and Efficient Method for Extracting DNA from Old and Burned Bone”. Ketertarikan ini sinergi dengan ketidaktahuan saya mengenai hal-hal yang “berbau” tulang-belulang tua (fosil), dimana hal ini belum saya dapati di pencerahan kuliah Pak Pram ataupun dosen lain.

Pemaparan akan saya mulai dari identifikasi forensik secara tradisional. Secara umum, identifikasi forensik tradisional didasarkan pada  sidik jari, gigi, dan tulang. Tetapi ketika spesimen berasal dari kebakaran, ledakan, kecelakan pesawat dan peristiwa traumatis lainnya; identifikasi forensik tradisional ini tidak dapat dilakukan melainkan harus menggunakan teknologi DNA. Spesimen jenis tulang, memiliki DNA yang tahan terhadap lingkungan (kimia dan fisik) karena terjaga oleh kerapatan tulang.

Permasalahan timbul ketika tulang sudah berusia terlalu tua dan pernah terbakar. Adanya kotoran-kotoran yang menempel pada tulang yang tua atau struktur DNA tulang yang rusak karena terbakar menyebabkan proses analisis terhambat. Pada proses PCR, seperti yang kita ketahui haruslah menggunakan DNA yang murni tanpa adanya indikasi zat penghambat. Kenyataannya, proses ini tidak berjalan sempurna karena adanya PCR inhibitor.

Pada jurnalnya, Jian Ye dkk (2004), melakukan pengembangan metode untuk menghilangkan keberadaan PCR inhibitor dengan cara menggunakan buffer ektraksi yang tepat seperti buffer CTAB (cetyl triethyl ammonium bromide) dan isoamyl alcohol-chlorofrrom. Sebenarnya larutan buffer CTAB adalah deterjen bermuatan kation yang dapat menghancurkan dinding dan membran sel. Sehingga proses ektraksi dapat berjalan dengan sempurna. Larutan isoamyl alcohol-chloroform digunakan untuk mensterilisasi sampel tulang dan proses ekstraksi menggunakan metode phenol-chloroform extraction.

Selanjutnya bagaimana cara untuk menghilangkan PCR inhibitor?? Proses dilanjutkan dengan metode purifikasi menggunakan 2 jenis kit yaitu DNA IQTM dan QIAquickTM. Tahap terakhir untuk mendapatkan hasil analisa tulang tua atau tulang yang terbakar adalah dengan STR genotyping dengan PCR sehingga didapatkan hasil yang signifikan terhadap multipleks STR genotipe dan kualitas DNA yang tinggi.

So, sekilas ini review yang bisa saya share kepada pembaca setia blog ini. Penasaran untuk membaca lengkap jurnal yang diatas.. saya berikan link untuk diunduh: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15317190

Stella ♥

100801174


3 responses to “tulang tua.. tulang terbakar.. ???”

  1. RUSMA YULITA says:

    bagaimana untuk preparasi sampel nya sendiri? senyawa apa yg biasanya digunakan untuk preparasi tsb stel?

  2. Redita Tonapa says:

    Artikel yang menarik 😀
    Maaf masih bingung, jadi yang menyulitkan proses identifikasi DNA itu adalah kotoran akibat spesimen telah tua dan terbakar ataukah PCR inhibitornya? PCR inhibitor itu secara alami ada atau tidak pada DNA? Terima kasih 😀

  3. Fabianus says:

    Artikel yang menarik. Teknologi sudah pernah diaplikasikan pada apa saja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php