Edwin Gotama

Whale Shark, The gentle giant of deep sea

Posted: December 3rd 2017

Hiu Paus (Rhincodon typus) atau whale shark adalah salah satu spesies hiu pemakan plankton. Hiu paus juga merupakan spesies hiu terbesar dengan ukuran rata-rata sekitar 97 meter dan bobot 9 ton. Selain sebagai spesies hiu terbesar, hiu paus juga merupakan hewan vertebrata non mamalia terbesar. Sebagai pemakan plankton, hiu paus memiliki mulut yang besar dengan lebar hingga 15 meter yang berisi 10 lembar penyaring dengan 300-350 gigi kecil.

Hiu paus memiliki kepala yang lebar dengan dengan 5 pasang insang berukuran besar dan di ke-2 sisi tubuhnya terdapat 3 buah gigir yang memanjang. Tubuhnya berwarna keabu-abuan dengan perut putih dan terdapat pola bintik-bintik dan garis kuning keputih-putihan yang membentuk pola kotak-kotak. Hiu paus adalah hewan yang jinak meskipun ukuran tubuhnya besar. Terkadang, hiu paus membiarkan para penyelam menunggangi tubuhnya dan karena gerakan hiu paus yang cenderung lambat, para penyelam dapat berenang bersama hiu paus

Gambar 1. Perbandingan ukuran hiu paus dengan hiu lain

Klasifikasi hiu paus adalah:

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Chondrichthyes
Order: Orectolobiformes
Keluarga: Rhincodontidae
Genus: Rhincodon
Spesies: Rhincodon typhus

Hiu paus tersebar di perairan yang hangat, tidak lebih dari 30° lintang utara atau lintang selatan sehingga dapat dijumpai di Samudera Atlantik, Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Hiu paus dapat menyelam hingga kedalaman 1286 m. Di Indonesia sendiri, hiu paus sering ditemui di Papua, Maluku, Sulawesi Utara, Flores, Alor, Nusa Tenggara, Bali, Probolinggo, Situbondo, Berau, Kalimantan Barat, dan Sabang. Indonesia merupakan salah satu jalur migrasi hiu paus. Salah satu lokasi favorit untuk melihat hiu paus adalah di perairan Kwatisore, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua Barat. Di tempat ini, hiu paus hadir sepanjang tahun.

Gambar 2. Peta persebaran hiu paus di Indonesia

Di Indonesia sendiri, hiu paus terdapat di taman nasional teluk cendrawasih tepatnya di perairan kwatisore di distrik Yaur. Taman nasional teluk cendrawasih adalah taman nasional dengan luas 1.453.500 hektare. Taman nasional ini meliputi pulau Mioswaar, Nusrowi, Roon, Rumberpon dan Yoop. Dalam taman nasional yang terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%) ini, terdapat sedikitnya  456 spesies karang, 877 spesies ikan karang dan sekitar 42 satwa berstatus dilindungi.

Menurut IUCN Redlist, Hiu paus termasuk dalam spesies yang langka (endangered). Ancaman utama kepada hiu paus adalah penangkapan baik sengaja ataupun tidak serta tabrakan dengan kapal. Penangkapan hiu paus secara tidak sengaja dapat terjadi karena hiu paus berada di dekat permukaan laut sehingga hiu paus terjerat oleh jaring nelayan yang sedang melaut. Tabrakan hiu paus dengan kapal juga dapat terjadi karena hiu paus yang sedang mengambil nafas di permukaan laut. Peristiwa ini jarang dilaporkan karena biasanya hiu paus langsung mati. Sejak 20 Mei 2013, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) mengeluarkan status perlindungan penuh terhadap hiu paus melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (KepMen KP) No. 18 Tahun 2013.

Untuk dapat menjaga, mengetahui pola persebaran dan migrasi hiu paus dapat dilakukan pemasangan pelacak pada hiu paus. Penandaan hewan laut dapat memberikan berbagai informasi seperti perkiraan posisi, kedalaman air, temperatur dan berbagai faktor lingkungan. Untuk hiu paus sendiri, penandaan berfungsi untuk mengetahui pola dan jangkauan pergerakan, serta kedalaman, kondisi geografi dan hidrogeografinya. Terdapat beberapa jenis penanda yang dapat digunakan untuk hiu paus, yaitu PAT (Pop-up archival tags) dan SPOT (Smart position or transmitting tags). 

Pemasangan PAT pada hiu paus dapat dilakukan pada bagian sirip dorsalnya dengan menggunakan tombak penanda. Setelah pemasangan, PAT dapat memberikan informasi dengan cara merekam dan menyimpan tingkat cahaya sekitar, kedalaman dan suhu pada interval waktu tertentu. Ketika pengamatan telah selesai, PAT dapat melepas sendiri dari hiu dan mengapung ke permukaan. PAT sangat optimal untuk pengukuran kedalaman atau pelacakan pergerakan skala besar.

Gambar 3. Pemasangan PAT dengan menggunakan tombak penanda

Sedangkan pemasangan SPOT pada hiu paus dapat memberikan data pergerakan horizontal yang dapat dianalisis pada resolusi yang lebih tinggi daripada PAT. SPOT dapat dipasang pada sirip dorsal hiu, tetapi pemasangan SPOT mengharuskan hiu ditangkap dan dikeluarkan dari air sedangkan SPOT dipasangkan dengan menggunakan panah.

Gambar 4. Pemasangan SPOT pada sirip dorsal hiu

Rencana aksi konservasi untuk para hiu paus ini adalah dengan pemasangan penanda pada para hiu paus yang ditemui pada teluk kwatisore. Pemasangan penanda dapat memberikan berbagai pengetahuan tentang sifat dan perilaku hiu paus, seperti kedalaman menyelam, preferensi suhu perairan, siklus migrasi, dll. Penanda juga dapat membantu memantau jumlah hiu paus yang masih terjaga di taman nasional dengan memberikan informasi posisi hiu paus, apabila tidak terdapat perubahan posisi, patut dicurigai hiu paus telah mati baik secara sengaja atau tidak sengaja.

Selain memberikan informasi, pemberian penanda pada hiu paus dapat secara tidak langsung memberikan bantuan kepada para penjaga taman nasional teluk cendrawasih. Setelah pemasangan penanda, para penjaga taman nasional juga perlu diedukasi tentang bagaimana membaca data yang diperoleh dari penanda. Dari data yang telah diperoleh, para penjaga taman nasional dapat membuat dan memperkirakan titik-titik dan rute penjagaan sehingga tidak terdapat perburuan yang disengaja. Selain itu, para penjaga taman nasional juga daat menetapkan jenis kapal, jenis jaring serta wilayah dan zona penangkapan ikan, untuk menghindari resiko tertangkapnya hiu paus.

Selain diberikannya penanda, perlu juga diadakan edukasi bagi warga yang bertempat tinggal di kawasan teluk kwatisore dan taman nasional teluk cendrawasih. Pemberian edukasi bagi warga bertujuan supaya para warga mampu lebih mengerti akan hiu paus dan potensinya sebagai tujuan pariwisata. Dengan pemahaman tersebut, penangkapan atau perburuan hiu paus dapat dikurangi karena para warga memiliki kesadaran untuk melindungi hewan tersebut.

 

Daftar Pustaka

Hammerschlag, N., Gallagher, A.J., dan Lazzare, D.M. 2011. A review of shark satellite tagging studies. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 1 (1): 1-8.

https://www.wwf.or.id/?60002/Berinteraksi-dengan-Hiu-Paus-Ada-Aturannya-Lho

http://www.ranselkosong.com/2017/02/hiu-paus-di-teluk-cenderawasih-nabire.html

Laplanche, C., Marques, T.A., dan Thomas, L. 2015. Tracking marine mammals in 3D using electronic tag data. Methods in Ecology and Evolution 1 (1): 1-10.

Ryan, J.P., Green, J.R., Espinoza, E., dan Hearn, A.R. 2017. Association of whale sharks (Rhincodon typus)
with thermo-biological frontal systems of the eastern tropical Pacific. PLOS One 1 (1): 1-22.

 

 


4 responses to “Whale Shark, The gentle giant of deep sea”

  1. paulinenathania says:

    Sudah baik sekali hasil dari info tentang hiu paus.
    Dari artikel ini saya jadi lebih mengerti bahwa tidak semua hiu itu berbahaya hanya karena sebagian besar mereka carnivora.
    Aksi sudah sangat terencana dengan baik dan berharap bisa dilaksanakan.

  2. Christy Jacub says:

    Artikelnya bagus, lengkap, runut. Judul dan formatnya juga sudah bagus. Mungkin yang bikin penasaran adalah: Seberapa berhasil dan efektif pemantauan dengan penanda pada hiu paus yang masih ada ?
    Mungkinkah penada yang digunakan dapat dimanfaatkan untuk menghindari tabrakan antara kapal dan hiu paus ?

  3. victorronald says:

    artikel ini menurutku cukup padat dan jelas dalam memberikan informasi tentang keadaan hiu paus saat ini, ternyata hiu paus memerlukan tracking system untuk memantau kehidupan mereka dengan tujuan pelestarian lebih lanjut, semoga personal action planmu dapat direalisasikan suatu saat untuk melindngi dan melestarikan species hiu paus…

  4. ferry says:

    hiu paus adalah ikan hiu kesukaanku, sehingga aku sangat sedih karena hiu paus sendiri untuk saat ini tergolong spesies yang dilindungi karena banyaknya faktor yang menyebabkan matinya hiu paus. langkah konservasi yang dilakukan juga cukup bagus karena menurut pendapatku sendiri langkah konservasi tersebut dapat membuahkan hasil yang memuaskan karena dapat melacak hiu tersebut secara langsung. Isi dari blog ini cukup simpel tapi berisi sehingga memudahkan untuk dilihat dan enak dibaca sampai akhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php