donnyfranklyn

Si Raja Hutan Yang Galau

Posted: December 4th 2015

Kucing Besar Terakhir Di Jawa adalah Macan Tutul Jawa atau dalam bahasa latinnya adalah Panthera pardus melas. Merupakan satu – satunya simbol Raja Hutan terakhir yang tersisa setelah punahnya Harimau Jawa. Macan Tutul Jawa ( Java Leopard ) merupakan satu dari sembilan subspesies Macan Tutul ( Panthera pardus ) di dunia yang merupakan satwa endemik pulau Jawa.

p.txth

Code: Status konservasi KRITIS Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Carnivora

Famili: Felidae

Genus: Panthera

Spesies: P. pardus

Upaspesies: P. p. melas

Nama trinomial Panthera pardus melas Cuvier, 1809

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) merupakan satwa yang dilindungi dan telah masuk dalam Redlist IUCN dengan kategori Critically Endangered serta termasuk dalam Appendix I CITES. Macan tutul Jawa hanya ditemukan di Pulau Jawa, Pulau Kangean, Pulau Nusakembangan dan Pulau Sempu. Di Provinsi Jawa Tengah, macan tutul Jawa sedang mengalami kehilangan habitat, degradasi kualitas habitat dan fragmentasi habitat sehingga populasinya terancam punah. Padahal setelah Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) punah, macan tutul jawa menduduki puncak rantai makanan (trophic level), sehingga merupakan spesies kunci (keystone species) dalam ekosistem hutan di Pulau Jawa.

Macan tutul jawa Panthera pardus melas Cuvier punya habitat asli di hutan primer dengan daya jelajah hingga 16 kilometer persegi per ekor dan mempunyai dua variasi yaitu Macan Tutul berwarna terang dan Macan Tutul berwarna hitam yang biasa disebut dengan Macan Kumbang. Meskipun berwarna berbeda, kedua kucing besar ini adalah subspesies yang sama. Dibandingkan subspesies macan tutul lainnya, Macan Tutul Jawa ( Panthera pardus melas ) mempunyai ukuran relatif kecil. Panjang tubuh berkisar antara 90 – 150 cm dengan tinggi 60 – 95 cm. Bobot badannya berkisar 40 – 60 kg. Subspesies Macan Tutul yang menjadi satwa endemik pulau Jawa ini mempunyai khas warna bertutul – tutul di sekujur tubuhnya. Pada umumnya bulunya berwarna kuning kecoklatan dengan bintik – bintik berwarna hitam. Bintik hitam di kepalanya berukuran lebih kecil. Macan Tutul Jawa betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan. Para ahli menduga perbedaan warna tersebut disebabkan oleh pigmen melanistik.

p.txt

Macan Tutul Jawa ( Panthera pardus melas ) sebagaimana macan tutul lainnya adalah binatang nokturnal yang lebih aktif  di malam hari. Kucing besar ini termasuk salah satu binatang yang pandai memanjat dan berenang. Macan Tutul Jawa adalah binatang karnivora yang memangsa buruannya seperti kijang, monyet ekor panjang, babi hutan, kancil dan owa jawa, landak jawa, surili dan lutung hitam. Kucing besar ini juga mampu menyeret dan membawa hasil buruannya ke atas pohon yang terkadang bobot mangsa melebih ukuran tubuhnya. Perilaku ini selain untuk menghindari kehilangan mangsa hasil buruan, selain itu juga untuk penyimpanan persediaan makanan.

Konservasi Macan Tutul Jawa. Kucing besar ini termasuk satwa yang dilindungi dari kepunahan di Indonesia berdasarkan UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999. Oleh IUCN Red list, Macan Tutul Jawa ( Panthera padus melas ) digolongkan dalam status konservasi “Kritis” ( Critically Endangered ). Selain itu juga masuk dalam dalam CITES Apendik I yang berarti tidak boleh diperdagangkan. Jumlah populasi Macan Tutul Jawa tidak diketahui dengan pasti. Data dari IUCN Redlist memperkirakan populasinya di bawah 250 ekor ( 2008 ) walaupun oleh beberapa instansi dalam negeri terkadang mengklaim jumlahnya masih di atas 500 – an ekor.

Macan Tutul Jawa ( Panthera pardus melas ) atau macan kumbang merupakan salah satu subspesies dari macan tutul yang hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi Pulau Jawa, Indonesia. Dibandingkan macan tutul lainnya, jenis ini paling kecil dan memiliki indra penglihatan serta penciuman yang tajam. Populasi Macan Tutul Jawa ini tersebar di beberapa wilayah yang berbeda seperti di Taman Nasional ( TN ) Ujung Kulon, TN. Gunung Halimun Salak, TN. Gunung Gede, Hutan Lindung Petungkriyono Pekalongan, dan TN. Meru Betiri Jawa Timur.

1259421macan-tutul-jawa300x400

Perilaku ini selain untuk menghindari kehilangan mangsa hasil buruan, selain itu juga untuk penyimpanan persediaan makanan. Meskipun masa hidup di alam belum banyak diketahui tetapi di penangkaran, Macan tutul dapat hidup hingga 21-23 tahun. Macan tutul yang hidup dalam teritorial (ruang gerak) berkisar 5 – 15 km2. Bersifat soliter, tetapi pada saat tertentu seperti berpasangan dan pengasuhan anak, macan tutul dapat hidup berkelompok. Macan tutul jantan akan berkelana mencari pasangan dalam teritorinya masing-masing, di mana tiap daerah tersebut ditandai dengan cakaran di batang kayu, urine maupun kotorannya.Macan tutul betina umumya memiliki anak lebih kurang 2-6 ekor setiap kelahiran dengan masa kehamilan lebih kurang 110 hari. Menjadi dewasa pada usia 3-4 tahun. Anak macan tutul akan tetap bersama induknya hingga berumur 18-24 bulan.

Dalam pola pengasuhan anak, kadang-kadang macan tutul jantan membantu dalam hal pengasuhan anak. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkapkan, saat ini tingkat ancaman terhadap Macan Tutul Jawa cukup tinggi. “Ancaman tersebut ditandai dengan semakin hilangnya habitat alami, fragmentasi habitat serta menurunnya satwa mangsanya,” kata Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan di Bogor. Macan Tutul Jawa (panthera pardus melas) merupakan jenis kucing besar terakhir yang hidup di Jawa setelah Harimau Jawa (panthera tigris sundaica) dinyatakan punah pada tahun 1980an.

“Saat ini populasi satwa yang dilindung ini (Macan Tutul Jawa) tidak lebih dari 500 ekor yang tersebar di seluruh Pulau Jawa,” katanya pada Konferensi Macan Tutul Jawa. Keberadaan satwa langka tersebut di alam, lanjutnya, sangat tergantung pada kondisi habitat dan kelimpahan mangsa, terutama satwa ungulata seperti kijang, rusa, babi dan kancil. Kehilangan habitat, menurut Zulkifli, juga sering diikuti dengan terjadinya konflik antara manusia dengan macan tutul jawa. Sebagian besar berakhir dengan kematian satwa ini.
Oleh karena itu Menhut menegaskan upaya konservasi macan tutul jawa dan habitatnya harus menjadi prioritas. Kawasan-kawasan hutan yang ada di Pulau Jawa selain di kawasan konservasi antara lain yang dikelola Perhutani, tambahnya, agar dapat dijadikan salah satu tempat yang aman dan memadai bagi kelangsungan populasi Macan Tutul Jawa.

Melihat kenyataan yang ada maka perlu disusun suatu rencana guna meningkatkan upaya penyelamatan Macan Tutul dan habitatnya. Bahkan pada kondisi ideal, masyarakat lokal adalah pemeran utama dalam upaya pelestarian dan penyelamatan ini. Hal ini bisa tercapai jika masyarakat mempunyai tingkat pemahaman, kepedulian dan kemampuan yang cukup dalam upaya pelestarian dan penyelamatan Macan Tutul. Dari penyebab kepunahan yang sudah jelaskan sebelumnya, saya sebagai seorang mahasiswa memiliki rencana tindakan nyata yang peduli dengan konservasi satwa ini, agar kelestarian populasi macan tutul jawa tetap terjaga, rencana tidakan personal yang saya lakukan, antara lain:

  • Mempelajari lebih dalam tentang macan tutul Jawa, serta menambah informasi tentang konservasi macan tutul Jawa baik pada lokasi konservasi maupun cara konservasi, dan selalu mengikuti perbaharuan data populasi macan tutul Jawa baik dari membaca jurnal, buku, maupun internet, serta website instansi-instansi terkait yang bergerak dibidang konservasi macan tutul/harimau.
  • Mengikuti Training Conservation Online di website salah satu intansi konservasi bernama “HarimauKITA”. Pada situs ini kita dapat mengetahui secara rinci dan detail bagaimana cara konservasi, pengamatan dilapangan, dan pendekatan terhadap harimau/macan tutul di alam.
  • Ikut serta dalam kegiatan LSM/Instansi/lembaga konservasi macan tutul. Hal ini bertujuan agar teori yang selama kita pelajari, bukanlah teori semata, tetapi juga ada praktik, supaya lebih paham lagi tentang konflik manusia dengan macan tutul jawa, yang selama ini menjadi penyebab utama kepunahan macan tutul jawa.
  • Mengikuti kegiatan penanaman/reboisasi hutan. Dengan mengikuti kegiatan semacam ini, dapat membantu memperbaiki habitat untuk mahkluk hidup yang berketergantungan pada hutan, harapannya yaitu semoga dengan mereboisasi macan tutul Jawa dan hewan lainnya tidak terisolasi, dan populasi tetap terjaga jika mereka tidak terisolasi dan tidak kekurangan mangsa/makanan.
  • Mengikuti seminar yang berkaitan dengan konservasi. Siapa tau dengan mengikuti seminar, selain dapat menambah wawasan, kia juga dapat informasi mengenai kegiatan-kegiatan pengamatan atau konservasi yang akan diselenggarakan lembaga/forum/komunitas/LSM/instansi yang khusus bergerak dibidang konservasi macan tutul jawa dari rekan-rekan yang hadir di seminar tersebut.
  • Tidak membuang sampah sembarangan dan mengotori lingkungan. Jika kita merawat alam dengan baik, maka ekosistem seimbang.

Semoga dengan membuat Action Plan tersebut, saya pribadi terlebih dahulu bisa menjalaninya setelah saya berhasil menjalaninya mungkin langkah selanjutnya saya yaitu mencoba merealisasikan kepada masyarakat local dan non local. Dengan langkah awal yaitu memberikan penyuluhan atau pengenalan awal pada macan tutul Jawa tersebut. Pada intinya saya sebagai mahasiswa yang baik mencoba untuk merealisasikan kepada diri saya sendiri dulu baru kepada masyarakat sekitar


10 responses to “Si Raja Hutan Yang Galau”

  1. julioalexander says:

    bagus, semoga bisa dibiakkan supaya populasinya meningkat

    • donnyfranklyn says:

      Trimakasih saudara Alex atas komentar dan pujian nya. Apa yang sudah di semogakan dengan kamu, action plan ku ini dapat di wujudkan dan dapat berhasil. Amiiinnn!!!

  2. Hallo Donny!
    Terimakasih atas upayamu yaaa…
    Kami tunggu realisasinya lebih lanjut di dalam kelompok masyarakat lokal dan non lokal…
    Penyuluhan dan pengenalan mungkin akan menimbulkan daya tarik jugaaa 🙂
    Keep writing! Proficiat 😉

    • donnyfranklyn says:

      Hallo juga Monica!
      Iya sama-sama, trimakasih juga sudah mau membaca dan memberikan komentar di blog ku. Ya semoga saja semua dapat terealisasikan yaaa. amiiiiiinnn

  3. martha24 says:

    Artikel yang sangat informatif. Semoga upaya konservasi atau plan action yang anda paparkan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan adanya 😀 Semangat konservasi !!!

    • donnyfranklyn says:

      Trimakasih sudah mau membaca dan memberikan saran komen di blog ku. Siap semoga dengan membuat action plan ini aku bisa mewujudkan nya, dengan cara ya pertama menggerakkan diri sendiri dulu baru di aplikasikan kepada orang lain.

  4. watimena nababan says:

    rencana yang baik, namun belum disebutkan waktu kan dilaksanakan rencana-rencana tersebut. kira-kira kapan kamu akan memulai aksi ini ?

    • donnyfranklyn says:

      Oh iya aku lupa untuk menentukan kapan untuk memulai planing ku ini. Trimakasih sudah mau komen dan mengingatkan aku. Rencana ku mungkin setelah memiliki pekerjaan dan tentunya harus memiliki uang. Zaman sekarang jika tidak memiliki uang tidak akan bisa berbuat apa-apa. Begitu saudari Mena

  5. ayutiya95 says:

    Bagus Don, semoga melalui tulisanmu ini, banyak orang yang sadar untuk melindungi flora/fauna yang terancam punah. Semoga macan Tutul Jawa ini dapat bertahan menjadi raja hutan 😀

  6. destri says:

    Ulasan yang menarik dan usaha pelestarian yang simpel Donny. Mungkin lebih baik bila ditambahkan usaha dengan cara inseminasi buatan sehingga macan tutul dapat menghasilkan anak yang banyak sehingga populasinya dapat dipertahankan.. Semangat untuk rencana yang akan dijalankan ya Donny, Semoga berjalan sesuai rencana 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php