Youth Gone Wild

Start Conservation from Ourself

Posted: November 30th 2018

Tahukah kalian?

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, salah satunya adalah spesies kodok Bornean Flatheaded Frog (Barbourula kalimantanensis) yang mana kodok ini berbeda dengan kodok pada umumnya. Apa bedanya? kodok ini satu-satunya di dunia yang tidak memiliki paru-paru (Bickford dkk., 2008). Terus napasnya pake apa dong? Jadi kodok ini memenuhi kebutuhan oksigen lewat kulit. Djoko Iskandar dari ITB (1978), merupakan penemu dari spesies kodok ini dan tidak menyanya kalo ternyata kodok ini tidak memiliki paru-paru. Seorang biologis bernama David Bickford dari National University of Singapore, secara tidak sengaja membedah kodok ini dan mengetahui bahwa ternyata kodok ini tidak memiliki paru-paru.

Hasil Evolusi

Menurut David, kodok ini merupakan hasil kejadian evolusi dimana hanya salamander saja yang bisa dibilang “minim” atau bahkan tidak punya paru-paru. Kodok ini tinggal di sungai yang relatif dangkal, dingin, aliran air deras , jernih, dan berbatu. Diketahui bahwa air dingin memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah dibanding air hangat. Meskipun kodok ini tidak memiliki paru-paru tidak perlu khawatir kebutuhan oksigennya tetap terpenuhi karena metabolic rate kodok ini rendah sehingga oksigen yang diperlukan tidak banyak dan dengan ketidak-adanya paru-paru membuat kodok ini mampu menghadapi kondisi lingkungan dimana dia bisa terapung mengikuti arus air sungai.

Bagaimana Status Keberadaannya sekarang?

Menurut IUCNredlist.org spesies ini terancam “Endangered”.

 

Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?

Terus menurunnya tingkat dan kualitas habitatnya, membuat populasi kodok ini ikut menurun. Faktor seperti penebangan liar dan penambangan emas menjadi faktor utamanya. Kegiatan penambangan emas liar membuat sungai penuh endapan lumpur serta cemaran raksa yang digunakan dalam proses ekstraksi emas. Logam Hg merupakan logam beracun bila masuk ke dalam sel makhluk hidup yang biasanya dalam bentuk metilmerkuri. Endapan lumpur juga dapat terjadi karena deforestasi ekosistem sekitar. Lapisan lumpur tipis akan terbentuk dan membunuh organisme bentik di dasarnya. Kodok ini biasa makan organisme bentik seperti udang-udangan kecil ataupun larva dari Trichoptera dan Dytiscidae yang membutuhkan makanan dari alga tetapi mati karena tertutupi lapisan lumpur tipis.

Belum lagi ditambah adanya penebangan pohon di daerah aliran sungai, menyebabkan suhu airnya menjadi lebih hangat daripada suhu air sungai yang tidak terjadi penebangan. Sekali lagi suhu air menjadi kontrol kritis bagi kodok ini karena keterkaitannya dengan kondisi oksigen terlarut yang sangat dibutuhkan.

Spesies ini juga dikumpulkan dan digunakan oleh masyarakat setempat untuk subsisten dan mewakili simbol perlindungan (Lokakarya Penilaian Daftar Merah Indonesia Mei 2017). Perubahan iklim juga menjadi ancaman terhadap spesies ini, sementara spesifisitas habitat dan variabilitas genetik yang rendah dapat membuat spesies ini lebih rentan terhadap perubahan lingkungan (Rachmayuningtyas dkk., 2011).

Tindakan Konservasi

Saat ini perlindungan secara hukum dari spesies ini oleh pemerintah Indonesia sendiri hanya dalam tingkat di”rekomendasikan”. Masih perlu kajian penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan informasi untuk keperluan distribusi spesies, status populasi, ekologi, dan ancaman.

Lalu bagaimana dong cara konservasi yang bisa dilakukan? Aksi perlindungan terbaik yang bisa dilakukan adalah melindungi habitat aslinya dengan mencegah penambangan liar dan penebangan pohon. Ah malas jauh nih, saya kan berada di daerah A, B, atau C, sedangkan kodok itu ada di Kalimantan. Tidak menutup kemungkinan kita yang berada di lokasi yang jauh ini juga mampu untuk turut “menyelamatkan” ekosistem si kodok di sana. Masih bingung gimana? Gini deh, masih ingat ‘kah kalian yang suka mengeluh kepanasan gara-gara di ruangan tidak ada AC, sebenarnya kita sebagai manusia diciptakan masih bisa bertahan dikondisi seperti itu hanya saja kita sering “manja”. Coba deh dikurangi-kurangi “manjanya”. Bayangkan si kodok yang kondisinya notabene perlu suhu dan kondisi yang “ribet”. Ketika air sungainya berubah menjadi sedikit hangat saja bisa memengaruhi kadar oksigennya.

Selain itu terkait penggunaan kertas, kita sebagai mahasiswa banyak sekali memakai kertas untuk  “nge-print”. Bisa dong kita meminimalkan penggunaan kertas. Salah satu caranya dengan mencatat menggunakan gadget/laptop toh jaman sekarang semuanya sudah serba teknologi modern kan(?). Nah dengan mengurangi konsumsi kertas, kita bisa mencegah penebangan pohon dimana kita tau, kertas berasal dari bahan baku kayu yang asalnya dari pohon.

Saya sendiri sudah mulai melakukan hal-hal yang sekiranya disepelekan seperti berjalan kaki jika jaraknya dekat. Loh kok jalan kaki, Go-Jek kan banyak? Berjalan kaki = tidak ada polusi yang berasal dari pembakaran bahan bakar minyak yang ditimbulkan sekalian ngehemat BBM. hehehe. Selain itu lumayan lah sekalian olahraga supaya tubuh bergerak.

Ketika membutuhkan coret-coretan atau mengeprint materi, saya membiasakan diri untuk mempergunakan kertas bekas atau mencetaknya bolak balik sudah cukup berarti untuk dilakukan sebagai langkah awal menuju bumi lebih sehat ^^9. Dari beberapa kegiatan yang saya sampaikan merupakan sedikit dari banyak kegiatan yang dapat dilakukan, tidak memaksa kalian harus melakukan seperti yang saya lakukan. Kalian bisa melakukan sesuai kemampuan kalian.

Sudah mengerti kan apa yang bisa dilakukan mulai dari sekarang untuk menyelamatkan banyak hewan dan tumbuhan diluar sana yang tidak diketahui keberadaannya dan terganggu karena kehidupan manusia? So, what will you do?

Referensi

Bickford, D., Iskandar, D. and Barlian, A. 2008. A lungless frog discovered on Borneo. Current Biology 18(9): R374-R375.

IUCN. 2018. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2018-2. Available at: www.iucnredlist.org. (Accessed: 15 November 2018).

Rachmayuningtyas, B.A., Bickford, D.P., Kamsi, M., Kutty, S.N., Meier, R., Arifin, U., Rachmansah, A. and Iskandar, D.T., 2011. Conservation status of the only lungless frog Barbourula kalimantanensis Iskandar, 1978 (Amphibia: Anura: Bombinatoridae). Journal of Threatened Taxa 3(8): 1981-1989.


26 responses to “Start Conservation from Ourself”

  1. Desideria says:

    Action plan yang dilakukan sangat mengena dan bermanfaat walaupun aksi kecil2
    Semoga bisa terus dikembangkan sampai aksi besar

  2. Chris says:

    sangat membuka wawasan.

  3. Wardhana says:

    Sangat bermanfaat, semoga kedepan bisa ditambah scr detail informasi bagi org awam dapat cpt memahaminya

  4. hryo says:

    Action plan sangat bagus dan bermanfaat kak, dimana kita diajak untuk membantu menyelamatkan satwa yang terancam dengan melakukan hal-hal yang terbilang simple dilakukan

    • Disa Fabiana says:

      Terimakasih, mari kita bantu kelestarian habitat spesies-spesies terancam tidak hanya kodok saja karena masih banyak spesies lain yang juga memerlukan perhatian dengan melakukan hal kecil di sekitar kita ^^9

  5. Elsa says:

    Aksi kecil namun sangat bermanfaat.
    Tetaplah membumi

  6. Misael Adenis says:

    Mungkin bukan bidang ku kalo ngomongin soal ini, tapi setelah dibaca-baca menarik juga dan ya membuka pikirin untuk ikut “menyelamatkan” hewan atau tumbuhan, mungkin dg cra sederhana yg telah di paparkan diatas 🙂
    Bahasanya sedikit diganti ya yg orang awam paham ✌️

  7. henrydharmai says:

    Wah, baru tau ada frog yang ga punya paru-paru. ini bagus dan sedih ternyata sudah terancam karena aktifitas pertambangan 🙁

  8. jesicaadenr says:

    Sederhana, tapi menarik.

  9. Yohana Primadewi says:

    Penggunaan kertas berlebian bisa mengganggu hewan kecil tersebut? Wahh, action plan yang keren nih, simpel tapi berpengaruh banyak. Keep it Going!

  10. Verchiel says:

    berawal. dari aksi sederhana tetapi dapat menyelamatkan hewan yang terancam punah. tetap semangat untuk aksi lainnya.

  11. vivi says:

    sangat bermanfaat nii buat bumi

  12. Helena says:

    Artikel yang sangat bagus dan bermanfaat. Semoga menjadi inspirasi untuk melakukan perubahan melalui suatu tindakan sederhana dalam menyelamatkan bumi.

  13. edytha says:

    cukup menarik artikelnya dan tidak membosankan. Semoga kita bisa lebih aware thd hewan punah

  14. Merry R says:

    Wah, satwa yang hidup di air memang sangat menarik untuk dibahas karena sebenarnya upaya yang dilakukan untuk menjaga habitatnya sangatlah simpel. Terimakasih ya informasinya!

  15. Bahsa yang disampaikan dalam menyampaikan informasi sederhana dan mudah dipahami. Informasi yang disampaikan pun menambah pengetahuan terhadap spesies yang tidak banyak orang ketahui. Semoga kita sebagai generasi muda bisa memulai gerakan action plan untuk konservasi sederhana yang sudah direncanakan ini.

  16. THE TEA IS HOT says:

    Good

  17. inggridrosalia says:

    Informasi yang disampaikan sangat informatif dan topik hewan konservasi yang dibahas cukup menarik karena sangat jarang didengar adanya konservasi dari hewan kodok.

  18. Yovie Santoso says:

    Langkah baik untuk pelestarian kodok ini.. semangat jalani aksimu!

  19. agathachandra says:

    wahh menarik sekali artikel ini, sangat kreatif dan informatif action plannya juga sangat spesifik

  20. Afyn Samara says:

    Langkah kecil yang bagus untuk menjaga bumi tetap sehat 🙂

  21. novalinda08 says:

    Dimulai dari hal kecil dan sederhana secara konsisten untuk menghasilkan dampak yang luarbiasa. Semangat!!

  22. brigittajosephine12 says:

    Saya setuju upaya konservasi memang dapat dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana disekitar dan yang biasa kita lakukan, ayo tetap semangat berkonservasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php