dionysiahevi

Aku Si Mungil Bertanduk

Posted: August 27th 2016

Spesies dan Deskripsi

Rusa Bawean – merupakan hewan endemik Jawa Timur (hanya ditemukan di Jawa Timur), tepatnya di Pulau Bawean yang masuk dalam kabupaten Gresik. Rusa Bawean pertama kali diidentifikasi pada tahun 1845 sebagi Cervus Kuhlii Bemmel menyebutkan tentang klasifikasi Rusa Bawean adalah sebagai berikut :

9d7b3169298378ceb2f46b5e2e8b9c6a

Ordo : Artiodactyla

Sub ordo : Ruminansia

Infra ordo : Pecora

Famili : Cervidae

Sub family : Cerfinae

Genus : Axis

Spesies : Axis kuhlii

Rusa Bawean ini mendapat julukan sebagai pelari ulung, kerna tubuhnya yang mungil dan dapat bergerak dengan lincah. Ukuran tubuh Rusa Bawean ini relative lebih kecil bila dibandingkan dengan Rusa jenis lainnya. Tinggi tubuh Rusa Bawean antara 60-70 cm, panjang tubuhnya antara 105-115 cm, serta bobot tubuh untuk betina antara 15-25 kg sedangkan rusa jantan antara 19-30 kg. Menurut Subrata dan Jauhar (2007), makanan kesukaan Rusa Bawean adalah kabak-kabakan.

Ciri khas yang dimiliki Rusa Bawean selain tubuhnya yang mungil, rusa ini memiliki ekor sepanjang 20 cm yang berwarna coklat dan keputihan pada lipatan ekor bagian dalam. Warna bulunya sama dengan kebanyakan rusa, cokelat kemerahan kecuali pada leher dan mata yang berwarna putih terang. Bulu pada Rusa Bawean anak-anak memiliki totol-totol tetapi seiring bertambahnya umur, noktah ini akan hilang dengan sendirinya.

Habitat

Rusa Bawean ditemukan di hutan primer dan sekunder. Rusa Bawean menggunakan hutan dengan semak padat untuk berlindung. Spesies ini ditemukan terutama di hutan sekunder, namun memasuki dibakar bukaan berumput selama musim kemarau Rusa Bawean tinggal dihutan sekunder dengan memakan rerumputan ataupun semak yang ada didalamnya. Rusa Bawean terutama malam hari, aktif sebentar-sebentar sepanjang malam. Mereka sangat waspada, dan muncul untuk menghindari kontak dengan orang-orang; di mana aktivitas manusia berat, rusa menghabiskan hari di hutan di lereng curam yang tidak dapat diakses untuk penebang kayu jati. Rusa Bawean kadang-kadang terlihat di pantai di barat daya pulau, tetapi sebaliknya jarang terlihat langsung.

Fisiologi dan Perilaku kawin

Rusa Bawean tidak memiliki musim kawin yang tetap. Rusa bawean memiliki masa kelahiran pada bulan Februari hingga Juni, dengan masa perkawinan antara bulan Juli hingga November. Masa bunting rusa Bawean adalah 7-8 bulan. Saat akan melakukan perkawinan, diawali dengan perkelahian antara pejantan-pejantan rusa Bawean. Bekas gosokan tanduk batang-batang  pohon merupakan petunjuk bagi rusa betina akan adanya sang jantan, sedangan rusa betina akan mengeluarkan cairan dari celah-celah jarinya yang mengandalkan penciumannya.

Populasi dan Status Rusa Bawean di Indonesia.

Pada tahun 2006, populasi liar diperkirakan (berdasarkan lapangan kerja di 1998-2003) menjadi stabil pada 250-300 hewan (Semiadi 2004, G. Semiadi dan S. Pudyatmoko pers. Comm. 2006), tapi belum ada survei sistematis.Hutan sekunder tampaknya menjadi habitat yang ideal, mendukung sampai 19,2 rusa per km 2 . Jati Tectona grandis hutan dengan tumbuhan bawah, hutan primer, dan daerah dengan jati dan dukungan lalang kepadatan 3,3-7,4 rusa per km 2 , sedangkan daerah didominasi oleh Melastoma polyanthum dan Eurya nitida sikat, Rombok Merremia peltata , hutan primer terganggu, dan jati tanpa tumbuhan bawah hanya mendukung 0,9-2,2 rusa per km 2 .

Rusa bawean semakin terancam punah di habitat aslinya. Pada tahun 2008, peneliti LIP menyebutkan jumlah populasi Rusa Bawean yang berkisar 400-600 ekor, sedangkan menurut IUCN, satwa endemik yang mulai langka ini diperkirakan hanya berjumlah 250-300 ekor yang tersisa di habitat aslinya.hal tersebut menyebabkan Rusa Bawean masuk dalam katagori “Kritis” (CR : Critiscally Endangered) atau “sangat ternacam punah”

Penyebab Kelangkaan

Kelangkaan Rusa Bawean ini dikarenakan berkurangnya hanbitat Rusa Bawean. Hutan yang menjadi habitat asliknya kini semakin dirubah menjadi hutan jati yang memiliki sedikit semak-semak. Hal ini menyebabkan berkurangnya sumber makanan untuk Rusa Bawean. Rusa Bawean telah dikenakan perburuan yang tidak terkontrol, mungkin sejak pemukiman manusia terjadi sekitar 500 tahun yang lalu. Selama tahun 1960 banyak hutan di Bawean digantikan oleh perkebunan jati; ditambah dengan peningkatan tekanan perburuan, ini mungkin disebabkan spesies menurun dalam jumlah. Berburu berhenti pada tahun 1977, dan populasi meningkat selama beberapa tahun ke depan. Perburuan babi scrofa Sus dengan anjing berlanjut, dan menyebabkan kematian sengaja rusa, tetapi pada berburu tingkat populasi tidak lagi menjadi ancaman.

Kelangkaannya juga didukung oleh tingkat kelahirannya yang lambat, hanya melahirkan satu ekor anak saja dengan masa kehamilan 225 hingga 230 hari. Kelahiran biasa terjadi antara bulan Februari sampai Juni. Lembaga perdagangan satwa dunia, CITES, melarang perdagangan internasional terhadap Rusa Bawean dalam bentuk apapun yang tertuang pada ‘Appendix I’. Penurunan jumlah populasi ini mendorong berbagai usaha konservasi diantaranya pembentukan Suaka Margasatwa Pulau Bawean seluas 3.831,6 ha sejak tahun 1979. Selain itu untuk menghindari kepunahan sejak tahun 2000 telah diupayakan suatu usaha penangkaran Rusa Bawean (Axis kuhlii).

Penangkaran

Kegiatan manajemen telah mencantumkan penghentian perburuan, pembakaran terkendali dari daerah berumput di dalam hutan, dan penipisan perkebunan jati untuk mendorong pengembangan tumbuhan bawah (Blouch dan Sumaryoto 1987)  Sejak tahun 2000 program penangkaran telah operasi pada Bawean; pada tahun 2006 itu melibatkan populasi pendiri dua rusa dan lima rusa, dan tahun 2014 berjumlah 35 hewan (Meijaard et al.2014). Sekitar 300-350 hewan diadakan di kebun binatang dan fasilitas penangkaran pribadi dari pulau (G. Semiadi pers comm 2006..).

Satu-satunya tempat penangkaran bagi rusa Bawean adalah Desa Pudakit Barat Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Tomur, yang didirikan oleh warga setempat dengan dana pribadi. Salah satu tokohnya adalah Sudirman, yang rela mengeluarkan biaya operasional untuk perawatan dan pengembangbiakan rusa Bawean. Biaya operasional tersebut berkisar Rp 1,5 juta per bulan.

Tindakan konservasi yang direkomendasikan, yang harus dilakukan melalui revisi sesuai dengan rencana pengelolaan, meliputi: 1) Meningkatkan populasi dan jika mungkin memperluas daerah yang digunakan oleh rusa. 2) Menilai dampak rusa pada tanaman karena hal ini dapat menjadi masalah jika perlindungan yang efektif telah memungkinkan populasi meningkat secara substansial, atau invasi Chromolaena

Peraturan

Rusa Bawean (Axis kuhli) termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:

  1. Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  2. Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  3. Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));

Daftar Pustaka

http://rusabawean.com/tentang-rusa-bawean-lengkap.html

https://alamendah.org/2009/12/24/rusa-bawean-pelari-ulung-yang-semakin-kritis/

http://www.iucnredlist.org/details/2447/0

Semiadi, G., Duckworth, JW & Timmins, R. 2015. Axis kuhlii . IUCN Red List of Threatened Species 2015:. E.T2447A73071875 http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2015-2.RLTS.T2447A73071875.en

Subrata, S. A dan Jauhar, M. F. 2007. Tingkat Kesukaan Rusa Bawean (Axis kuhlii) Terhadap Jenis-jenis Tumbuhan Bawah Di Suaka Margastwa dan Cagar Alam Pulau Bawean. Jurnal Ilmu Kehutanan 1(2) : 39-46


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php