Bioforensic

PERANAN BIOLOGI FORENSIK DALAM MENGUNGKAP SUATU TINDAK PIDANA

Posted: December 4th 2018

Perkembangan teknologi serta arus globalisasi di satu sisi dan minimnya tingkat kesejahteraan masyarakat memicu meningkatnya tingkat kejahatan dengan modus dan operandi yang baru. Disisi lain, asas presumption of innocence, menempatkan seseorang yang patut diduga melakukan sebuah tindak kejahatan harus tetap dilindungi hak-haknya. Kedua hal tersebut menuntut pengembangan teknik dan metode pendekatan penyidikan yang baru. Crime Science Investigation (CSI) adalah suatu metode pendekatan penyidikan dengan mengedepankan berbagai disiplin ilmu pengetahuan guna mengungkap suatu kasus yang terjadi. Dengan menggunakan metode CSI, pengakuan tersangka ditempatkan pada urutan terakhir dari alat bukti yang akan diajukan ke pengadilan, sebab metode CSI menitikberatkan analisis yang melibatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan guna mengungkap suatu tindak kejahatan.

Membuat barang bukti (benda mati) atau Tempat Kejadian Perkara (TKP) ‘berbicara’ tentang suatu tindak kejahatan yang terjadi merupakan pokok bahasan dari bidang Forensik. Forensik berasal dari bahasa Latin yaitu ‘forum’ yang berarti tempat untuk melakukan transaksi. Pada perkembangan selanjutnya, forensik diperlukan pada pengungkapan suatu kasus tindak pidana dengan cara menyusun kembali (rekonstruksi) suatu tindak pidana itu dapat terjadi, sudah barang tentu berdasarkan bukti-bukti yang ada. Ilmu Forensik dikategorikan ke dalam ilmu pengetahuan alam dan dibangun berdasarkan metode ilmu alam. Dalam pandangan ilmu alam sesuatu sesuatu dianggap ilmiah jika didasarkan pada fakta atau pengalaman (empirisme), kebenaran ilmiah harus dapat dibuktikan oleh setiap orang melalui indranya (positivesme), analisis dan hasilnya mampu dituangkan secara masuk akal, baik deduktif maupun induktif dalam struktur bahasa tertentu yang mempunyai makna (logika) dan hasilnya dapat dikomunikasikan ke masyarakat luas dengan tidak mudah atau tanpa tergoyahkan (kritik ilmu).     Cabang-cabang ilmu forensik lainnya adalah: kedokteran forensik, toksikologi forensik, odontologi forensik, psikiatri forensik, entomologi forensik, antropologi forensik, balistik forensik, fotografi forensik, dan serologi / biologi molekuler forensik. Biologi molekuler forensik lebih dikenal dengan ”DNA Forensic”.

https://www.forensicscolleges.com/wp-content/uploads/2014/04/West_Midlands_Police.jpg

Sejarah Forensik

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/67/Mathieu_Joseph_Bonaventure_Orfila.jpg/250px-Mathieu_Joseph_Bonaventure_Orfila.jpgDescription de l'image Alphonse Bertillon2.jpg.https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ec/Francis_Galton_1850s.jpg/220px-Francis_Galton_1850s.jpg

(Dari kiri ke kanan : Josep Bonaventura Orfila, Alphonse Bertillon, Francis Galton)

Tercatat pertama kali pada abad ke 19 di Perancis Josep Bonaventura Orfila pada suatu pengadilan dengan percobaan keracunan pada hewan dan dengan buku toksikologinya dapat meyakinkan hakim, sehingga menghilangkan anggapan bahwa kematian akibat keracunan disebabkan oleh mistik.

Sementara itu, Alphonse Bertillon (1853-1914) adalah seorang ilmuwan yang pertama kali secara sistematis meneliti ukuran tubuh manusia sebagai parameter dalam personal indentifikasi. Sampai awal 1900-an metode dari Bertillon sangat ampuh hingga dikenal sebagai bapak identifikasi.

Francis Galton (1822-1911) pertama kali meneliti sidik jari dan mengembangkan metode klasifikasi dari sidik jari. Hasil penelitiannya sekarang ini digunakan sebagai metode dasar dalam personal identifikasi.

 

Image result for Leone Lattes

Leone Lattes (1887-1954) seorang profesor di institut kedokteran forensik di Universitas Turin, Itali. Dalam investigasi dan identifikasi bercak darah yang mengering “a dried bloodstain”, Lattes menggolongkan darah ke dalam 4 klasifikasi, yaitu A, B, AB, dan O. Dasar klasifikasi ini masih kita kenal dan dimanfaatkan secara luas sampai sekarang.

Pada perkembangan selanjutnya, pengertian forensik adalah suatu kesatuan dari beberapa ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membuat terang suatu kasus tindak pidana, sehingga penyidikan yang dilakukan oleh polisi berdasarkan kepada Crime Science Investigation. Pada dekade terakhir muncul banyak sekali sub disiplin ilmu yang mendukung forensik diantaranya Komputer forensik, psikologi forensik, kedokteran forensik, kimia forensik dan biologi forensik. Di bidang Biologi muncul kajian Ilmu entomologi forensik, toksikologi forensik, botani forensik, mikrobiologi forensik, molekuler forensik, dan masih banyak lagi.

 

Sejarah Laboratorium Forensik POLRI

https://s.kaskus.id/images/2015/09/07/2651384_20150907122223.jpg

Perjalanan panjang Laboratorium Forensik POLRI dimulai pada tanggal 15 Januari 1954 dengan dikeluarkan surat Kepala Kepolisian Negara Nomor : 1/VIII/1954, dibentuklah Seksi Interpol dan Seksi Laboratorium, di bawah Dinas Reserse Kriminil. Akan tetapi pada tahun 1960, dengan peraturan Menteri Muda Kepolisian Nomor : 1/PRT/MMK/1960 tanggal 20 Januari 1960, Seksi Laboratorium dipisahkan dari Dinas Reserse Kriminil Markas Besar Polisi Negara dan ditempatkan langsung di bawah Komando dan Pengawasan Menteri Muda Kepolisian dengan nama Laboratorium Departemen Kepolisian.

Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 1963, dengan Instruksi Menteri/Kepala Staf Angkatan Kepolisian No. Pol : 4/Instruksi/1963 tanggal 25 Januari 1963, dilakukan penggabungan Laboratorium Departemen Kepolisian dengan Direktorat identifikasi menjadi Lembaga Laboratorium dan Identifikasi Departemen Kepolisian. Perubahan kembali terjadi pada tahun 1964, dilakukan pemisahan kembali Direktorat Identifikasi dengan Laboratorium Kriminal dengan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian No. Pol : 11/SK/MK/1964 tanggal 14 Pebruari 1964. Pada tahun 1970, Laboratorium Kriminal yang berada langsung dibawah Kepala Kepolisian Negara dikembalikan di bawah Komando Utama Pusat Reserse dengan nama Laboratorium Kriminil Koserse dengan Surat Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Nomor: Skep/A /385/VIII/1970.

Pada tahun 1992 terjadi perubahan nama dari Laboratorium Kriminal menjadi Laboratorium Forensik berdasarkan Surat Keputusan Pangab No. Kep/11/X/1992, tanggal 5 Oktober 1992. Dengan Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/53/X/2002 terjadi perubahan nama dari Korserse menjadi Bareskrim maka sampai sekarang Puslabfor berkedudukan di bawah Bareskrim Polri atau menjadi Puslabfor Bareskrim Polri, dan sampai saat ini Puslabfor telah mempunyai 6 Labforcab yang tersebar di seluruh Indonesia.

  1. Laboratorium Forensik Cabang Surabaya (didirikan tahun 1957)
  2. Laboratorium Forensik Cabang Medan (didirikan tahun 1972)
  3. Laboratorium Forensik Cabang Semarang (didirikan tahun 1982)
  4. Laboratorium Forensik Cabang Makasar (didirikan tahun 1985)
  5. Laboratorium Forensik Cabang Denpasar (didirikan tahun 1999)
  6. Laboratorium Forensik Cabang Palembang (didirikan tahun 1999)

 

https://checklist-magazine.com/wp-content/uploads/2015/09/laboratorium.jpg

Sesuai dengan Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/53/X/2002 pada tiap-tiap laboratorium cabang memiliki empat unit dengan didukung oleh beberapa disiplin ilmu pengetahuan, unit tersebut adalah :

  1. Unit Balistik dan Metalurgi Forensik.
  2. Unit Dokumen dan Uang Palsu Forensik.
  3. Unit Kimia dan Biologi Forensik.
  4. Unit Fisika, Instrumen dan Komputer Forensik.

Sementara itu berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk memeperkuat pemeriksaan di Laboratorium Forensik POLRI antara lain adalah ilmu Biologi, Kimia, Fisika, Metalurgi, Komputer, Teknik Kimia, Teknik Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Elektro, Farmasi, Analis Kesehatan, Kesehatan Masyarakat.

 

http://radarsemarang.com/wp-content/uploads/2015/10/LABFOR-MAPOLDA-ADIT-7-web.jpg

Peranan Ilmu Biologi dalam bidang Forensik

Seperti telah diketahui pada Pasal 184 ayat 1 Kitab Hukum Acara Pidana (KUHP) menyebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah :

  1. Keterangan saksi
  2. Keterangan ahli
  3. Surat
  4. Petunjuk
  5. Keterangan terdakwa

Hal inilah yang menuntuk pemeriksa pada Laboratorium Forensik bekerja, membuat suatu barang bukti, Tempat Kejadian Perkara (TKP), dan petunjuk-petunjuk yang lain dalam suatu kasus tindak pidana untuk ‘berbicara’. Setelah dilakukan pemeriksaan secara in situ (di TKP) maupun ex situ (di laboratorium) maka hasil dari pemeriksaan tersebut dituangkan dalam bentuk Berita Acara Pemeriksaan (surat) atau bila dianggap perlu maka pemeriksa di Laboratorium Forensik dapat dipanggil di pengadilan sebagai saksi ahli (keterangan ahli).

Mengingat pentingnya hal diatas, maka seorang pemeriksa di Laboratorium Forensik POLRI haruslah memiliki kekuatan ilmu dasar yang kuat, berpandangan holistik terhadap suatu kasus, ketekukan, sifat pantang menyerah, inisiasi yang sempurna dalam menerapkan ilmu yang dimilikinya ke dalam suatu kasus yang ditanganinya. Hal ini dikarenakan tanggungjawab yang diemban oleh seorang pemeriksa forensik akan dipertanggungjawabkan baik di depan pengadilan dan akan menentukan nasib seseorang (tersangka), apakah dia terlibat tindak pidana ataukah tidak. Kesalahan dalam menentukan metode pemeriksaan yang akan dipakai akan berakibat pada kesalahan kesimpulan yang akan diambil, sebab forensik bekerja pada tataran barang bukti yang dipaksa ‘bicara’ dan tidak mengandalkan pengakuan dari tersangka.

Hal ini juga terjadi pada sarjana-sarjana Biologi yang bekerja di Laboratorium Forensik POLRI. Penguasaan terhadap ilmu yang dimilikinya merupakan sesuatu yang wajib dan harus ‘mengakar’ dalam tubuhnya. Baik itu ilmu mengenaik biokimia, entomologi, histologi, fisiologi, anatomi, mikrobiologi, toksikologi, ekologi bahkan biologi molekuler. Bila tidak memiliki kemampuan di bidang tersebut seorang biolog yang terjun dalam suatu lingkungan forensik akan sulit sekali menentukan langkah apa yang harus diambil untuk menguak suatu kasus tindak pidana. Ilmu dasar yang dimiliki di lingkungan forensik bak sebilah pisau, ketajamannya sangat diperlukan, akan tetapi apalah arti sebilah pisau yang tajam bila sang pemegang pisau tidak dapat menggunakannya. Banyak contoh kasus yang dapat diselesaikan dengan pendekatan ilmu Biologi, baik itu kasus pembunuhan, penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, toksikologi lingkungan (pencemaran), atau bahkan keracunan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php