Bioforensic

BUKTI FISIK DALAM ILMU FORENSIK

Posted: December 4th 2018

Image result for evidence crime sceneImage result for witness interview

Bukti dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu kesaksian berupa kata atau pernyataan yang diucapkan oleh korban atau saksi dan fisik berupa bukti nyata seperti rambut, serat, sidik jari, dan bahan biologis.

Konsep yang dikenal sebagai ‘Pertukaran Locard Prinsip’ menyatakan bahwa setiap seorang memasuki sesuatu lingkungan, sesuatu hal atau bukti akan ditinggalkan atau dihilangkan di wilayah itu. Prinsip ini kadang-kadang dinyatakan sebagai ‘setiap kontak meninggalkan jejak’ dan berlaku untuk menyelidiki antar individu maupun antar individu dengan lingkungan fisik. Oleh karena itu peneliti penegak hukum dianjurkan untuk selalu beranggapan bahwa pasti terdapat bukti fisik di setiap adegan. Jumlah dan sifat bukti yang dibuat akan sangat bergantung pada keadaan kejahatan.

Sering kali, bukti menceritakan sebuah cerita dan membantu penyidik menciptakan TKP dan menetapkan urutan kejadian. Bukti fisik dapat menguatkan laporan dari korban, saksi dan atau tersangka. Jika dianalisis dan diinterpretasikan dengan benar, bukti fisik lebih dapat diandalkan daripada bukti kesaksian. Persepsi individu dan ingatan tentang apa yang terjadi dapat tidak lengkap atau tidak akurat. Bukti fisik adalah tujuan dari pemeriksaan dan ketika didokumentasikan, dikumpulkan, dan diawetkan dengan baik mungkin menjadi satu-satunya cara pengumpulan bukti yang paling handal dalam hal menempatkan atau mengubungkan seseorang TKP. Karena itu bukti fisik dapat dikatakan sebagai ‘saksi bisu’.

 

Macam-Macam Bukti Fisik

Image result for crime scene documentation

Bukti fisik yang ditemukan di TKP dapat dikelompokkan menjadi 4 (Sampurna 2000), yaitu:

      1. Bukti transient. Bukti ini sesuai dengan sifatnya hanya sementara dan akan dengan mudah hilang atau berubah. Sebagai contoh adalah: buah-buahan, suhu, imprints dan indentation (tanda-tanda yang ditimbulkan akibat tekanan, seperti tanda jejak sepatu, atau tapak ban mobil pada kasus kecelakaan bermotor), tanda-tanda seperti lebam mayat, jejak bibir di puntung rokok, bercak darah di pakaian yang akan dicuci, dll. Bukti seperti ini ditemukan oleh penyidik di TKP, dan harus segera dicatat dan didokumentasikan.
      2. Bukti pola, seperti percikan bercak darah, pola pecahan kaca atau gelas, pola kebakaran, pola posisi furnitur, trayektori proyektil, dan posisi mayat, dll.
      3. Bukti kondisional, seperti derajat kekakuan mayat, distribusi lebam mayat, apakah pintu terkunci, apakah lampu menyala, ketebalan dan arah geraknya asap.
      4. Bukti yang dipindahkan (transfer), yang merupakan bukti fisik yang paling klasik. Bukti transfer terjadi karena kontak antara orang-orang atau benda-benda, atau antar orang dengan benda.

 

Penyelidikan Bukti Fisik di TKP

Image result for evidence crime scene

Barang bukti fisik tidak selalu terlihat dengan mata telanjang dan dapat dengan mudah terabaikan. Pendekatan disiplin untuk pengumpulan dan pelestarian bukti sangat penting. Satu pengecualian mungkin jika integritas bukti yang berisiko, dan dalam situasi seperti itu adalah penting bahwa keputusan yang cepat dibuat untuk mencegah degradasi dan atau kerugian. Sangat penting bahwa penyidik memperoleh informasi sebanyak mungkin mengenai keadaan kejahatan sebelum memasuki TKP. Laporan dari saksi, korban atau responden pertama dapat memberikan pemahaman yang lebih luas. Penyelidik dapat mengembangkan pendekatan untuk adegan berdasarkan informasi ini dan sifat kejahatan.

Misalnya di tempat perampokan, perhatian bisa fokus pada titik masuk. Fragmen dari kayu, logam, atau pecahan kaca dapat ditemukan, bersama sidik jari, darah dan serat dari pakian ketika pelaku memaksa masuk.

Dalam kasus kekerasan seksual perhatian dapat diarahkan pada pakaian dan pribadi korban serta tersangka. Seorang penyidik mungkin menemukan cairan tubuh, noda, pakaian robek, sidik jari, serat, rambut, dan bahan lainnya, jejak di daerah di mana serangan terjadi. Bukti potensial seperti air liur, bekas gigitan, air mani, rambut, jaringan kulit di bawah kuku jari, dan bahan lainnya dapat ditemukan pada korban. Bukti ditransfer seperti kosmetik, cairan vagina, rambut dari korban, dan darah juga dapat ditemukan pada tersangka.

Setelah bukti potensial ditangani dan didokumentasikan, langkah berikutnya adalah untuk mengumpulkan dan mengemas barang bukti dengan cara mencegah kehilangan, kontaminasi, dan perubahan yang merusak. Bukti biologis membutuhkan perawatan untuk mencegah dari kontaminasi silang baik oleh penyidik maupun spesimen biologi lainnya di lokasi kejadian. Jenis peralatan yang digunakan dalam mencegah kontaminasi silang antara lain adalah :

  1. Setelan tubuh steril khusus
  2. Topeng kertas yang mencakup hidung dan mulut
  3. Pelindung mata
  4. Sarung tangan berbahan lateks atau nitril
  5. Pelindung lengan
  6. Sepatu
  7. Penutup kepala atau net rambut

Related image

Penyelidik harus memprioritaskan urutan bukti yang dikumpulkan. Bukti biologis, bahan jejak, dan bukti yang bersifat rapuh harus dikumpulkan terlebih dahulu.

Dari TKP bukti fisik tersebut dibawa ke laboratorium forensik, semua bukti harus diinventariskan dan di jamin untuk menjaga integritas. Hal ini penting untuk menunjukan bahwa bukti yang diperkenalkan di pengadilan adalah bukti yang sama yang dikumpulkan di TKP.

Bahan-bahan yang dikumpulkan dikemas oleh anggota tim. Kemasan bukti yang tepat meliputi :

  1. Kemasan yang sesuai dan diberi label pada setiap item
  2. Setiap kemasan disegel dengan benar dan ditandai
  3. Informasi yang benar dan konsisten direkam pada label dan dan dokumentasi prosedural

Bukti diserahkan kepada penyidik untuk diserahkan ke bagian properti dan bukti pada suatu departemen. Umumnya pengiriman ke laboratorium forensik menggunakan sistem barcode untuk menjamin keamanannya.

Setelah analisis selesai, barang bukti ada yang dikirim kembali ke suatu lembaga dan didokumentasikan. Laporan penegak hukum, dokumentasi, laporan analisis disimpan dalam bentuk berkas perkara.

 

Image result for evidence crime scene

Teknik Pengumpulan Bukti Fisik

Metode pengumpulan bukti berbeda tergantung pada jenis bukti dan substrat yang ditemukan. Akan lebih baik apabila mengumpulkan bukti di tempat asalnya. Penyelidik harus berkonsultasi dengan laboratorium forensik lokal dan mengacu pada departemen prosedur operasi standar terhadap pengumpulan bukti biologis.

  • Darah dan cairan tubuh lainnya

Metode serap basah. Dengan menggunakan kasa steril atau benang yang dibasahi dengan air suling steril. Dengan cara mengusapkan kasa yang telah dibasahi pada noda hingga noda terserap pada ujung kasa, kemudian dibiarkan mengering. Akan lebih baik apabila pengusapan dilakukan dua kali dengan menggunakan kasa kering pada pengusapan kedua untuk memastikan sampel terambil secara menyeluruh.

Dengan metode scraping. Dengan menggunakan silet atau pisau bedah yang bersih. Dengan cara menggores sampel dan disimpan pada selembar kertas bersih yang dapat dilipat atau sejenisnya.

Dengan menggunakan tape. Untuk noda darah kering pada permukaan yang tidak dapat menyerap. Dengan cara memindahkan noda pada sisi perekat pita.

  • Rambut dan serat

Pada beberapa pemeriksaan rambut dan serat dapat dilihat dengan mata telanjang. Dengan menggunakan pinset bersih dan kertas jeja, sampel dapat dilipat dan disimpan dalam amplop kertas atau kemasan lain yang sesuai.

Dengan metode tape lifting, kaset air atau metanol larut untuk pengumpulan jejak rambut dan serat. Dengan memberikannya pada lokasi sampel yang dicurigai dihapus atau dikemas.

Dengan menggunakan vakum yang telah diberikan saringan, dengan menggunakan alat pada lokasi sampel, kemudian disimpan pada kertas jejak bersih. Metode ini sangat jarang digunakan karena rentan terhadap resiko terkontaminasi silang jika alat tidak dibersihkan dengan baik.

Image result for evidence crime scene

  • Pengemasan dan penyimpanan

Bukti biologis harus dikeringkan sebelum dikemas untuk meminimalkan degradasi. Kemasan yang paling sering digunakan adalah kertas, dan menggunakan kemasan plastik apabila sampel benar-benar kering. Pada sampel cair harus didokumentasikan terlebih dahulu dan ditempatkan pada gelas steril atau plastik dan didinginkan sesegera mungkin.

Related image

  • Dokumentasi

Cara dokumentasi yang sering digunakan di TKP adalah fotografi. Fotografer harus dapat bersaksi bahwa foto itu adalah representasi yang benar dan akurat dari adegan pada saat foto itu diambil. Sketsa foto mungkin tidak selalu menggambarkan hubungan spesial antara objek, sketsa digunakan untuk melengkapi foto. Sketsa dapat lebih mudah menggambarkan keseluruhan kejadian dan hubungan antara objek. Penyidik biasanya membuat sketsa kasar di TKP yang berisi semua informasi yang diperlukan untuk penyidik menyelesaikan sketsa secara keseluruhan.

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php