KSDL MINERAL INDONESIA

MINERAL DAN BBM DARI SEBRANG LAUT

Posted: May 29th 2013

di Kantor Presiden yang terletak antara Istana Merdeka (menghadap tugu Monas) dan Istana Negara yang menghadap Sungai Ciliwung berlangsung sidang kabinet terbatas yang membahas subsidi bahan bakar minyak.

Hadir, antara lain, Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono.

Seusai sidang, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik berbicara dengan para wartawan. ”Opsi mana pun yang diambil akan menimbulkan inflasi dan inflasi pasti memukul saudara-saudara kita dari kelompok miskin dan hampir miskin,” ujar Jero.

Itu artinya pilihan apa pun yang diambil pemerintah mengenai subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan menyulitkan banyak orang. Jumlah warga miskin, menurut Badan Pusat Statistik (September 2012), mencapai 28,59 juta.

Soal rumitnya subsidi BBM ini tentu terkait erat dengan defisit minyak dan gas (migas) yang terjadi di Indonesia saat ini.

Mengatasi defisit migas di Indonesia dengan impor adalah tindakan yang berbahaya. Tingginya impor migas di Indonesia membuat devisa kita terus berkurang dengan cepat.

Menghadapi masalah defisit migas ini, ada dua pilihan yang bisa diambil, yakni mengontrol konsumsi BBM bersubsidi dan meningkatkan produksi migas dalam negeri.

Langkah memproduksi migas di dalam negeri adalah sesuatu yang hampir dikatakan sulit sekali. Pengeboran di Indonesia pada 2012 tidak bisa mencapai target. Realisasi pengeboran sumur pengembangan hanya 93 persen dari target, sementara realisasi kegiatan eksplorasi hanya 50 persen. Produksi minyak saat ini di Indonesia terus merosot, yakni 830.000 sampai 850.000 barrel per hari.

Menurut beberapa ahli perminyakan yang pernah bekerja di sejumlah perusahaan minyak di dalam dan luar negeri, ada jalan untuk menghadapi semakin menipisnya migas di dalam negeri, yakni apa yang disebut overseas atau mendapatkan minyak dari seberang laut atau dari negeri orang.

Indonesia, menurut para ahli migas yang tidak mau disebut identitasnya itu, pernah mendapat ”karpet merah” untuk memperoleh minyak dari beberapa negara, seperti Angola, Irak, Libya, Iran, Venezuela, dan Aljazair. Namun, sampai saat ini ”karpet merah” itu belum pernah diinjak Indonesia karena ulah sejumlah orang di Indonesia.

Tahun lalu Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat, dan pejabat Pertamina datang ke Kazakhstan dan Azerbaijan yang kaya minyak.

SDM Indonesia tersebar luas dari barat hingga timur, dengan beraneka ragam komoditas mineral. Mineral adalah bahan anorganik homogen yang terbentuk secara alami dan seragam dengan komposisi kimia yang tetap pada batas volumenya serta memiliki struktur kristal dan karakteristik yang tercermin dalam bentuk dan sifat fisiknya. Menurut badan geologi kementrian energi dan sumberdaya mineral Indonesia (ESDM), mineral yang terdapat di Indonesia dibagi menjadi 2 jenis, yaitu mineral logam dan mineral non – logam.SUMBER KOMPAS.COM

 


Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.

Artikel lainnya

Larang Ekspor Biji Mineral

Go to post

Terdampar di Tanah Surga Mineral

Go to post
© 2022 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php