David Cees

Kalimantan Panik ??

Posted: December 3rd 2016

                Yapsss, begitulah dengan kondisi saat ini di pulau kalimantan, dimana sudah banyak rumah nenek moyang berupa akar, batang, daun, tanah, air, dan udara yang mulai hilang, yang seharusnya menghasilkan sesuatu untuk menyongsong kehidupan dari segala bentuk titipan nenek moyang yaitu flora dan fauna yang ada di kalimantan.

 Kini, titipan dari nenek moyang tersebut dalam keadaan panik karena menurunnya kualitas jantung kehidupan kedua dalam hidup mereka itu akibat penggusuran, pembukaan lahan, yang menghasilkan uang untuk saku sang serakah, sehingga tidak menyisakan kepunyaan tuannya yang sebenarnya. Melihat kondisi seperti ini, barulah diadakannya upaya konservasi yang sebenarnya tidak perlu dilakukan bila siserakah tak menjual jantung kedua titipan nenek moyang kita.

Dalam topik kali ini, kita melihat saja titipan dari nenek moyang kalimantan berupa fauna yaitu Orang Utan, kucing hutan (Pardofelis marmorat), bukucing-hutanrung rangkong gading dimana ketiga fauna tersebut endemik dipulau kalimantan dengan habitat di hutan gambut dan berbagai macam hutan lainnya dikalimantan, yang terancam punah akibat ulah siserakah yang menyulap jantung kedua kehidupan mereka menjadi uang. Fauna endemik tersebut terancam punah akibat adanya pembabatan hutan sebagai habitat mereka, sehingga mereka tak mengerti akan mendapatkan tempat beranak cucu dimana lagi, sehingga terdapat beberapa berita bahwa fauna endemik kaliamantan tersebut mati karena tak ada tempat tinggal, mati terbakar, tertangkap dan dijadikan lauk pauk. Sungguh malangnya nasib fauna endemik ini akibat ulah manusia.orangutan

                Sebagai bentuk rasa prihatin terhadap kelansungan hidup anak cucunya, demi pelestariannya yang akan berperan didalam bumi dan dapat disaksikan oleh anak cucu kita,  maka dapat dilakukan aksi konservasi dengan melakukan pendekatan terhadap pemerintah untuk mendukung aksi tersebut. Bentuk dukungan dari pemerintah yang diharapkan adalah wilayah untuk konservasi, dana untuk keperluan konservasi, dan kebutuhan lainnya seperti upaya pengobatan dan upaya untuk menghasilkan keturunan dari fauna guna mendukung pelestarian. Wilayah tempat konservasi harus jauh dari pemukiman penduduk dan instansi atau perusahaan, sehingga tidak ada faktor luar dan dalam dari luar wilayah konservasi yang juga dpat menjadi ancaman dalam pelestarian tersebut. Konservasi juga membutuhkan tenaga kerja yang ahli dalam bidang genetika, aktif dalam pelestarian fauna terancam punah, ahli dalam penentuan wilayah, ahli dalam bidang komunikasi, ahli dalam perwatan fauna, dan orang yang ahli di bidang lainnya yang mendukung kelansungan upaya konservasi ini.

                Selain pemerintah, diperlukan juga aksi suka rela dari masyarakat untuk mendukung kelansungan upaya konservasi ini. Masyasakat diberi pembekalan terlebih dahulu dalam upaya pelestarian tersebut seperti tidak berburu sembarangan, tidak merangkong-gading-hewan-unik-asli-indonesia-730x430nebang hutan, tidak membakar hutan, dan tidak melakukan hal lainnya yang mendukung fauna-fauna tersebut punah. Masyarakat juga diajarkan dalam mengatasi masalah saat fauna benar benar dalam masa kritis dan
jauh dari wilayah konservasi, seperti penanganan pertama dengan merawat, memberi obat, selama beberapa waktu singkat dan segera dibawa pada tempat konservasi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php