7 Karakter Generasi Z di Era Figital Dunia Tanpa Batas

Generasi Z itu siapa? Bukannya sekarang eranya Generasi Millenial?

Menurut beberapa sumber, generasi Z adalah suatu rentang generasi yang lahir antara tahun 1995 hingga tahun 2012. Sedangkan generasi Millenial yang masih sering disebut-sebut adalah generasi yang lahir antara tahun 1981 hingga tahun 1994.

Berarti, generasi Millenial tersebut di tahun 2020 ini sudah berusia antara 26 hingga 39 tahun. Hampir sebagian besar Millenials sudah lulus pendidikan, bekerja, membentuk keluarga, punya anak, dan sudah mapan.

Sedangkan generasi Z, rentang usianya antara 8 hingga 25 tahun, merupakan suatu generasi yang sebentar lagi akan merebut lapangan kerja dengan kekhasan perilaku mereka di era Figital, sebuah dunia tanpa batas.

7 Karakter Generasi Z

Millenial, atau nama lain adalah genersi Y, sudah mulai meredup, sudah saatnya dunia berpaling ke generasi selanjutnya, yaitu generasi Z.

Sekarang ini diperkirakan ada lebih dari 70 juta orang di dunia yang dalam rentang beberapa tahun lagi akan menjadi pemimpin dalam berbagai bidang.

Total populasi gen Z kemungkinan sudah mencapai 40% dari total populasi dunia. Perilaku dan karakter mereka sangat berbeda, bahkan oleh generasi sebelumnya dianggap tidak mempunyai etika dan tidak sabaran. Benarkah seperti itu?

1 – Mengenal Internet Sejak Lahir

Gen Z, sering juga mendapat julukan iGen atau Gen Internet. Boleh dibilang merekalah sebuah generasi yang sejak lahir internet sudah ada.

Tentunya tergantung pula di mana generasi tersebut berada. Generasi ini tidak mengalami di mana dunia tanpa telepon, segala informasi hanya mengandalkan berita dari televisi atau media cetak. Berbeda dengan sekarang, bahkan informasi pun tersedia dalam telepon genggam. 

2 – Serba Praktis

Akibat informasi yang serba cepat diperoleh dari mana-mana, maka karakter mereka pun ingin yang serba praktis. Akibatnya generasi ini kurang terampil mengikuti proses yang panjang.

Mereka dengan cepat bisa mengakses dan mengikuti berbagai tren di dunia melalui berbagai media sosial, Facebook, WhatsApp, Instagram, maupun Twitter.

3 – Do It Yourself

Adanya berbagai aplikasi di ponsel pintar yang mudah digunakan membuat generasi Z piawai membuat sendiri (do it yourself) berbagai hal. Misalnya foto, video, maupun kemampuan editing.

Akun media sosial seperti Youtube dan Instastories merupakan ajang untuk memperkenalkan karya-karya mereka ke publik. Tutorial sederhana mudah sekali dibuat dan diunggah ke channel Youtube.

4 – Personal Branding

Kemungkinan besar bagi generasi Z menjadi pegawai bukan pilihan populer. Ada kecenderungan berkat hal-hal kreatif yang mereka ciptakan, mereka akan terjun sebagai wirausaha atau self-employee.

Apalagi dengan semakin mudahnya pengakuan personal branding melalui media sosial dengan jumlah followers serta subscriber, berimbas gen Z mendapatkan keuntungan secara finansial.

Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya kala menjadi pegawai sebuah korporat atau aparatur negara merupakan sebuah gengsi tersendiri.

5 – Multitasking

Bagi orang tua, mungkin merasa ajaib melihat perilaku gen Z, yang dalam waktu bersamaan sambil belajar, mendengarkan lagu, juga membuka media sosial atau jualan online. Banyak remaja yang masuk kategori gen Z sudah berani berkreasi kemudian berpromosi melalui media online.

6 – Ekonomi Berbagi

Sekarang memang eranya ekonomi berbagi (weconomist). GoJek, Grab, Airbnb, dan berbagai marketplace adalah konsep ekonomi berbagi. Berbekalkan internet, gen Z bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Sudah lazim suatu proyek besar dipecah menjadi sub-sub pekerjaan kecil dan secara paralel dikerjakan oleh banyak pihak. Koordinasi bisa mudah dilakukan melalui videocall atau software komunikasi lainnya, seperti Zoom, Meet, Google Classroom, dan lain-lain.

7 – Figital

Figital adalah gabungan antara fisik dan digital. Gen Z hidup di dua dunia ini, fisik dan digital. Berbeda dengan generasi orang tua zaman old, para Boomer, kehadiran fisik sangat penting.

Rapat harus hadir di ruang rapat, tertib, dan mengisi daftar hadir. Berbeda jauh dengan karakter para iGen ini, tak masalah rapat digelar secara virtual atau kombinasi keduanya, daring dan luring.

Kehidupan sehari-hari pun gen Z sangat tergantung dengan eksistensi mereka secara digital. Pertemanan virtual berdasarkan jumlah followers dan bukan hanya lingkungan yang sudah kenal secara fisik, tetapi sudah tanpa batas. Jangkauan gen Z sudah mendunia berkat adanya internet tadi.

Dengan segala keunikan karakter gen Z, ada kekurangan dari kelompok ini, yaitu kurangnya ketrampilan berkomunikasi secara verbal.

Apalagi dengan adanya pandemi, menyebabkan mereka semakin kurang bertatapan muka secara langsung, menjadi tidak terbiasa membaca ekspresi wajah lawan bicara. Tentunya dengan komunikasi dan arahan bijaksana dari generasi di atasnya, Boomers, Gen X, dan Gen Y (Millenial), gen Z bisa menguasai dunia tanpa kendala.