cathy akila

Molekuler dapat Menyelematkan Hutan Indonesia?

Posted: September 11th 2014

Indonesia merupakan suatu negara dengan keanekaragaman hayati sangat tinggi (megabiodiversity). Indonesia dikaruniai dengan salah satu hutan tropis yang paling luas dan paling kaya keanekaragaman hayatinya di dunia. Puluhan juta masyarakat Indonesia mengandalkan hidup dan mata pencahariannya dari hutan, baik dari mengumpulkan berbagai jenis hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka atau bekerja pada sektor industri pengolahan kayu.Hutan tropis ini merupakan habitat flora dan fauna yang kelimpahannya tidak tertandingi oleh negara lain dengan ukuran luas yang sama.

Tetapi sekarang Indonesia menjadi pusat perhatian dunia, karena kalangan di dalam negeri dan masyarakat internasional begitu gusar menyaksikan perusakan sumber daya alam yang semena-mena di negeri ini. Menurut Sudarmono (2006), tahun 2002-2003 mungkin tahun dimana Pemerintah Indonesia ibarat `makan buah simalakama` dalam hal penentuan izin penambangan di kawasan Hutan Lindung , bagaimana tidak apabila Pemerintah tidak mengijinkan 22 perusahaan pertambangan maka Pemerintah dinilai melanggar kontrak yang dilakukan sebelum turun UU No. 41 th 1999. Namun pada penjelasan Pasal 38 dalam hal pelarangan pertambangan terbuka dikawasan hutan lindung dimungkinkan dapat dilakukan dengan ketentuan khusus secara selektif.

Gambar 1. Hutan akibat pembalakan liar

UNEP WCMC (2003), mengungkapkan hutan alam tropis di Sumatera telah kehilangan 182 species pohon dan di Kalimantan 210 species pohon telah masuk dalam daftar yang terancam punah (treatened). Dengan keadaan seperti ini, maka Indonesia terancam kehilangan sumberdaya hutan yang sangat bermanfaat untuk generasi yang akan datang. Laju kerusakan hutan tropis dimulai dari kerusakan ekosistem hutan (degradasi) dan penggundulan dan perombakan hutan (deforestasi). Dengan demikian, upaya mempertahankan keberadaan hutan alam dari berbagai gangguan menjadi tujuan yang sangat mendesak.

Gambar 2. Kondisii hutan Kalimantan, warna hijau adalah hutan yang tersisa

Perkembangan ilmu dan pengetahuan dalam biologi molekuler, khususnya pada pengkajian karakter bahan genetik telah menghasilkan kemajuan yang sangat pesat bagi perkembangan penelaahan suatu organisme dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan manusia. Untuk itu era saat ini perkembangan teknologi dan teori dasar statistik sangat cepat dan beraneka ragam teknik analisa yang ditawarkan. Selain itu berkaitan dengan kemajuan teknologi maka analisa terhadap tumbuhan lebih cenderung melalui pendekatan unsur genetik (kualitatif) daripada analisa deskriptif (berbentuk daftar tumbuhan, hewan atau mikroorganisme) yang sewaktu-waktu berubah. Sifat kualitatif memungkinkan organisme yang kecil sekalipun seperti lumut, plankton, dll terdeteksi endemik atau langka atau akan punah. Oleh karena itu pendekatan penelitian seperti Isozim Elektroforesis, kromosom (faktor keturunan di dalam sel mahluk hidup), dan DNA (urutan genetik dalam kromosom), mutlak diperlukan. Perkembangan dunia molekuler pada tumbuhan semakin cepat seiring dengan cepatnya tingkat kepunahannya, sehingga di negara seperti Amerika, Jepang dan Inggris sudah mengembangkan database DNA.

Analisa molekuler secara modern yaitu pemaparan bahan genetik menggunakan alat yang dikenal sebagai Elektroforesis. Selain itu faktor bahan kimia yang dibutuhkan dan alat-alat yang dipakai beragam. Prinsip dasar elektroforesis yaitu bahwa setiap genom tumbuhan (enzim/protein dan DNA) mempunyai berat yang berbeda-beda sehingga kecepatan bergeraknya pada media gel juga berbeda-beda dan hal ini hanya dapat dilihat melalui pewarnaan (trouble shooting).

Sistem elektroforesis yaitu penggunaan arus listrik dari arus negatif ke arus positif melalui media gel untuk menggerakkan bahan genetik (running). Namun pendeteksian alel enzim (bagian dari kromosom yang menentukan warna, bulu, rasa, dll) individu tumbuhan tidak hanya sampai running saja masih perlu dinampakkan dengan pewarna (staining).Untuk ekstraksi isolasi DNA berbeda dengan enzim dimana saat pemurnianDNA memerlukan PCR (Polymerase Chain Reaction) sebelum elekroforesis yang berperan dalam penggabungan pasangan DNA dengan bantuan primer dan enzim bakteri pada suhu tertentu. Harganya cukup mahal, akan tetapi dengan adanya PCR maka analisa ikatan tunggal DNA bisa dilakukan dengan metode ISSR (inter-simple sequence repeat) atau mikrosatelit, RAPD (random amplified polimorphic DNA), RFLP (restriction fragment length polymorphism), dan AFLP (amplified fragment length polymorphism).

Gambar 3. Teknik elektroforesis

Perkembangan biologi molekuler modern belakangan ini, memungkinkan para ahli taksonomi memanfaatkan data DNA sebagai “penanda molekuler” yang cukup signifikan. Dengan ISSR/mikrosatelit, RAPD, RLFP, sebagian kecil fragmen DNA dari genom tumbuhan dapat diamplifikasikan untuk mendapatkan sejumlah besar fragmen DNA, sehingga dengan teknik elektroforesis pada gel agaros pemunculan fragmen DNA tersebut dapat dideteksi secara konsisten dan menjadi data yang dapat digunakan untuk kerja pada taksonomi tumbuhan tinggi.

Prospek elektroforesis di Indonesia baru pada tahap enzim namun kini beberapa Lembagapenelitian seperti Puslit Zoologi (LIPI), BPPT, Lembaga Eijkman, mungkin juga beberapa Universitas besar sudah memiliki Sequencer-DNA. Sehingga tidak lama lagi publikasi-publikasi tentang DNA akan bertebaran di jurnal-jurnal. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai potensi unggul dalam hal keragaman genetik sehingga potensi isolasi spesies pada tiap pulau mengarah pada pembentukan genetik baru akan terdeteksi melalui penelitian ini.

 

Sumber:

http://io.ppijepang.org/old/article.php?id=176

http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/

Potret Keadaan Hutan Indonesia

http://ibcraja4.org/assets/file/Buletin04September2013.pdf

http://biotifor.or.id/modules/publikasi/files/KONSERVASI%20SUMBERDAYA%20GENETIK.pdf

http://asep.lecture.ub.ac.id/files/2011/12/Teknik-molekuler.pdf

http://www.labkita.com/artikel/43/Perkembangan-Elektroforesis-dalam-Penelitian-Biologi-Molekular/#.VBImS2Ni2Vo


2 responses to “Molekuler dapat Menyelematkan Hutan Indonesia?”

  1. jerry9212 says:

    info yang menarik dan menambah wawasan tentang perkembangan teknologi molekuler 🙂

  2. Yudhistira says:

    menarik sekali. Semoga perkembangan aplikasi molekuler bisa semakin bermanfaat bagi kehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php