cathy akila

Badak Bercula Satu: Ibarat Pasien Unit Gawat Darurat

Posted: September 5th 2014

Badak Jawa sering kali disebut dengan badak bercula satu kecil (Rhinoceros sondaicus) yaitu anggota dari famili Rhinocerotidae serta satu dari lima badak yang masih tetap ada.Badak ini mempunyai kulit bermosaik yang mirip dengan baju baja. Badak ini mempunyai panjang antara 3,1 sampai 3,2 m serta tinggi antara 1,4 sampai 1,7 m. Badak ini lebih kecil dari pada badak india serta lebih dekat atau hampir sama besar tubuhnya dengan badak hitam. Ukuran culanya umumnya kurang dari 20 cm, lebih kecil dari pada cula spesies badak yang lain.

Gambar 1. Badak Bercula Satu (Rhinoceros sondaicu)

Gambar 1. Badak Bercula Satu (Rhinoceros sondaicu)

Badak jawa saat ini ibarat pasien ‘Unit Gawat Darurat’. Upaya penyelamatan dan pelestarian badak bercula satu ini mutlak, atau spesies kebanggaan Indonesia tersebut akan punah dan tinggal cerita. Sebab, kondisi badak jawa sudah pada tahap siaga satu, dengan hanya sekitar 50 ekor individu di alam liar. Berdasarkan iucnredlist.org yang dikeluarkan oleh International Union for Conversation of Nature (IUCN), sejak tahun 1996 badak bercula satu dikategorikan dalam status kritis terancam punah.

Gambar 2. Status Konservasi Badak Bercula Satu ((Rhinoceros sondaicu)

Gambar 2. Status Konservasi Badak Bercula Satu (Rhinoceros sondaicu)

Badak ini dulu menjadi satu di antara badak di Asia yang sangat banyak menyebar. Walau badak ini sering disebut dengan badak jawa, binatang ini tak hanya hidup di pulau Jawa saja, namun di semua nusantara, di sepanjang Asia Tenggara serta di India dan Tiongkok. Spesies ini statusnya amat krusial, dimana cuma sedikit populasi yang bisa ditemukan di alam bebas. Badak ini kemungkinan merupakan mamalia terlangka yang ada di bumi. Sekitar 40-50 populasi  badak hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau Jawa, Indonesia dan populasi Badak Bercula Satu di alam bebas yang lain terdapat di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam dan diperkiraan populasi tak kian lebih delapan ekor pada tahun 2007.

Sebenarnya, badak bercula satu tidak memiliki predator alami. Satu-satunya ancaman terbesar adalah manusia. Perburuan badakbercula satu banyak dilakukan oleh manusia. Seorang pemburu biasanya mengambil cula badak dengan membuatnya pingsan. Setelah pingsan, pemburu memotong cula badak, lalu membiarkannya mati kehabisan darah.Cula badak ini dipercaya sebagai obat mujarab oleh ilmu pengobatan tradisional Cina selama lebih dari 2.000 tahundan harganya mencapai $30.000 per kilogram di pasar gelap. Walaupun belum terbukti secara ilmiah, banyak orang yang tetap meyakininya.

Gambar 3. Badak Bercula Satu yang Diambil Culanya

Gambar 3. Badak Bercula Satu yang Diambil Culanya

Namun saat ini sudah tidak ditemukan kasus perburuan liar badak bercula satu sejak tahun 1990-an karena penegakan hukum yang efektif oleh otoritas taman nasional yang diiringin dengan inisiatif-inisiatif seperti Rhino Monitoring and Protection Unit (RMPU) serta patroli pantai. Ancaman terbesar bagi badak bercula satu saat ini yaitu populasi badak bercula satu yang sedikit menyebabkan rendahnya keragaman genetis. Hal ini dapat memperlemah kemampuan spesies ini dalam menghadapi wabah penyakit atau bencana alam (erupsi gunung berapi dan gempa). Ancaman lain bagi populasi badak bercula satu adalah meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat langsung pertumbuhan populasi manusia. Pembukaan hutan untuk pertanian dan penebangan kayu komersial mulai bermunculan di sekitar dan di dalam kawasan lindung tempat spesies ini hidup.

Dalam hal reproduksi, badak bercula satu betina siap bereproduksi setelah mencapai usia 3 sampai 4 tahun. Sedangkan badak bercula satu jantan siap bereproduksi pada usia 6 tahun.Jika telah kawin, badak betina mengandung anaknya selama 16 sampai 19 bulan. Anak yang dikandungnya pun hanya satu ekor, tak pernah lebih. Oleh karena itu, badak bercula satu betina hanya bisa punya 1 anak dalam waktu 4-5 tahun sekali. Masa kawin badak bercula satu pun sulit ditebak. Itulah yang membuat populasi badak bercula satu tak banyak.

Organisasi internasional yang menangani masalah konversasi, penelitian, dan restorasi lingkungan, World Wide Fund for Nature (WWF) untuk Indonesia tengah melakukan penelitian terhadap populasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon untuk memperoleh informasi tentang pola perilaku, distribusi, migrasi, masa kawin, dan keragaman genetik.

Gambar 4. Lokasi Persebaran Badak Jawa

Gambar 4. Lokasi Persebaran Badak Jawa

WWF dan mitra kerjanya membantu petugas Balai Taman Nasional memonitor badak melalui kamera trap dan analisis DNA dari sampel kotoran. Sejak pertama kali dimulai pada 2001, empat belas kelahiran badak berhasil di dokumentasikan oleh kamera dan video jebak yang dioperasikan WWF bersama dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Saat ini WWF bekerja dengan Departemen Kehutanan, Balai Taman Nasional dan masyarakat lokal untuk mengkaji kemungkinan pembuatan habitat kedua dan translokasi badak yang telah diseleksi terlebih dahulu berdasarkan kondisi kesehatan dan fertilitasnya untuk menginisiasi populasi baru sambil tetap melindungi populasi aslinya di Taman Nasional Ujung Kulon.

Seperti ditulis wwf.or.id, selain dari penelitian dan dukungan terhadap patroli anti-perburuan badak jawa, WWF-Indonesia di Taman Nasional Ujung Kulon juga memfokuskan kegiatannya pada upaya manajemen habitat dengan harapan habitat yang terjaga akan bisa mempertahankan populasi yang tersisa. Selain itu, keterlibatan masyarakat pun dibutuhkan untuk menjaga populasi badak jawa agar terhindar dari kepunahan.

Sumber:

http://intisari-online.com/read/pelestarian-badak-jawa-sudah-di-tahap-siaga-satu

http://www.iucnredlist.org/details/19495/0

http://www.satwa.net/514/mengenal-badak-jawa-ciri-ciri-habitat-populasi-badak-jawa.html

http://www.wwf.or.id/program/spesies/badak_jawa/

Hariyadi, A. R. S., dkk. 2011. Estimating The Population Structure of Javan Rhinos (Rhinoceros sondaicus) in Ujung Kulon National Park Using The Mark-recapture Method Based on Video and Camera Trap Identification. Journal of Pachyderm 49.

Strien, N. J. v dan Rookmaker K. 2010. The Impact of the Krakatoa Eruption in 1883on The Population of Rhinoceros sondaicus in Ujung Kulon, with Details of Rhino Observation From 1857 to 1949. Journal of Threatened Taxa 2(1): 633-638


10 responses to “Badak Bercula Satu: Ibarat Pasien Unit Gawat Darurat”

  1. alfonslie says:

    nice posting.. keep blogging 🙂

  2. selviaemanuella says:

    Diketahui bahwa masyarakat menjadikan cula badak sebagai bahan pengobatan “penyakit dalam”. Paradigma ini sulit dihilangkan, akibatnya pemburuan akan dilakukan terus. Sulit memang untuk mengubah pola pikir masyrakat.Oleh karenanya kita sebagai generasi muda untu terus menggerakkan “kegiatan konservasi badak bercula” ini.KALO GAK KITA SIAPA LAGI 🙂

  3. jejejacqueline says:

    manusia yangmasih melakukan perburuan badak bercula satu demi keuntungan materi semata lebih baik di penjarakan saja!

  4. fentywaty says:

    Badak ini tidak seharusnya dikorbankan hanya dikarenakan untuk menngambil satu bagian tubuhnya saja demi kepercayaan oleh orang-orang setempat. Akan tetapi,apakah badak ini bida tetap bertahan hidup bila culahnya diambil dengan cara-cara tertentu?

  5. dayinfauzi says:

    Sikap seperti itu (perburuan) tak selayaknya dilakukan oleh manusia yang sudah dikaruniai akal sehat, hanya demi untuk mendapatkan uang badak ditinggalkan begitu saja setelah diambil culanya..:(
    Andaikan masih ada perburuan, hukuman seperti apa yang pantas diberikan untuk membuat jera para pemburu hewan?
    oya ada revisi untuk tulisan nama spesies di gambar(Rhinoceros sondaicu)seharusnya garis miring atau garis bawah y ket…:)

  6. yuurie989 says:

    aduh.. kasian yah badak kita…
    question.. wkwkwk
    kan badak itu susah bereproduksi.. sedangkan badak kita populasinya semakin sedikit,menurut cathy upaya kita saat ini dalam mengkonservasi badak saat ini sudah maksimal belum?? Kira-kira, dalam mempelajari segala aspek tentang badak (misalnya cara hidupnya, makanannya, kebiasaanya,dll) sudah cukup untuk membantu dalam proses konservasinya kah??

  7. Inge says:

    Thx’ infonya.
    Gambar 3 = ckck. manusia itu brutal juga ya.
    terkait dengan eksistensi fauna satu ini yang juga ada di luar Indonesia, dan baik di luar Indonesia dan di dalam negri sendiri sama2 langkanya, apa sudah pernah ada kerjasama international untuk conservation project bagi badak ini?
    semoga masyarakat makin aware sama fauna2 sekarat kaya gini. amin.

  8. arum08 says:

    Hmmm.. seandainya kesadaran manusia tentang keberlangsungan hidup badak ini dari dulu… 🙁

  9. ronykristianto says:

    Memang betul predator paling buas sebenarnya adalah manusia, yang tega membinasakan hewan se-eksotis ini hingga menyisakan 50 individu ckckck. Adakah cara agar badak betina melahirkan lebih dari 1 ekor badak ? supaya jumlah spesies ini terus bertambah untuk menghindari kepunahan ?

  10. kvnnaflpsul says:

    6lX8L0 avjgsizqywla, [url=http://rrrymoddyicg.com/]rrrymoddyicg[/url], [link=http://idrwdzxnyank.com/]idrwdzxnyank[/link], http://bvsjjtdqnsjr.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php