Carolina Arum

Ada apa di Magelang?

Posted: February 20th 2017

Hallo pembaca setia!

Masih ingat dengan Indonesia? Jika mendengar Indonesia, apa yang terbenam dalam pikiran anda? Ya, memiliki gugusan pulau yang sangat banyak, keanekaragaman hayati yang melimpah, tempat wisata, kekayaan alam yang sangat melimpah, dan masih banyak lagi. Jika kita membahas kekayaan alam, Indonesia menjadi salah satu contoh yang tepat, tidak hanya flora fauna, melainkan sumber daya alam yang juga sangat melimpah. Sumber daya alam memiliki peranan dalam pemenuhan kebutuhan manusia, baik sumber daya biotik ataupun abiotik.

Jika kita mendalami sumber daya alam, hampir di setiap provinsi di Indonesia memiliki sumber daya alam yang berbeda-beda, di pulau Jawa sendiri pun sumber daya alam sangat melimpah, baik sumber daya terbarukan ataupun sumber daya yang tak terbarukan.

Magelang, adalah salah satu kota kecil yang berada dalam Provinsi Semarang, Jawa Tengah. Pernah berpikir tentang sumber daya yang ada di kota mungil ini? Ya, pasti yang terpikirkan adalah pasir, pasir yang dikirim dari letusan gunung berapi yaitu Gunung Merapi yang sempat mengeluarkan bahan-bahan mineral, seperti kerikil, batu, pasir dan lain sebagainya. Tidak hanya kaya dengan wisata, Magelang pun juga kaya akan sumber daya alam, baik itu biotik ataupun abiotik. Selain pasir yang kita kenal, ternyata kota sejuta bunga ini (Magelang) memiliki sumber daya batuan, yaitu marmer. Penasaran? Silahkan baca artikel ini sampai selesai!

Gambar 1. Batuan Marmer

Marmer atau batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau malihan dari batu gamping yang terjadi karena adanya pengaruh suhu dan tekanan yang dihasilkan oleh gaya endogen dan menyebabkan terjadi rekristalisasi (tekstur batuan baru) pada batuan tersebut sehingga membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi. Akibat rekristalisasi struktur asal batuan membentuk tekstur baru dan keteraturan butir. Marmer Indonesia diperkirakan berumur sekitar 30–60 juta tahun atau berumur Kuarter hingga Tersier. Marmer akan selalu berasosiasi keberadaanya dengan batu gamping, walaupun tidak setiap ada batu gamping akan ada marmer.

Marmer merupakan bahan galian yang terjadi dari batugamping ataupun dolomit yang telah mengalami metamorfosa. Proses metamorfosa berlangsung sebagai akibat adanya tekanan dan temperatur yang tinggi pada batugamping tersebut sehingga terjadi rekristalisasi. Proses ini menghasilkan marmer dengan warna dan tekstur yang menarik sehingga dalam bahan bangunan marmer banyak digunakan sebagai batu hias.

Pemanfaatan bahan galian  marmer  daerah  telitian  berdasarkan  SII. 0378-80 dapat digunakan sebagai penutup lantai dengan beban hidup lebih dari 250 kg / cm², penutup lantai dengan beban hidup kurang dari 250 kg / cm², batu tempel atau batu hias konstruksi luar, dan batu tempel atau batu hias konstruksi dalam. Sedangkan pemanfaatan bahan galian marmer berdasarkan SII. 0379-80 adalah untuk pondasi  bangunan  sedang,  pondasi  bangunan  ringan,  tonggak atau batu tepi jalan, penutup lantai atau trotoar, dan sebagai batu hias atau batu tempel.

Di Kabupaten Magelang, endapan marmer dapat dijumpai di Kecamatan Salaman yang tepatnya pada koordinat 07o37’ 30” LS dan 110o09’ 30” BT. Marmer di Giripurno dijumpai pada Formasi Nanggulan dan marmer di daerah penelitian ini berwarna merah, dengan struktur non foliasi, kuat tekan marmer berkisar antara 1200 kg/cm2 – 3000 kg/cm2, tekstur berupa butiran, bereaksi dengan HCl, kadang terdapat fosil, sebagian besar kompak/solid namun ada juga yang retak-retak karena terdapat unsur mangan di dalamnya. Warna merah ini akibat adanya kandungan hematit dan mineral pengotor, sehingga warna yang khas dan unik ini yang menjadikan nilai lebih dibandingkan marmer dari daerah lain yang berwarna putih.

Gambar 2. Koordinat Letak Batuan Marmer di Giripurno

Gambar 3. Batuan Marmer di Giripurno

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Giripurno, sumber daya alam berupa batuan marmer ini memiliki jumlah yang melimpah, dapat dilihat pada Gambar diatas. Akan tetapi, upaya dalam mengkonservasi marmer ini masih sangat kurang. Adapun kendala yang terjadi yaitu pertambangan marmer termasuk usaha padat modal, sulitnya birokrasi perijinan, konsumen marmer lebih banyak kelompok menengah atas yang menggunakan marmer sebagai bahan bangunan, gedung, serta isyu dampak lingkungan di sekitar lokasi penambangan. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam upaya pelestarian sumber daya marmer ini sangat diperlukan, terutama dalam hal perizinan agar pertambangan daerah lebih tertata serta peran dari masyarakat sekitar diperlukan adanya pelatihan mengenai sistem pernambangan batu marmer.

Daftar pustaka

Departemen Perindustrian. 1980. Mutu dan Cara Uji Batu Alam Untuk Bahan Bangunan. SII No.0379-80, Jakarta.

Departemen Perindustrian. 1980. Syarat – Syarat Fisik Marmer Untuk Lantai Maupun Batu Tempel / Batu Hias. SII No.0378-80, Jakarta.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php