carinae

Burung Nuri Kepala Hitam Itu… Jantan atau Betina?

Posted: August 21st 2017

Burung nuri kepala hitam atau yang bernama latin Lorius lory ini merupakan salah satu burung endemik Papua dan pulau kecil disekitarnya. Burung cantik ini banyak digemari untuk dijadikan satwa peliharaan karena kecantikan bulu dan kepintarannya. Banyaknya permintaan burung ini untuk dijadikan satwa peliharaan mengancam kelestarian L. lory di alam. Menurut IUCN status kelangkaan L. lory adalah Least Concearn namun Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) dalam status appendiks II mengatur perdagangannya dengan memberi kuota tangkap. Pemerintah Indonesia juga mengatur perlindungan satwa ini dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, PP No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Keputusan Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-11/1991 tentang Inventaris Satwa yang Dilindungi Undang-Undang dana tau Bagian-Bagiannya yang Dipelihara oleh Perorangan.

Seperti yang kita lihat pada gambar disamping ini burung L. lory memiliki beberapa ciri antara lain, warna dasar bulu tubuh berwarna merah, dahi hingga tengkuk berwarna hitam, pita biru gelap mengelilingi pangkal leher, sayap berwarna hijau, dada hingga perut berwarna biru gelap, bagian atas bulu ekor berwarna merah dengan ujung biru sedangkan bagian bawah berwarna kuning zaitun. Burung ini merupakan salah satu burung yang bersifat monomorfik yang berarti tidak terdapat perbedaaan mencolok secara morfologi, ukuran dan warna tubuh diantara dua jenis kelamin.

Lalu bagaimana kita dapat membedakan jenis kelamin dari burung ini apabila secara morfologi tidak memiliki perbedaan mencolok? Terdapat 2 cara yang bisa kita lakukan seperti penelitian dari Nugroho dan Zein (2015), yang pertama adalah dengan metode molekuler dan yang kedua dengan metode morfometrik. Kali ini mari kita bahas lebih mendalam tentang metode penentuan jenis kelamin secara molekuler yang dilakukan oleh Nugroho dan Zein (2015). Pada aves kromosom seks berupa heterozigot ZW untuk betina dan homozigot ZZ untuk jantan. Penentuan jenis kelamin secara molekuler mendeteksi perbedaan ukuran intron gen Chromodomain helicase DNA binding (CHD) pada kromosom Z dan W.

Metode pengujian dengan molekuler ini terbilang cukup mahal, namun hasil identifikasinya memiliki akurasi yang tinggi. Win win solution, right? Nugroho dan Zein menggunakan sampel bulu burung dengan pertimbangan lebih sedikit menimbulkan stress pada burung, tidak mengancam nyawa burung dan lebih memperhatikan kesejahteraan hewan. Bulu burung juga mengandung calamus atau endapan darah di batang bulu, maka dari itu sampel bulu burung yang dipilih haruslah yang dicabut Karena lebih banyak mengandung materi genetic, bulu burung juga tidak boleh mengenai tanah dan tangan agar tidak terkontaminasi. Materi genetik yang terdapat di bulu burung ini diekstrak kemudian diamplifikasi dengan metode PCR menggunakan primer 2250F dan 2718R dengan target segment gen CHD1 yang terletak pada kromosom seks. Hasil PCR kemudian dielektroforesis pada gel agarose 2% dan dibandingkan dengan DNA marker ukuran 100bp. Hasil elektroforesis inilah yang kemudian divisualisasi dengan UV transilluminator untuk menentukan jenis kelamin pada sampel bulu burung dengan melihat pita DNA.

Gambar disamping merupakan hasil visualisasi elektroforesis produk PCR. Adanya dua pita yang terlihat berukuran 450bp dan 650bp menunjukkan jenis kelamin betina dan satu pita yang terlihat berukuran 650bp menunjukkan jenis kelamin jantan.

Penentuan jenis kelamin pada burung L. lory ini sangatlah penting untuk usaha perjodohan calon indukan maupun data untuk anakan dengan tujuan menjaga kelestarian dari burung ini. Selain itu penentuan jenis kelamin dengan metode molekuler juga merupakan aplikasi dari bidang ilmu ekologi molekuler yang saat ini sedang berkembang di Indonesia. Semoga ulasan mengenai metode penentuan jenis kelamin pada burung L. lory ini dapat membantu kita semua memahami cabang ilmu ekologi molekuler dan memahami burung nuri kepala hitam juga.

 

Mari kita lestarikan satwa asli Indonesia! Salam lestari ^^

Daftar pustaka

Nugroho, H. A. N. dan Zein, M. S. A. 2015. Evaluasi metode penentuan jenis kelamin pada nuri kepala hitam (Lorius lory, Linnaeus 1758). Zoo Indonesia 24(2): 83-93.


7 responses to “Burung Nuri Kepala Hitam Itu… Jantan atau Betina?”

  1. rielumboh says:

    Wah keren ya mbak, ternyata dengan secara molekuler bisa ya ditebak kelaminnya wkwk. Nice blog ya mbak

  2. Felisia Yosie Krisan Martiani says:

    keren sekali, karena susah membedakan secara morfologi maka dapat digunakan dengan cara molekuler
    dan memang karena kelamin jatan dan betina pada burung memang bisa dibedakan ZZ dan ZW, kira kira burung lain metode nya akan lain pula atau tidak ya??

  3. gine says:

    Ternyata burung nuri selain dapat di lihat jenis kelamin bukan dengan kasat mata juga ya. Sangat menambah wawasan

  4. rickyjohan says:

    menarik sekali blognya, jadi apakah primer yang digunakan spesifik untuk spesies ini atau bisa digunakan unutk spesies lain?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php