Campaka Sandipuspa

Kera Belanda endemik Borneo

Posted: September 8th 2015

Ingin lebih kenal lagi  apa itu kera belanda endemik Borneo?????

Mari membaca ūüėČ

Bekantan (Nasalis larvatus) adalah satwa primata endemik Borneo. Bekantan (Nasalis larvatus) dikenal juga dengan sebutan kera Belanda, bekara, raseng, pika, dan bentangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi ilmiah dari Bekantan (Nasalis larvatus )

Kerajaan                      : Animalia

Filum                            : Chordata

Kelas                             : Mamalia

Ordo                              : Primata

Famili                           : Cercopitthecidae

Subfamili                     : Colobinae

Genus                            : Nasalis

Spesies                          : N. larvatus

Nama binominal       : Nasalis larvatus

Status konservasi      : Terancam punah

Secara morfologi, warna rambut bekantan bervariasi. Di bagian bahu dan punggung atas berwarna coklat kemerahan. Ujung-ujung rambutnya berwarna merah kecoklatan, sedangkan dua pertiganya berwarna abu-abu. Perut Bekantan (Nasalis larvatus) berwarna kekuningan atau abu-abu, kadang-kadang ada bagian yang berwarna kuning kecoklatan. Tangan dan kaki putih kekuningan, kepala berwarna coklat kemerahan, dan leher berwarna putih keabuan. Ciri khas bekantan yang mudah dikenali adalah ukuran hidung yang besar dan panjang pada jantan dan runcing pada betina.

Adanya variasi warna bulu pada bagian-bagian tubuh tersebut merupakan dasar dalam membedakan sub-spesies bekantan yang ada, yaitu Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis lavartus orientalis.

Habitat bekantan (Nasalis larvatus) adalah hutan rawa, hutan bakau dekat sungai, dan rawa bakau sepanjang pantai, teluk atau daerah pasang surut. Pada umumnya bekantan (Nasalis larvatus) bersifat arboreal (aktivitas hidup banyak dilakukan di atas pohon). Sumber pakan dari bekantan (Nasalis larvatus) sendiri terdiri dari daun-daun muda dan buah bakau.

Bekantan (Nasalis larvatus) dilindungi secara nasional maupun internasional. Secara nasional dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999. Sedangkan secara internasional termasuk dalam Appendix I CITES (Convention on Internasional Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dan masuk dalam kategori endangered species berdasarkan Red List IUCN (International Union for the Conservation of Natural Resources) sejak tahun 2000 sehingga mendapat perhatian sangat tinggi dalam perlindungan oleh hukum di seluruh jangkauan dalam upaya konservasinya.

Jenis Bekantan (Nasalis larvatus) tergolong sangat langka dan endemik, dengan habitat terbatas pada hutan bakau, hutan di sekitar sungai, dan habitat rawa gambut di mana sebagian telah terancam oleh berbagai aktivitas manusia. Dalam 29.500 km persegi habitat bekantan, saat ini telah berkurang seluas 40%, sedangkan yang berstatus kawasan konservasi hanya 4,1%. Pada tahun 2000, laju deforestasi habitat bekantan 3,49% per tahun. Akibat dari penurunan luas habitat tersebut maka populasi bekantan cenderung menurun karena primata ini kurang toleran terhadap kerusakan habitat.

Identifikasi permasalahan kerusakan habitat dan dampaknya pada kelestarian Bekantan (Nasalis larvatus) dibagi menjadi masalah substansial, yang meliputi konversi hutan (penanaman kelapa sawit, pengembangan lahan pertanian) dan kegiatan ilegal (penebangan hutan, pertambangan, perburuan, penangkapan ikan, kebakaran hutan, dan penurunan kualitas habitat). kaitan dalam kebijakan seperti konflik lahan, tata ruang, dan penegakan hukum juga terkait pada dampak kelestarian bekantan (Nasalis larvatus), tingkat kepedulian seperti kurangnya kepedulian pada masyarakat, kurangnya kapasitas kelembagaan, konflik antar sektor, kurang selaras kebijakan pusat dengan daerah juga menjadi hal penting yang sangat berpengaruh terhadap kelestarian bekantan (Nasalis larvatus).

Untuk mengatasi permasalahan habitat dan penurunan populasi bekantan (Nasalis larvatus) perlu dibuat program-program kegiatan sebagai berikut:

  1. Inventarisasi sebaran, habitat, dan populasi bekantan.
  2. Rehabilitasi dan restorasi habitat yang potensial bagi pengembangan populasi bekantan (Nasalis larvatus).
  3. Pengembangan tingkat kepedulian masyarakat dalam melakukan konservasi sempadan sungai dan satwa.
  4. Pengaturan penggunaan sungai sebagai alat transportasi, pencegahan masuknya limbah ke sungai, dan pengembangan bangunan di sempadan sungai habitat bekantan (Nasalis larvatus).
  5. Pengembangan konservasi eksitu.
  6. Peningkatan peran kelembagaan dan budidaya usaha pengelolaan kawasan hutan yang terkait dengan pemanfaatan hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan.

Semoga dengan membaca ini, dapat menambah sedikit wawasan anda tentang salah satu fauna khas Indonesia…

Terimakasih

 


8 responses to “Kera Belanda endemik Borneo”

  1. Yani Evami says:

    Informasi yang sangat menarik. Saya baru mengetahui adanya endemik kera belanda ini, semoga upaya-upaya yang dilakukan untuk pelestariannya terus ditingkatkan agar dapat terus dikenal nantinya.

  2. Grace Nathania says:

    Tulisan yang menarik campaka. Semoga strategi konservasi eksitu berjalan dengan lancar sehingga keadaan kera belanda tak lagi terancam ūüôā

  3. desykadang says:

    Hewan endemik Borneo wajib banget untuk di lindungi apalagi masuk dalam kategori genting yang sedang menghadapi resiko kepunahan di habitat aslinya. Sayang bangetlah kalau hewan dengan “ciri khas ukuran hidung yang besar dan panjang pada jantan dan runcing pada betina” sampai punah karena ulah kita (manusia)

  4. septiapuspit says:

    wah keren nih,ternyata simbol wahana bermain ini udah jadi hewan langka ya.semoga usaha campaka berjuang untuk melestarikan hewan ini walau hanya dengan membuat blog,dapat menyadarkan dan mengingatkan betapa pentingnya pelestarian bekantan.

  5. kharina waty says:

    Sedih mengetahui hewan primata daerah saya sendiri hampir punah. Keuntungan yang diperoleh pihak perusahaan sawit atau tambang dst memang besar,namun berdampak merugikan bagi habitat primata ini sendiri. Manusia yang merusak, mereka harus menderita. Tahun demi tahun populasi semakin sedikit, semoga ini dapat dijadikan perhatian bagi masyarakat dan pemerintah.Thx

  6. vivilarasati says:

    tulisan informasi yang di berikan sangat menarik. memang masalah yang dihadapi oleh fauna maupun flora di kalimantan yang menyebabkannya hampir punah adalah berkurangnya habitat tempat mereka tinggal. semoga pemerintah bisa bertindak lebih tegas untuk dapat menjaga kelestarian hutan kalimantan ūüėÄ

  7. ayusuraduhita says:

    Semoga Perda atau UU yang telah diberlakukan dapat berjalan efektif sehingga kepunahan dapat dicegah. Amin o:)

  8. Angelina Cynthia Dewi says:

    Terima kasih atas informasi yang telah diberikan mengenai primata ini. Semoga strategi konservasi yang saat ini telah dan sedang dilakukan dapat berjalan dengan baik, sehingga satwa ini dapat bertahan dan nggak jadi punah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php