caecilia bekti

Beruang Kecilku Mulai Rentan

Posted: November 30th 2018

Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) atau disebut juga Bear Cuscus adalah marsupial aboreal yang hidup di kanopi hutan hujan tropis.  Hampir tidak diketahui status dan keadaan ekologinya (Australasian Marsupial and Monotreme Specialist Group, 1996). Meskipun ilmuwan menggolongkan populasi ini kedalam satu spesies, yaitu , A. ursinus, atau A. melanotis (Kinnaird, 1995). Kuskus Beruang hanya ditemukan di beberapa pulau di Indoneisa, yang merupakan bagian dari Asia, yang sebagian besar marsupial tidak ditemukan di Asia. Sebuah hipotesis menyatakan bahwa isolasi yang menyebabkan kuskus beruang ditemukan di Pulau Sulawesi  yang terjadi pada waktu Miosen yang menyebabkan perbedaan dari keluarga Phalangeridae.

Kuskus beruang merupakan jenis kuskus yang paling besar dan paling primitif, memiliki panjang tubuh mulai dari kepala hingga ujung ekornya lebih dari satu meter dan tercatat sebagai mamalia terbesar di tajuk atas hutan Sulawesi, selain monyet yaki. Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) memiliki warna bulu keabu-abuan, memiliki ekor perihensil, pendiam, pemalu, mamalia berkantung dan memiliki pergerakan lamban (Kinnaird, 1995).

Kuskus beruang merupakan salah satu dari dua jenis mamalia berkantung, endemik Pulau Sulawesi yang dapat ditemui di Cagar Alam Tangkoko Batu Angus, yang merupakan salah satu kawasan konservasi yang ada di Sulawesi Utara. Kuskus beruang biasanya ditemukan di hutan basah dataran rendah tropis yang tidak terganggu. Kuskus beruang merupakan spesies diurnal (beraktivitas pada siang hari), dan sifatnya arboreal yang hidup di tajuk pohon dan jarang terlihat berjalan diatas tanah. Daun-daun merupakan komponen utama dalam pakan kuskus beruang, sehingga satwa ini lebih menyukai tempat yang ditumbuhi pohon-pohon sebagai habitatnya serta sering ditemukan saling berpasangan (Dwiyahreni, 1995). Makanannya terdiri dari berbagai macam daun, lebih memilih daun muda, dan seperti banyak bianatang arboreal lainnya yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beristirahat untuk dicerna.

Menurut IUCN Redlist 2008 kuskus beruang telah dinyatakan rentan (Vulnerable), laporan Wildlife Conservation Society (WCS) tahun 2005, menyatakan bahwa populasi kuskus beruang menurun setiap tahun, spesies ini secara nominal dilindungi oleh hukum Indonesia (Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999). Menurut Pratiwi, 2016 keadaan rentan ini disebabkan karena beberapa hal :

  • Penebangan hutan untuk pertanian
  • Diburu oleh penduduk setempat untuk makanan
  • Dikumpulkan untuk perdagangan hewan peliharaan

Populasi kuskus beruang yang tiap tahun menurun dapat mengakibakan hewan ini punah, terjadinya perburuan dan perdagangan liar salah satu faktor utama menurunya kuskus beruang ini. Di samping itu sebagian hutan yang merupakan habitat aslinya telah mengalami kerusakan akibat pembukaan hutan untuk areal pertanian dan pemukiman penduduk. Sampai saat ini pun pemerintah belum mampu menghentikan perdagangan satwa liar ilegal.(Farida dkk., 2004).

Aksi yang bisa saya lakukan untuk saat ini adalah mensosialisasikan hewan khusunya kuskus ini agar tetap dilindungi dan berada pada habitat aslinya melewati media sosial dan ikut berpartisipasi dalam mendukung konservasi hewan lainnya. Memberikan seputar edukasi bagi mahasiswa atau pengguna media sosial bahwa kita memiliki beruang kuskus yang endemik Sulawesi yang harus dijaga dan dilestarikan. Aksi selanjutnya yang dapat diwujudkan lebih lanjut setelah lulus untuk menjadi seorang yang bergerak dibidang konservasi mamalia atau hewan endemik yang ada di Indonesia. Dapat juga mengedukasi anak-anak TK, SD untuk memulai konservasi sejak dini untuk selalu menjaga hewan atau lingkungan sekitar sebagai kepedulian kita yang saling menjaga satu sama lain.

 

Daftar Pustaka :

Australasian Marsupial & Monotreme Specialist Group (1996). Ailurops ursinus2007 IUCN Red List of Threatened SpeciesIUCN 2007.

Farida, R.W., Nurjaeni, Mutia, R., Diapari, D. 2004. Kemampuan Cerna Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) terhadap pakan alternatif di penangkaran. Jurnal Biosmart 6(1):65-70.

Flannery, T. & Helgen, K. (2008). Ailurops melanotisIUCN Red List of Threatened Species. Version 2008

Kinnaird, M.F. 1995. North Sulawesi: A Natural History Guide. Developmen Institute Wallacea, Jakarta.

Pratiwi, A.A., Talumepa, R.S.H., Wungow, Z., Poli, S.C., dan Rimbing. 2016. Tingkah laku harian kuskus beruang (Ailurops ursinus) di Cagar Alam Tangkoko Batu Angus. Jurnal Zootek36(1):174-183.

Salas, L., Dickman, C., Helgen, K. & Flannery, T. 2008. Ailurops ursinusThe IUCN Red List of Threatened Species 2008


18 responses to “Beruang Kecilku Mulai Rentan”

  1. Desideria says:

    Aksi yang dilakukan sudah bagus. Mungkin setelah itu di planning untuk terjun ke lapangan langsung lagi

  2. Angela Mericy says:

    Artikel sungguh menarik karena disajikan dengan beberapa gambar. Penjelasan sederhana dan mudah dimengerti. Action plan juga realistis karena dimulai dari lingkungan sekitar. Semoga sukses

  3. carolinovela says:

    artikelnya sangat menarik. semoga semua pembaca juga bisa ikut merealisasikan action plan ini 🙂

  4. afrin says:

    Artikel yang disajikan sangat informatif dan lengkap. Action plan yang dibuat dapat dilakukan oleh semua kalangan. Semoga kita bisa bersama2 melindungi hewan2 endemik Indonesia terutama yang terancam punah. Semangat 🙂

  5. fabiana disa says:

    Gerakan yang inspiratif dan menarik sebagai salah satu cara menjaga beruang kecil nan malang :’)
    Saya tertarik untuk ikut aksi kamu menyelamatkan si beruang kecil :””

  6. ichakaswari says:

    informasi artikelnya lengkap dan menari. ada beberapa gambar yang disajikan sehingga tidak membuat bosan si pembaca.

  7. THE TEA IS HOT says:

    good

  8. keithykho says:

    Menarik, artikel dilengkapi gambar memadai. Sukses untuk aksinya

  9. agathachandra says:

    wahhh menarik sekali artikel nya dapat menambah wawasan juga, bener tu harus dilakukan konservasi sayang banget kalo sampe punah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php