caecilia bekti

Airku Mulai Menipis

Posted: August 27th 2016

Yogyakarta memang memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi siapapun. Maraknya wisatawan, mahasiswa, ataupun perantau di kota Jogja, membuat pemerintah dan masyarakat Jogja bersama-sama memugar hampir seluruh sudut kota Jogja. Sudah begitu banyak perubahan dari mulai tata kota, infrastruktur, hingga destinasi wisata di Jogja yang diremajakan . Contoh yang dapat dilihat dengan jelas adalah infrastruktur yang mulai berubah , mulai maraknya dibangun hotel-hotel disekitar kota Jogja.

Berdasar data statistik , pada tahun 2010  terdapat  37 hotel berbintang dengan kapasitas 3.595 kamar dan  Hotel melati sebanyak 415 hotel dengan kapasitas 7.270 kamar.Pada tahun 2011  dibangun 14  hotel mulai dari bintang  satu sampai bintang lima,  dengan jumlah 890 kamar hotel, sedangkan hotel kelas melati ada tiga hotel dengan 106 kamar.Dari data tersebut pada tahun 2011  di wilayah Yogyakarta berarti terdapat 51 hotel berbintang dengan jumlah 4.485 kamar dan hotel melati 418 dengan jumlah 7.376 kamar.  Pertumbuhan yang sangat signifikan  untuk hotel berbintang karena dalam tahun 2011 saja tumbuh 24,75%.  Sedangkan tahun 2012 – 2013 diperkirakan masih akan dibangun sekitar 13 hotel baru kategori bintang  dengan kapasitas sekitar 2.000 kamar.  Pertumbuhan hotel berbintang yang demikian pesat tentu memiliki dampak positif dan negative bagi masyarakat sekitar.

HotelJogja-4

Dampak positif yang diberikan adalah memberikan lahan usaha bagi masyarakat sekitar , serta meningkatkan jumlah investor bagi kota Jogja. Namun, dampak negative yang ditimbulkan lebih besar dari dampak positif yang di dapat kota Jogja. Dampak negative dari pertumbuhan hotel yang sangat pesat di Jogja menimbulkan masalah, mulai masalah lingkungan dimana hotel berhubungan dengan limbah, daerah resapan air yang surut, kurangnya lahan hijau yang ada di Jogja. Karena hotel yang dibangun  di lingkungan warga akan merusak fungsi air tanah dangkal yang sebetulnya  menjadi kebutuhan utama untuk dimanfaatkan warga dalam memenuhi kegiatan sehari-hari.

Pada struktur bangunan hotel bagian dasar atau basement ,air dangkal akan dibelokkan supaya tidak merembes ke hotel dan merusak  dasar hotel sehingga air resapan yang ada mengalir ke tempat yang lebih dalam. Selain  itu perhotelan dalam memenuhi kebutuhan air akan mengebor sumber air yang lebih dalam ,sehingga akan menyebabkan  air tanah dangkal akan merembes ke tanah air dalam. Dengan demikian pasokan air yang terdapat di masyarakat juga ikut terserap. Ketidaktersediaan air menyebabkan kebutuhan akan air di lingkungan masyarakat tidak terpenuhi.Tidak adanya daerah resapan air memicu terjadinya banjir dan bencana kekeringan di kala musim kemarau.

berita_97147_800x600_Forpi_Kota_Yogyakarta 50417_620

Selain itu, pertumbuhan hotel yang tak terkendali  juga memicu masalah lain. Karena pertumbuhan hotel yang pesat  maka produksi limbah juga ikut meningkat. limbah hotel yang sedemikian banyaknya  dibuang  ke  sungai  akibatnya air tanah dan sungai di Yogyakarta memiliki potensi terkontaminasi bakteri dan zat –zat yang mencemari sungai. Air yang tercemar membuat ketersediaan air bersih menjadi langka. Air bersih yang langka membuat masyarakat akan memilih air kemasaaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menimbulkan angka produksi limbah masyarakat juga ikut meningkat.

Dalam jangka panjang jika pertumbuhan hotel tidak dihentikan dan dibatasi maka laju pencemaran yang akan terjadi di kota Jogja akan meningkat.Membuat kota Jogja menjadi kota yang kumuh akibat limbah dari hotel yang terus meningkat ditamabah limbah masyarakat umum .Krisis air juga akan terjadi berkepanjangan saat musim kemarau karena daerah resapan air dangkal di lingkungan yang sudah tidak ada.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php