Rizki Aji Wiradana

Pesut, Lumba-Lumba Air Tawar yang Terancam Punah

Posted: December 1st 2018

Pesut merupakan hewan mamalia yang hidup di air tawar, biasanya di temukan di sungai, danau, dan muara sungai. Pesut mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi) dengan kedua matanya yang kecil. Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai abu-abu tua, dibagian bawah tubuhnya berwarna lebih pucat. Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Sirip dada lebar membundar. Panjang tubuhnya mencapai 2,5 m dengan bobot lebih dari 100 kg. Pesut betina hamil selama 14 bulan dan hanya melahirkan seekor anak. Makanan utama pesut adalah ikan bersirip lunak yang pada umumnya termasuk dalam kelompok ikan putihan. Selain itu, juga ada informasi yang mengatakan bahwa makanan pesut selain ikan juga udang. Pesut pada umumnya hidup berkelompok antara 6 sampai dengan 15 ekor.

Daerah penyebaran pesut meliputi daerah populasi yang terisolasi secara geografi yaitu Australia, Bangladesh, Cambodia, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Papua New Guinea, Philippines, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Di Indonesia pesut dapat ditemukan di daerah aliran Sungai Mahakam Propinsi Kalimantan Timur, populasi diperkirakan hanya sekitar 34 ekor. Angka perkiraan populasi ini merupakan gambaran dari indikasi bahwa terjadi penurunan jumlah populasi yang sekitar tahun 1970-an dikatakan antara 100 sampai dengan 150 ekor yang berlokasi di Danau Melintang, Danau Semayang, Sungai Pela, dan sebagian Sungai Mahakam. Jadi, dalam jangka waktu sekitar 25 tahun terjadi penurunan jumlah sekitar 30%. Dari keadaan ini, dapat dikatakan bahwa keberadaan spesies Orcaella brevirostris dikhawatirkan akan mengarah pada kepunahan. Kekhawatiran ini tergambar dengan status pesut dalam daftar Redlist IUCN tergolong dalam endangered Apabila hal ini dibiarkan kekhawatiran akan punah ini bahwa spesies ini dapat terjadi dalam jangka waktu yang sangat cepat.

Gambar 2. Distribusi Orcaella brevirostris di dunia.

Gambar 3. Status konservasi pesut berdasarkan Redlist IUCN

Perkembangan dan aktivitas penduduk di sekitar habitat pesut dapat menjadi ancaman bagi populasi pesut di Sungai Mahakam. Beberapa ancaman tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Terjebak dalam jaring nelayan.

Kebanyakan pesut yang mati terdiri dari dewasa (76%), 9% remaja dan 15% bayi baru lahir. Kebanyakan pesut mati akibat terjerat rengge dengan ukuran mata jaring 10-17,5 cm. Hubungan erat antara nelayan dan pesut meningkatkan resiko terjeratnya pesut dalam rengge. Pesut sering ditemukan sedang mencari makan di dekat rengge dan banyak nelayan menggunakan pola mencari makan pesut sebagai indikator lokasi dan waktu untuk memasang rengge. Pesut dilaporkan dapat membantu nelayan menggiring ikan ke arah jaring. Sebagai balasannya, pada beberapa kejadian nelayan berhasil melepaskan pesut yang terjerat rengge. Namun sedikitnya lima ekor pesut yang mati akibat terperangkap rengge dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan kulit dari dua ekor diantaranya digunakan sebagai obat alergi kulit

  1. Penangkapan ikan yang berlebihan (overfishing).

Penangkapan ikan secara intensif menggunakan rengge, setrum, pukat (terutama di danau), racun (Dupon/Lamet, Deses, akar Gadong) dan budidaya ikan predator yang diberi makan ikan-ikan kecil, yang diambil langsung dari danau atau sungai, kemungkinan telah menyebabkan penurunan yang signifikan dari sumber daya ikan

  1. Polusi suara

Sumber utama polusi suara adalah kapal berkecepatan tinggi (40-200 pk) (rata-rata = 4,6 kapal/jam melewati habitat pesut). Pesut menyelam lebih lama saat kapal berjarak 300 m dari mereka. Selain itu, banyaknya ces dengan tongkat baling-baling panjang yang melaju dengan kecepatan tinggi (maks 26 pk) di Sungai juga menyebabkan pesut menyelam lebih lama. Setiap hari kapal penarik ponton batubara melewati Sungai (rata-rata = 8,4 kapal/hari), anak sungai sempit yang merupakan habitat utama pesut. Selama musim kemarau, ukuran kapal ini menyita lebih dari dua pertiga lebar sungai dan lebih dari setengah kedalaman anak sungai. Pesut selalu mengubah arah berenang mereka (jika sedang menuju ke hulu) saat bertemu kapal penarik ponton batubara.

4. Polusi bahan kimia

Polusi bahan kimia Merkuri dan sianida mencemari sungai akibat bocornya tanggul penahan limbah dari kegiatan penambangan emas besar maupun berskala kecil yang ilegal di sepanjang sungai. Debu batubara seringkali jatuh tanpa sengaja ke sungai dan hal ini mungkin menyebabkan perubahan warna kulit pesut di daerah tersebut, seperti yang teramati pada tahun 2002 dan 2007. Keadaan seperti ini tidak pernah terlihat pada pesut di daerah lain. Selain itu, air limbah pencucian batubara juga masuk ke anak-anak sungai besar dan danau-danau melalui kanal-kanal kecil saat air pasang. Pestisida (pupuk dan herbisida non-organik) dari perkebunan kelapa sawit yang masuk ke dalam sungai melalui saluran-saluran yang dibuat oleh perusahaan juga merupakan ancaman yang tidak termonitor.

5. Sedimentasi

Penurunan wilayah penyebaran populasi kemungkinan disebabkan oleh pendangkalan dari sedimentasi yang berlebihan akibat penebangan hutan di pinggir danau. Tingginya sedimentasi dan banyaknya rengge juga membatasi pergerakan pesut. Sehingga saat ini, kecuali jika tingkat permukaan air tinggi, pergerakan pesut terbatas pada jalur transportasi kapal yang sempit diantara kedua danau tersebut dengan resiko tertabrak dan gangguan kebisingan. Di samping itu sedimentasi juga mengurangi sumber daya ikan.

Action plan yang bisa kita lakukan untuk melindungi pesut ini adalah mengedukasi masyarakat tentang bahayanya jaring nelayan dan penangkapan ikan yang berlebih bagi kelangsungan hidup pesut. Mensosialisasikan tentang pentingnya pelestarian hutan tepian sungai dan rehabilitasi dalam kawasan perlindungan yang bertujuan untuk mengurangi erosi dan sedimentasi, melindungi daerah perkembangbiakan ikan, sumber daya perikanan (biji dan buah pohon yang jatuh merupakan makanan ikan), jenis lain yang dilindungi, dan potensi ekoturisme.Selain itu, kita juga bisa membuat petisi untuk pemerintah Propinsi Kalimantan Timur agar lebih memperhatikan habitat alami pesut mahakam dengan membatasi jumlah kapal yang berlalu lalang di sungai mahakam setiap harinya.


10 responses to “Pesut, Lumba-Lumba Air Tawar yang Terancam Punah”

  1. Luar biasa. Indonesia memiliki beragam kakayaan. dari postingan dapat di ketahui pesut adalah salah satunya. Sukses untuk plan action konservasi pesut mahakam.

  2. ansello99 says:

    ulasan yang menarik. dari ulasan ini dapat di katahui bahwa Indonesia memiliki beragam kehayaan flora dan fauna. Lumba lumba air tawar alias pesut adalah salah satunya. Informatif. Sukses untuk plan actionnya. salam konservasi.

  3. Christophorus Ariel P. H. says:

    informasi yang sangat menarik yang ditampilkan di blog ini. semoga org2 banyak yang mau mengikuti plan actionnya.

  4. andyramli says:

    Membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan sampah plastik menurut saya dapat dilakukan juga untuk memelihara habitat si pesut bro.

  5. THE TEA IS HOT says:

    Good

  6. helena1553 says:

    inspiratif ya artikelnya serta action plan. habitat pesut yg berkurang dapat diklihat dari faktr longkungan seperti adanya tercemar . bisa ditambahkan heheheh

  7. anclmsmarchel says:

    Perkembangan bangunan sangat pesut ya

  8. Maria Magdalena Sedyaniati says:

    informasi menarik, semoga dapat terlaksana apa yg ingin dilakukan untuk lumba” ini yaaa..

  9. Maria Magdalena Sedyaniati says:

    informasi menarik, semoga dapat terlaksana apa yg ingin dilakukan untuk lumba” ini yaaa..

  10. vembry9 says:

    Informasi yang sangat menarik. semoga action plannya dapat berjalan dengan sukses. Semangat !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php