Billyanto R

Si Hijau dari Jawa yang Terancam Punah

Posted: November 29th 2018

Ekek geling jawa/short-tailed green magpie (Cissa thalassina) merupakan salah satu burung unik yang berasal dari family corvidae. Burung ini merupakan burung endemik yang berasal dari pulau Jawa. Burung ini memiliki karakteristik panjang badan 31-33 cm, dengan panjang ekor 97-110 mm dengan bentuk yang lurus tumpul dan warna jambul hijau dengan struktur bulu yang pendek. Ekek geling jawa memiliki kenampakan hampir serupa dengan ekek geling layongan yang berasal dari Kalimantan, namun terdapat perbedaan pada panjang ekor dimana ekek geling jawa memiliki ekor yang lebih pendek.

Ekek geling jawa umumnya memiliki habitat berupa hutan tipikal submontane dan montane forest dengan ketinggian 500-2000 mdpl. Berdasarkan penelitian Nijman dkk. (2017) terdapat beberapa tempat di daerah Jawa Barat yang telah tercatat perjumpaannya dengan ekek geling jawa yaitu Gunung Halimun, Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango. Ekek geling jawa merupakan salah satu hewan yang terancam punah dengan IUCN mengkategorikannya ke dalam spesies Critical Endangered. Menurut hasil penelitian Van Balen dkk. (2011) yang menyatakan bahwa jumlah spesies ekek geling jawa di alam liar secara global, populasinya tidak akan melebihi 100 ekor bahkan sangat memungkinkan jumlahnya dibawah 50 ekor.

Hasil gambar untuk cissa thalassina

Gambar 1. Short-tailed Green Magpie.

Permasalahan yang dialami oleh burung ekek geling jawa sehingga jumlah populasinya merosot secara terus menerus adalah perjualan bebas, fragmentasi habitat serta deforestasi. Burung ini jika dilihat secara kenampakan tentunya sangat mempesona. Warnanya yang hijau terang tentunya membuat burung ini sangat memikat bagi para kolektor-kolektor burung. Kicauan dari burung ini juga diketahui nyaring dan jelas sehingga para kicau-mania tentu sangat menginginkan burung ini.

Hutan pada ketinggian 1000 sampai 1500 mdpl sudah mulai hilang di pulau Jawa. Hal tersebut tentunya mempengaruhi persebaran dari ekek geling jawa. Spesies ini tidak akan ditemukan pada potongan hutan montane forest yang terfragmentasi dan telah terisolasi sejak dahulu kala seperti gunung Karang, Muria, Ciremai dan Ungaran, hal tersebut juga menunjukkan bahwa spesies ini merupakan burung yang cenderung hidupnya menetap. Kecenderungan sifat tersebutlah yang menyebabkan spesies ini tidak pernah ditemukan pada jawa tengah hingga jawa timur.

Hasil gambar untuk critically endangered

Deforestasi merupakan salah satu penyebab terjadinya fragmentasi hutan. Perubahan fungsi hutan yang ditujukan untuk pembangunan desa atau daerah pemukiman atau lahan perkebunan jelas mengurangi luas hutan sebagai habitat dari burung ekek geling jawa. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya jumlah populasi dari burung ekek geling jawa.

Aksi yang dapat saya lakukan untuk membantu konservasi dari burung ekek geling jawa adalah dengan memberikan sebuah sosialisasi pada pecinta burung atau kicau mania bahwa sebaiknya membiarkan burung ekek geling jawa terbang bebas di alam liar daripada berada di dalam kandang. Tidak hanya burung ekek geling jawa saja, burung lain yang terancam punah juga harus diperlakukan sama seperti itu. Pengetahuan atau pemahaman akan pentingnya peran burung yang terancam punah di lingkungan perlu diketahui untuk menyadarkan orang-orang yang mengutamakan estetika hewan dengan menempatkannya di kandang.

Selain itu aksi yang dapat saya lakukan adalah dengan mendukung kampanye tentang restorasi habitat supaya habitat dari satwa tetap terjaga. Memang untuk mengembalikan jumlah populasi ekek geling jawa membutuhkan waktu yang tidak singkat, augmentasi spesies dapat salah menjadi cara untuk meningkatkan jumlah spesies. Dengan demikian para breeder ekek geling jawa juga butuh disosialisasi supaya tidak melulu memanfaatkan satwa sebagai uang melulu, melainkan harus ada pemikiran tentang dampak dari menurunnya populasi ekek geling jawa di alam liar.


10 responses to “Si Hijau dari Jawa yang Terancam Punah”

  1. davidhermawan says:

    apakah manfaat burung ekek geling jawa di alam sehingga perlu dikonservasi?

    • billyantor says:

      Tentunya burung ini memiliki fungsi ekologi, salah satunya burung ini juga kadang memakan buah-buahan. Burung pemakan buah biasanya akan membantu dalam seed dispersal

  2. Stefanus Setia Putra says:

    Tulisan anda menambah wawasan saya akan keanekaragaman burung di indonesia ini, terutama spesies burung yang menarik satu ini. Jujur baru pertama kali ini saya mendengar spesies ini. Terimakasih

  3. Ivan says:

    Populasinya tinggal berapa di Indonesia ya? sehingga dikatakan terancam punah, dan kampanye seperti apa yang anda lakukan untuk restorasi habitat ekek geling jawa

  4. hryo says:

    contoh tindakan yang ada saat ini yang telah dilakukan untuk penanggulangan burung ekek geling jawa ini apa kak?

  5. theresagaluh says:

    Apakah ada upaya konservasi yang sudah dilakukan untuk menahan burung ini dari kepunahan ?

  6. Caecilia Bekti says:

    apa ada data spesifik penurunan dari tahun ke tahun? mungkin bisa memperlengkap data diatas

  7. Caecilia Bekti says:

    apa ada data spesifik dari penurunan untuk tiap tahun, mungkin bisa ditambahkan sevagai pelengkap

  8. caeciliabekti says:

    apakah ada data spesifik penurunan burung tiap tahun??, munfkin bisa ditambahkan untuk memperjelas kenapa hrus di konservasi, terimakasih

  9. agathachandra says:

    Wah informatif dan edukatif kali artikel ini, saya sangat setuju untuk konservasi sayang sekali jika sampe punah ekek geling jawa sangat cantik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php