biaggihary

Strategi Konservasi Sanca Bodo

Posted: December 1st 2018

Python bivittatus atau Sanca bodo adalah sejenis ular besar dari suku Phitonidae. Awalnya, ular ini adalah anak jenis dari Python molurus (Sanca India). Namun sekarang, dijadikan spesies tersendiri. Nama umum ular ini adalah sanca bodo. Ular ini tersebar di beberapa daerah tropis dan subtropis di Asia Tengara Secara morfologi Tubuh Sanca bodo berukuran besar. Panjangnya antara 3 sampai 6 meter, namun seringnya hanya sampai 5 meter. Berat tubuh sampai 160 kg. Mempunyai warna dasar coklat muda dengan bercak-bercak berpentuk tidak beraturan berwarna coklat tua, ada pula yang berwarna dasar kuning, karamel, atau krem, dengan bercak-bercak kuning pekat, cokelat, atau oranye. Corak yang hampir sama dengan kerabat dekatnya, yakni Sanca India (Python molurus). Namun sanca bodo dibedakan karena adanya corak berbentuk huruf “V” berwarna kuning pucat atau putih di atas kepalanya. Populasi Ular Sanca Bodo telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Ular ini sering dieksploitasi dalam jumlah besar untuk Industri bahan kulit dan perdagangan hewan. Ular ini termasuk terancam dalam IUCN Red List, tercatat sebagai VU (Vulnearable). Ular ini merupakan salah satu ular sanca yang terlindungi oleh undang-undang di Indonesia.

Gambar 1. Sanca bodo yang terdapat pada kandang

Gambar 2. Tas hasil kulit sanca bodo

Kemudian Acaman lain yang didapatkan memperburuk status keberadaan sanca bodo adalah paradikma masyarakat yang takut akan keberadaan karena sanca bodo bisa menjadi hama bagi industri peternakan dan informasi-informasi bila sanca ini dapat menyantap manusia sehingga sanca bodo sering di bunuh dengan alasan keamanan sehingga setiap tahunnya terjadi penurunan jumlah sanca bodo di Indonesia. Kemudian kurangnya lembaga konservasi terhadap ular di Indonesia. Kebanyakan konservasi ular di Indonesia di bentuk oleh swasta, Sebenarnya Sanca bodo di lindungi oleh PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 yang berisi:

  1. Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2))
  1. Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2))
  2. Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2)).

Namun dari tahun 1999- 2018 ekploitasi sanca bodo masih sering terjadi. Hal ini yang mendorong Penulis untuk merencanakan strategi konservasi seperti buat Penangkaran pada wilayah persebaran Python bivittatus dan lembaga khusus konservasi ular Sanca bodo dimana dapat mengatasi keberadaan Sanca bodo di Indonesia dan Memberi pelatihan khusus kepada masyarakat.

Gambar 3. Peta Persebaran Sanca bodo (Python bivittatus)

Breeding center bagi keberadaan sanca bodo merupakan hal yang sangat baik di mana dapat di lihat dalam peta pembuatan Penangkaran dapat di buat di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat dan daerah Sulawesi Selatan. Keberadaan penangkaran ini dapat menjadi solusi yang sangat baik dimana dalam penangkaran banyak program-program yang di lakukan seperti pengobatan dan perawatan Sanca bodo yang ditangkap akibat masuk dalam wilayah permukiman masyarakat, sanca bodo yang dapat di breedingkan, pemeliharaan anakan-anakan sanca bodo hasil perkembang biakan dan pelepasan-pelepasa sanca bodo pada Taman nasional yang tersebar di wilayah pada gambar 1. Peta Persebaran Sanca bodo (Python bivittatus)secara berkala sehingga dapat mempertahankan populasi sanca bodo di alam. Kemudian pembuatan lembaga khusus yaitu lembaga konservasi cepat tanggap sanca bodo yang bekerja sama dengan penangkatan sanca bodo. Diamana tugasnya adalah memberi edukasi pada msyarakat awam dan siap menghadapi secara 24 jam bila terdapdat Sanca bodo yang masuk dalam pemukiman sehingga menghindari pembunuhan pada hewan tersebut. Strategi ini pun harus di dukung juga oleh pemerintah khususnya aparat kepolisian dalam melakukan pengawasan khusus terhadap perjual-belian ular di Indonesia dan penutupan industri kulit sanca bodo secara illegal.


4 responses to “Strategi Konservasi Sanca Bodo”

  1. Aditya H.W. says:

    Strategi yang baik namun yang paling penting adalah pengubahan paradikma masyarakat tentang ular sanca bodo ini karena reputasinya ular khususnya phyton sangat buruk banyak informasi bahwa phyton dapat memakan manusia….

    • biaggihary says:

      Memang susah untuk mengubah reputasi sanca bodo ini dengan banyak informasi tentang ular piton memakan manusia sehingga hal yang harus di lakukan dalam jangka dekat ini adalah memberi edukasi tetang konservasi dan memberi pengertian mengapa ada orang yang di makan oleh piton… alasa konkritnya adalah habitat piton yang di ubah menjadi tempat pertanian atau pemukiman sehingga binatang-binatang makanan hewan ini menjadi sedikit dan intensitas manusia mengingkat hal ini bisa menjadi pemicu hal ini terjadi.

  2. Elsa oktaviani says:

    Sangat setuju lagi pula masih banyak msyarakat yang berfikiran buruk tentang binatang ini tidak memikirkan status konservasi dari hewan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php