EthaBlogs

Alfred Rusel Wallace

Posted: September 20th 2013

1. Sejarah Hidup
Alfred Russel Wallace O.M., F.R.S. dikenal sebagai seorang naturalis, penjelajah, pengembara, ahli antropologi dan ahli biologi dari Britania Raya. Lahir pada 8 Januari 1823, Llanbadoc, Britania Raya, Meninggalpada 7 November 1913, Broadstone, Dorset, Britania Raya, di makamkan Broadstone, Dorset, Britania Raya, Pasangan: Annie Mitten (m. 1866). Buku The Malay Archipelago, Anak Violet Wallace, Herbert Wallace, William Wallace adalah anak dari Alfred rusel wallace.
Setelah ayahnya meninggal pada tahun 1835, keluarga Wallace mengalami kebangkrutan. Hal tersebut memakasa Alfred kecil harus keluar dari pendidikan formalnya pada tahun 1836 dan ikut dengan kakaknya yang bernama John di London. Di Londonlah, Alfred kecil bertemu dengan tokoh idolanya, Robert Owen. Namun, Alfred tidak lama menetap di London, pada tahun 1837 itulah Alfred pergi ke Bedfordshire dan ikut bekerja pada kakak sulungnya, William. William bekerja di lembaga survei untuk mensurvei beberapa kabupaten di Inggris. Saat bekerja pada William inilah kemampuan observasi dan pengumpulan data secara detil berkembang.
Tahun 1843, Alfred ditunjuk menjadi drawing-master (jabatan pengajar) di Collegiate School di Leicester. Di tempat inilah, Alfred bertemu dengan sesama naturalis lainnya, Henry Walter Bates. Bates-lah yang membuat Alfred menjadi tertarik di ilmu pengetahuan alam. Setahun setelah pertemuannya dengan Bates, William, kakak sulung Alfred meninggal tiba-tiba. Hal tersebut membuat Alfred harus keluar dari pekerjaan sebagai pengajarnya di Leicester dan melanjutkan usaha William. Namun, hal tersebut tidaklah mengurangi kecintaan Alfred pada ilmu pengetahuan alam. Kecintaannya membuat Alfred dan Bates pergi ke Amerika Selatan untuk berekspedisi.
2. kisah perjalanannya ke asia tenggara dan khususnya di kepulauan Indonesia
Duapuluh delapan April seribu delapan ratus empat puluh delapan, menjadi hari bersejarah bagi Alfred. Alfred dan Bates berangkat menuju Para dan mulai ekspedisinya sebagai tim. Namun. pada Maret 1850, Alfred dan Bates berpisah sebagai tim dan berjalan sendiri-sendiri. Dua tahun setelah itu, yaitu pada tahun 1852, Alfred terserang penyakit dan mengharuskan dirinya untuk kembali ke Inggris. Saat perjalanan kembalinya ke Inggris dengan kapal, kapal Alfred mengalami musibah yang menyebabkan kapal terbakar. Terbakarnya kapal ikut membakar seluruh koleksi Alfred. Untungnya, seluruh kru dan penumpang selamat dengan menumpang sekoci.
Kejadian itu cukup memukul Alfred, namun Alfred dapat kembali bangkit lagi. Bahkan, selama di Inggris, (Alfred di Inggris selama 18 bulan) Alfred menulis dua buku mengenai ekspedisinya di Para. Buku itu berjudul Palm Trees of the Amazon and Their Uses dan A Narrative of Travels on the Amazon and Rio Negro. Ketika Alfred merasa tidak ada lagi hal untuk dilakukan, Alfred berusaha mencari destinasi ekspedisi selanjutnya. Dan pilihan tersebut jatuh pada Indonesia.
Sebelum masuk ke Indonesia, Alfred datang pertama kali ke Singapura pada bulan April 1854 dan menghabiskan delapan tahun menelusuri sekiar pula, menjelajahi menggunakan berbagai alat transportasi. Alfred tinggal di pantai, hidup sebagai orang pribumi, berlindung dalam rumah-rumah jerami dan memakan apapun yang dapat ditukar atau yang dibawa.
Alfred melakukan berbagai pemberhentian di pulau Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, Ternate, Batchian, Timor, Seram, dan gugus kepulauan yang disebut kepulauan Aru. Alfred berlayar melewati pulau komodo disamping penelitiannya tentang fauna. Sayangnya, Alfred tidak menyadari keberadaan komodo disana. Di beberapa tempat, seperti Sarawak dan Aru, Alfred menetap untuk beberapa bulan mengumpulkan dan mengolah spesimennya, mengobati kakinya yang terinfeksi, dan menyembuhkan diri dari wabah malaria yang menyerangnya, Disana Alfred mempelajari bahasa melayu untuk melakukan berbagai bisnis dalam mengkontrol para masyarakat lokal. Alfred memperkejakan salah satu pemuda dari Kalimantan bernama Ali untuk membantunya dalam mengumpulkan specimen.
Perjalanan Alfred dimulai dari Singapura 1854 dan berakhir pula di Singapura 1862. Ekspedisi Alfred selama delapan tahun ini berakhir dengan kembalinya Alfred ke Inggris pada tahun yang sama yaitu sekitar 1862, ekspedisi ini nantinya akan mengahasilkan sebuah buku yang sangat terkenal dan inspiratif, The Malay Archipelago.
3. Temuan nya yang paling signifikan
Selama ekspedisinya di Asia Tenggara pada tahun 1854-1862 pada usia 31-39, Alfred mengumpulkan spesimen untuk dijual dan juga mempelajari sejarah alam. Satu set 80 kerangka burung yang dikumpulkan di Indonesia dan telah didokumentasi di Cambridge University Museum of Zoology. Pengamatannya pada bidang zoologi dimulai dengan melintasi selat sempit di Nusantara sehingga beliau mengusulkan batas zoogeografis sekarang dikenal sebagai garis Wallace.
Garis Wallace adalah sebuah garis hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australia. Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies Asia; di timur kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Garis ini diberi nama sesuai nama penemunya, Alfred Russel Wallace, yang menyadari perbedaan yang jelas pada saat dia berkunjung ke Hindia Timur pada abad ke-19. Garis ini melalui Kepulauan Melayu, antara Borneo dan Sulawesi; dan antara Bali (di barat) dan Lombok (di timur). Adanya garis ini juga tercatat oleh Antonio Pigafetta tentang perbedaan biologis antara Filipina dan Kepulauan Maluku, tercatat dalam perjalanan Ferdinand Magellan pada 1521. Garis ini lalu diperbaiki dan digeser ke Timur (daratan pulau Sulawesi) oleh Weber. Batas penyebaran flora dan fauna Asia lalu ditentukan secara berbeda-beda, berdasarkan tipe-tipe flora dan fauna. Garis ini lalu dinamakan “Wallace-Weber”.
Alfred berhasil mengumpulkan lebih dari 126.000 spesimen di Kepulauan Melayu dimana lebih dari 80.000 termasuk jenis kumbang. Beberapa ribu dari mereka mewakili spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Salah satu deskripsi spesies yang terkenal selama perjalanan beliau adalah katak pohon meluncur yang nama ilmiahnya Rhacophorus nigropalmatus yang lebih dikenal sebagai katak Alfred terbang. Sementara ia menjelajahi nusantara, ia menyempurnakan pemikirannya tentang evolusi dan memiliki wawasan yang terkenal pada seleksi alam. Pada 1858, ia menerbitkan sebuah artikel yang secara bersamaan dengan teori Darwin yang menguraikan teorinya yang mematahkan teori Darwin pada tahun yang sama.
Banyak penelitian dan petualangan yang dilakukan Beliau yang pada ada akhirnya perjalanannya tersebut ke Asia Tenggara diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1869 yang berjudul “The Malay Archipelago” yang menjadi salah satu buku yang paling populer dari eksplorasi ilmiahnya dari abad ke-19. Hal itu dipuji oleh para ilmuwan, seperti Darwin, Charles Lyell, dan non-ilmuwan lainnya, seperti novelis Joseph Conrad yang menyebutnya buku beliau sebagai “pendamping samping tempat tidur favoritnya” dan digunakan sebagai sumber informasi untuk beberapa novelnya, khususnya judul bukunya yang berjudul “Lord Jim“.
Salah satu penemuan terbesar lainnya adalah Megachile pluto yang merupakan sejenis lebah yang sangat besar yang terdapat di Indonesia. Lebah betinanya dapat mencapai 39mm dengan panjang lebar sayap sebesar 63 mm. Sementara pejantannya hanya tumbuh sekitar 23 mm. Lebah jenis ini dianggap sebagai lebah terbesar di dunia dan disebut juga sebagai Alfred’s Giant Bee. Megachile pluto pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1859 yang menjadikannya lebah terbesar di dunia selama ini.


One response to “Alfred Rusel Wallace”

  1. debbyrakhmawati says:

    lebih menarik kalau disertai gambar nih (:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php