konservasi pangan

Lamalera dan Ikan Paus

Posted: June 17th 2013

Lamalera merupakan salah satu daerah yang terletak di pulau lembata, Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar masyarakat Lamalera bermata pencaharian sebagai nelayan. Berbicara tentang Lamalera rasanya kurang afdol kalau melewatkan salah satu ritual unik yang ada di daerah tersebut. Ya, di Lamalera ada ritual penangkapan ikan paus. Ritual penangkapan ikan paus ini tergabung dalam Musim Tangkap Ikan yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai Oktober. Musim Tangkap Ikan ini akan didahului dengan Perayaan Ekaristi dan upacara adat yang dilakukan pada tanggal 1 Mei. Setelah itu, masih pada tanggal yang sama, dua buah perahu milik Tuan Tanah lebih dahulu turun ke laut sebagai pembuka jalan untuk nelayan yang lain.

Pada tanggal 2 Mei, perahu dari nelayan yang lain baru ikut turun ke laut untuk mencari ikan. Dalam satu perahu yang dalam bahasa daerah disebut Pledang, terdiri dari seorang juru tikam atau Lamafa dan seorang juru mudi. Lamafa haruslah seseorang yang lincah dan lihai sehingga tidak terjadi kecelakaan saat menombak ikan paus. Juru mudi adalah orang yang bertugas mengendalikan perahu sehingga ketika ikan paus ditombak, perahu yang ditumpangi tidak mudah tergoncang oleh ikan tersebut. Perlu diketahui bahwa semua orang yang naik ke perahu khusus untuk menangkap ikan paus adalah orang-orang yang bersih lahir dan batin. Artinya merupakan orang yang baik dan jujur, serta tidak sedang bermasalah dengan sanak saudara. Oleh karena itu, biasanya para nelayan yang ingin ikut menangkap ikan paus sadar diri apakah mereka pantas atau tidak untuk ikut.

Kedatangan atau munculnya ikan paus, hanya ditandai dari semburannya. Masyarakat Lamalera sudah mengetahui semburan khas dari ikan paus. Ketika satu ekor ikan paus ditombak, maka akan muncul ikan paus lain berkerumun disekitar lokasi tersebut. Namun, para nelayan tidak akan menombak semua ikan paus yang ada. Biasanya mereka hanya menangkap satu ikan paus dalam satu kesempatan. Hal ini dikarenakan goncangan dari ikan paus yang ditombak sangat kuat, sehingga apabila ada beberapa ikan yang ditombak maka kemungkinan kapal yang ditombak akan terbalik. Pernah ada peristiwa dimana para nelayan yang menangkap ikan paus terbawa sampai ke perbatasan perairan Australia akibat berontakan ikan paus.

Penangkapan ikan paus di Lamalera ini sudah menjadi budaya bagi masyarakatnya. Ikan paus dianggap sebagai berkah yang diberikan Tuhan. Penangkapan ikan paus di Lamalera ini merupakan salah satu kearifan lokal dalam konservasi ikan paus. Banyak turis lokal maupun asing yang datang ke Lamalera untuk menyaksikan proses penangkapan ikan paus. Berdasarkan surat kabar Pos Kupang Edisi 4 Juni 2013, dikatakan bahwa ada penolakan dari berbagai pihak, terkait dengan penangkapan ikan paus di Lamalera, dan akan dilakukan konservasi dari Pemerintah Pusat. Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata menyatakan penolakan terhadap rencana konservasi dari Pemerintah Pusat.

Penolakan pemerintah terhadap rencana konservasi Ikan Paus di Lamalera itu berdasarkan kajian pemerintah. Pertama, masyarakat Lamalera dalam bagian kebudayaan penangkapan IkanĀ  Paus itu sudah memiliki nilai konservasi. Karena Ikan-ikan betina yang beranak dalam perutnya, tidak boleh ditikam. Pertimbangan kedua, zonanisai laut demi kepentingan konservasi tidak pas dengan Ikan Paus di Lamalera. Zonanisasi perairan Lamalera untuk mengkonservasi Ikan Paus tidak pas, karena Ikan-ikan Paus Lamalera juga hanya menyinggahi wilayah itu pada musim-musim tertentu saja. Dari sisi intensitas penangkapan Ikan Paus, masyarakat Lamalera tidak setiap saat menangkap Ikan Paus, tetapi pada musimnya. Selama musim itu pun, belum tentu ada Ikan Paus yang bisa ditangkap.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php