konservasi pangan

Green Fluorescent Protein (GFP)

Posted: May 27th 2013

Pernahkah Anda membayangkan jika suatu saat tanaman di depan rumah anda jika malah hari mengeluarkan cahaya sehingga dapat menghemat biaya pengeluaran listrik Anda?

Pernahkah membayangkan jika tanaman peneduh jalan bisa berperan ganda? Siang sebagai peneduh dan malam hari sebagai penerangan jalan?

Hal tersebut mungkin terjadi karena adanya green flurescent protein yang dikode oleh fragmen DNA dari ubur-ubur, bakteri, jamur, ikan, serangga, alga, dan cumi-cumi yang memancarkan cahaya. Organisme bercahaya sebagai sumber lux gen ini telah ditemukan di laut, air tawar, dan habitat darat, dengan bakteri yang paling luas dan berlimpah organisme bercahaya di alam. Pancaran cahaya yang terlihat dalam organisme hidup tersebut disebabkan oleh oksidasi senyawa organik (luciferins) dengan katalis enzim (luciferase).

Reaksi luminescence bakteri, yang dikatalisis oleh luciferase, melibatkan oksidasi aldehida alifatik rantai panjang dan menggunakan flavin mononukleotida (FMNH2) dengan pembebasan kelebihan energi bebas dalam bentuk cahaya biru-hijau dengan panjang gelombang 490nm:

FMNH2 + RCHO + O2 —-> FMN + RCOOH + H2O + cahaya (490nm)

Telah ditemukan bahwa reaksi memancarkan cahaya cukup berbeda untuk organisme yang berbeda, dengan satu-satunya komponen umum digunakan adalah molekul oksigen. Oleh karena itu, perbedaan yang signifikan telah ditemukan antara struktur dari luciferases dan gen yang sesuai dari satu organisme bercahaya dengan organisme bercahaya yang lain. Pada tanaman Gen ini dapat menyebabkan seluruh sitoplasma seluler sel tanaman akan memancarkan protein fluoresensi hijau.

Protein fluorescent non-spesifik (atau varian chimera) diujikan pada kultur jaringan tanaman, yang menyebabkan seluruh sitoplasma seluler akhirnya akan memancarkan fluoresensi hijau protein dan didistribusikan ke seluruh sel yang mengalami propagasi. Hasil ini dilakukan dengan cara menginduksi lux gen ke bakteri penginfeksi tanaman yaitu Agrobacterium yang kemudian bakteri ini diinfeksikan ke tanaman sehingga diperoleh sel tanaman yang mengandung gen lux ini. Hasil dari sel tanaman yang telah terinsert gen tersebut yang kemudian dilakukan kultur jaringan agar terbentuk tanaman baru yang memancarkan cahaya.

Secara teori terlihat mudah, namun untuk melakukan ini akan membutuhkan waktu lama. Mulai dari isolasi gen pengekspresi cahaya dari organisme sumber, menginsertkan ke agrobacterium, memperbanyak agrobacterium yang terinfeksi, menginfeksikan agrobacterium ke tanaman, memilih sel yang telah terinfeksi untuk di kultur jaringan-kan, lalu klimatisasi tanaman dan identifikasi akibat yang disebabkan tanaman yang terkena oleh gen pemancar cahaya tersebut. Untuk itu penelitian ini akan memakan waktu yang lama agar terbentuk suatu spesies yang dapat memancarkan cahaya.

Dari belajar teknologi molekuler dapat dilakukan metode yang cepat dan efisien sehingga waktu untuk menciptakan spesies baru ini dapat dipersingkat. Dengan berkurangnya pemakaian listrik untuk penerangan akan berakibat pengurangan pemakaian bahan bakar minyak dan batu bara sehingga pemanasan global dapat berkurang (diolah dari berbagai sumber).-IGF.


4 responses to “Green Fluorescent Protein (GFP)”

  1. produk tanaman yang berfluorescent udah ada van?

  2. gaviota says:

    Oh iya udah ada sebenernya yan. Tapi belum publish masal sih. -_-

  3. Redita Tonapa says:

    wah apik2. itu untuk tanaman tertentu ato semua tanaman bisa van ??

  4. Benedictus Raymond says:

    salah satu cara buat penghematan energi. penelitian yang patut di acungi jempol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php