konservasi pangan

Indonesia: Tanah Surga yang Dilanda Krisis Pangan

Posted: May 21st 2013

“Orang bilang tanah kita tanah surga

tongkat kayu dan batu jadi tanaman..”

Teman-teman pasti tidak asing membaca kalimat di atas. Kalimat tersebut adalah penggalan dari lirik lagu Kolam Susu yang dipopulerkan oleh Koes Plus. Lagu ini menggambarkan kekayaan alam Indonesia yang begitu melimpah sehingga masyarakat Indonesia hidup dengan tentram dan damai tanpa kekurangan suatu apapun. Sumber daya alam yang melimpah di negara kita tercinta ini diperoleh karena letak wilayah yang strategis, dengan iklim tropis yang memungkinkan radiasi matahari diterima sepanjang tahun. Suhu di Indonesia yang sangat optimal, baik bagi pertumbuhan tanaman. Hampir segala jenis tanaman yang berada di belahan dunia lain, dapat tumbuh di tanah Indonesia.

Namun, pengelolaan sumber daya alam Indonesia saat ini mengalami krisis, khususnya pada bidang pertanian pangan. Produktivitas pertanian pangan Indonesia menjadi rendah akibat sempitnya lahan untuk pertanian tanaman pangan. Hal ini disebabkan karena konversi lahan sawah untuk penggunaan lain dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Penurunan terjadi dengan kecepatan 110 ribu ha/tahun, dan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan hingga 2017, luas konversi lahan yang telah direncanakan dalam tata ruang seluruh kabupaten di Indonesia diprediksikan mencapai 3 juta ha lahan produktif. Total lahan sawah pada tahun 2005 adalah 7.7 juta ha, sehingga luas lahan sawah perkapita penduduk Indonesia hanya 340 m2. Luas pengusahaan lahan per keluarga tani sangat sempit (rata-rata 0.3 ha di Pulau Jawa, dan 1.1 ha di Pulau Sumatra) dan fragmentasi lahan pertanian terus terjadi karena pola pewarisan. Di sisi lain daya dukung lahan pertanian menurun karena terjadinya degradasi lahan, alih fungsi sumberdaya air dan perubahan ekologi termasuk bencana alam.

Bappenas (Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional), melaporkan defisit neraca perdagangan komoditas pangan Indonesia pada tahun 2006 sebesar 28,03 juta dolar AS. Angka tersebut membengkak menjadi 5,509 miliar dolar pada tahun 2011, atau naik 200 kali lipat hanya dalam waktu lima tahun. Tiap tahun negara ini mengimpor 1,58 juta ton garam dan 4,73 juta ton singkong. Menurut catatan BPS (Badan Pusat Statistik), pada semester pertama 2011, impor pangan negara kita mencapai 6,35 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 57 triliun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 menunjukkan, impor beras Indonesia dari sejumlah negara mencapai 2,75 juta ton dengan nilai US$1,5 miliar. Vietnam menjadi negara eksportir terbesar bagi pasokan beras di Tanah Air dengan jumlah mencapai 1,78 juta ton. Sementara sumber dari Pelindo II Cabang Pelabuhan Tanjung Priok menyampaikan impor pangan selama Januari-Maret 2012 melalui Pelabuhan Tanjung Priok : Beras sebanyak 330.539 Ton, Jagung 33.700 Ton, Tapioka 7.422 Ton, Gandum 546.932 Ton,  Garam 25.400 Ton.

Hal ini seharusnya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dengan membuka lahan baru pertanian. Berdasarkan UU No 41 Tahun 2009, kedaulatan pangan dirumuskan sebagai “hak negara dan bangsa secara mandiri dapat menentukan kebijakan pangannya, yang menjamin hak atas pangan bagi rakyatnya, serta memberikan hak bagi masyarakatnya untuk menentukan system pertanian sesuai dengan potensi sumber daya lokal”. Dengan sumber daya yang dimiliki seharusnya bukan merupakan hal yang sulit bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas pangan. Indonesia memerlukan beberapa tahun untuk menata sektor pertanian menjadi lebih baik. Apalah arti kekayaan alam yang Indonesia miliki kalau tidak dikelola dengan baik. Inilah tugas dari kita sebagai orang biologi untuk membantu meningkatkan produksi dan kualitas pangan Indonesia. Merdekaaa


One response to “Indonesia: Tanah Surga yang Dilanda Krisis Pangan”

  1. Redita says:

    Tunjukkan identitas bangsa dengan mengonsumsi pangan lokal.
    Demi kesejahteraan petani dan pengurangan impor negara.
    Go pangan lokal!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php