Konservasi tanaman langka

Tanaman Berangan (Castanopsis argentea)

Klasifikasi dan Bioekologi Tanaman Berangan (Castanopsis argentea)
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo : Fagales
Famili : Fagaceae
Genus : Castanopsis

Tanaman Berangan (Castanopsis argentea) sering juga dikenal sebagai rambutan hutan, namun secara morfologi memiliki karakteristik yang berbeda dari aspek teksturkulit buah yang lebih keras, berduri keras dan bijinya yang dapat diolah menjadi produk pangan. Pohon berangan memiliki tinggi 35 hingga 40 meter, serta memiliki kulit pohon yang berwarna hitam, kasar dan pecah-pecah dengan permukaan yang tidak rata. Daun dari pohon berangan memiliki daun tunggal berseling, bentuk yang lancip memanjang (lanset) dengan ukuran 13 hingga 16 cm X 5-7 cm. Permukaan daun berangan berlilin dengan bagian bawah daun yang berwarna abu-abu keperakan ditutupi bulu-bulu yang hampir menyerupai sisik yang lebat.

Tanaman berangan dapat dijumpai pada hutan primer dan sekunder tua, pada tanah kering yag subur dan dominan terdapat di Pulau Jawa, kecuali Jawa Timur. Penyebaran tanaman berangan selain di Indonesia meliputi India, China, Korea, Jepang, Thailand dan Malaysia. Status konservasi tanaman Berangan menurut IUCN Redlist adalah “Decreasing” atau mengalami penurunan populasi.

Kegunaan tanaman berangan adalah kayu dari batang pohon ini digunakan untuk pembangunan perumahan dan jembatan, papan, tiang dan rusuk. Kulit kayu dan kulit buahnya sering digunakan sebagai penghitam rotan. Buah dari tanaman ini diperdagangkan karena dapat digunakan sebagai bahan pangan dengan cara direbus, dipanggang dan digunakan sebagai campuran dalam pembuatan kue dan coklat.

Banyaknya manfaat dari tanaman berangan menyebabkan tanaman ini sering mengalami masalah berupa adanya eksploitasi tanaman ini. Banyaknya kebutuhan masyarakat dan adanya tuntutan agar terpenuhinya kebutuhan mereka, menyebabkan tanaman ini menjadi sasaran pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat umum. Hal ini yang menyebabkan terjadinya penurunan jumlah populasi tanaman berangan yang dapat mengarahkan tanaman ini menuju kelangkaan yang serius.

Upaya yang dapat dilakukan dalam menghadapi permasalahan langkanya dan penurunan populasi tanaman berangan adalah diperlukan adanya proteksi habitat dari tanaman berangan, diperlukan adanya restorasi habitat dan penanaman kembali tanaman berangan yang telah ditebang dan diperlukannya adanya konservasi ex-situ.

Konservasi ex-situ dilakukan dengan pemeliharaan tanaman di luar habitat aslinya. Hal ini biasanya menjadi tindakan yang cukup sulit karena tanaman-tanaman memerlukan adaya adaptasi terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuhnya. Namun, pelestarian ex-situ dapat dilakukan sebagai upaya rehabilitasi, penangkaran dan pembiakan tanaman langka. Misalnya Kebun botani atau kebun raya.

Proteksi habitat dilakukan dengan diperlukannya adanya peraturan khusus dan mengikat yang mengatur adanya akses terhadap habitat tempat hidup berangan, dimana pelanggaran aturan akan memberikan sanksi dan efek jera terhadap pelaku. Pembatasan akses terhadap habitat tanaman Berangan sekaligus melindungi tanaman ini dari pengaruh tangan-tangan jahat yang dapat mengganggu dan merusak kelestarian dan eksistensi dari tanaman ini.

Pemenuhan kebutuhan masyarakat menjadi hal yang penting, namun penggunaan sumber daya alam perlu disertai dengan adanya rasa tanggung jawab dan jiwa konservasi terhadap alam sebagai penyedia sumber daya. Penggunaan sumber daya alam dalam pemenuhan kebutuhan yang diimbangi dengan penanaman kembali tanaman yang telah digunakan dapat melindungi tanaman dari kepunahan untuk tetap menjaga eksistensinya. Apabila penggunaan tanaman berangan telah membludak, maka diperlukan alternatif lain sebagai pengganti tanaman berangan. Misalnya, penggunaan kayu tanaman berangan sebagai pembangun jembatan dapat diganti dengan penggunaan kayu tanaman lain atau tanaman bambu atau tanaman yang dapat lebih muda dibudidayakan. Penggunaan biji buah berangan sebagai bahan pangan dapat juga diminimalkan karena masih banyak tanaman Indonesia yang dapat digunakan sebagai bahan pangan dengan kandungan gizi dan antioksidan yang tinggi, berkhasiat, namun dapat dengan mudah dibudidayakan.

Sekian penjelasan mengenai tanaman berangan (Castanopsis argentea) beserta dengan masalah konservasi dan penanggulangannya.