ayu shanty hapsary

Perkembangan Penangkapan Komoditas ‘Eksis’ Perairan Indonesia

Posted: April 4th 2016

Potensi perikanan laut Indonesia yang terdiri atas potensi perikanan pelagis dan demersal tersebar pada hampir semua bagian perairan laut Indonesia seperti pada perairan laut teritorial, nusantara dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Ikan Pelagis adalah kelompok Ikan yang berada pada lapisan permukaan hingga kolom air. Ciri utama ikan pelagis, adalah, dalam beraktivitas selalu membentuk gerombolan (schooling) dan melakukan migrasi untuk berbagai kebutuhan hidupnya (Burhanuddin, 1984).

Ikan tuna (Thunnus sp.) merupakan ikan pelagis besar dan bernilai ekonomis tinggi dan tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Menurut Saanin (1968), Ikan tuna termasuk dalam keluargascombroidae, tubuhnya berbentuk cerutu, memiliki dua sirip punggung, memiliki jari-jari sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Ikan tuna tertutup oleh sisik kecil, berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian aas tubuhnya, adapula yang memiliki sirip tambahan yang berwarna kuning cerah (yellowfin)

Gambar 1. Albacore dan Yellowfin (Kiri ke Kanan)

Gambar 1. Albacore dan Yellowfin (Kiri ke Kanan) 

Gambar 2. Tuna Big Eye

Gambar 2. Tuna Big Eye

Daerah Penyebaran Ikan Tuna.

Habitat ikan tuna berada di lapisan atas dan tengah dari laut sampai kedalaman 1600 kaki atau lebih 500m. Adapun daerah penyebaran ikan tuna dilaut meliputi perairan Samudera Indonesia, Samudera Pasifik Tengah, hampir diseluruh perairan Indonesia terutama di perairan terbuka, termasuk bagian barat Sumatera, Selatan Jawa, Timur Sumatera, Laut Natuna, Selat Makassar, Laut Flores, Laut Sulawesi, dan Perairan Maluku.

Posisi perairan Indonesia yang terletak di antara Samudera Hindia dan Pasifik merupakan tempat perlintasan ikan tuna dalam pengembaraan jarak jauhnya. Hingga saat ini tuna masih dihasilkan dari kegiatan penangkapan, bukan hasil budi daya. Keberhasilan operasi penangkapan sangat ditentukan oleh keterampilan mengenali pola tingkah laku ikan tuna yang berkaitan dengan kebiasaan makan, suhu air, arus air, dan musim kawin

Potensi Komoditas Ikan Tuna .

Ikan tuna merupakan ikan konsumsi yang mempunyai nilai komersial yang tinggi, karena ikan tuna merupakan jenis ikan dengan kandungan protein yang sangat tinggi namun memiliki kandungan lemak yang rendah. Tuna mengandung protein berkisar antara 22,6 – 26,2 g/100 g daging. Lemak antr 0,2 – 2,7 g/100 g daging. Selain itu tuna mengandung mineral kalsium, fosfor, besi dan sodium, vitamin A, dan vitamin B Dalam kelompok ikan tuna, bagian yang dapat dimakan berkisar antara 50 -60 %. Kadar protein daging putih tuna lebih tinggi daripada daging merahnya. Namun sebaliknya, ikan tuna memiliki kadar lemak daging yang lebih rendah dari daging merahnya.

Nilai gizi tuna yang sangat baik, kandungan omega-3-nya membuat tuna mempunyai seribu satu manfaat bagi kesehatan tubuh. Dilihat dari komposisi gizinya, tuna mempunyai nilai gizi yang sangat luar biasa. Kadar protein pada ikan tuna hampir dua kali kadar protein pada telur yang selama ini dikenal sebagai sumber protein utama.. Ikan tuna juga kaya berbagai mineral penting yang esensial bagi tubuh. Kandungan iodium pada ikan tuna mencapai 28 kali kandungan iodium pada ikan air tawar.

Selain manfaat komersial, ikan tuna juga memiliki manfaat non komersial diantaranya yaitu manfaat ekologi. Ikan tuna memiliki peranan penting dalam rantai makanan, terutama karena ikan ini suka bermigrasi secara kelompok sehingga momen ini digunakan oleh pemangsa lain untuk mendapatkan makanan dan bertahan hidup.

Gambar 3. Aktivitas pemanenan ikan tuna

Gambar 3. Aktivitas pemanenan ikan tuna

Permasalahan Terhadap Komoditas Ikan Tuna yang Dihadapi ? 

Berdasarkan laporan FAO Year Book 2009 dalam Mahyuddin (2012), saat ini Indonesia telah menjadi negara produsen perikanan dunia disamping China, Peru, USA dan beberapa negara kelautan lainnya. Peranan industri perikanan tangkap dalam struktur ekonomi terlacak melalui sumbangan industri perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Tercatat kontribusi PDB perikanan terhadap PDB nasional tanpa minyak dan gas bumi (migas) tahun 2010 hanya 3,4 %, perkiraan tahun 2011 adalah 3,5 % dan 4,5 % target tahun 2012. Produksi perikanan tangkap tahun 2010 mencapai 5,38 juta ton, perkiraan tahun 2011 mencapai 5,41 juta ton, dan 5,44 juta ton target tahun 2012.

Konvensi PBB tentang hukum Laut 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea/ UNCLOSbanyak memberikan arahan mengenai bagaimana sebaiknya lautan dikelola. Salah satu klausul dalam upaya pemanfaatan sumberdaya hayati, negara pantai memiliki kewajiban hukum untuk menjamin bahwa sumberdaya hayati di ZEE-nya dilindungi dari kegiatan eksploitasi berlebih, akan tetapi tetap dapat dioptimalkan pemanfaatannya. Dalam rangka menciptakan kelestarian sumberdaya ikan di zona ekonomi ekslusif, maka setiap negara pantai perlu menetapkan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) yang dihasilkan dari kajian ilmiah terbaik.

Penyelesaian Masalah yang Ditempuh.

Dengan banyaknya permasalahan penangkapan yang sudah terindikasi over fishing maka dibuat beberapa kesepakatan Internasional yang melahirkan aturan-aturan pembatas dalam penangkapan laut lepas yang tertuang dalam UNCLOS 1982. Setiap aturan yang dimuat memberikan arahan dalam pengelolaan penangkapan Tuna di laut lepas dengan membatasi kegiatan penangkapan yang diiringi dengan kegiatan konservasi biota tangkapan agar terjamin jumlah ikan sasaran penangkapan di laut lepas.

Secara garis besar, aturan yang dibuat memiliki nilai positif dalam menjamin keberlanjutan sumberdaya yang dieksploitasi. Tetapi, di sisi lain untuk negara berkembang seperti Indonesia belum dapat secara penuh mengikuti aturan yang berlaku karena masih terkendala dengan sumberdaya manusia dan teknologi yang masih minim. Untuk itu dalam beberapa hal seperti pembagian persentase jumlah tangkapan yang diperbolehkan harusnya Indonesia memiliki nilai tawar yang tinggi karena Indonesia merupakan produsen tuna terbesar di dunia. Banyak hal yang bisa dilakukan Indonesia untuk menaikkan nilai tawar secara diplomatis dengan melakukan konservasi terhadap lingkungan perairan jalur migrasi Tuna dan meningkatkan teknologi kapal penangkapan Tuna di laut lepas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin. 1984.Suku Scombridae: Tinjauan Mengenai Ikan Tuna, Cakalang, dan Tongkol . Lembaga Oseanologi Nasional LIPI, Jakarta.

Habibi, dkk. 2011. Perikanan Tuna-Panduan Penangkapan Dan Penanganan. Seri Panduan Perikanan Skala Kecil ISBN 978-979-1461-10-8. WWF-Indonesia. Indonesia.

Alimah, K. 2006. Sebaran Daerah Penangkapan Ikan Tuna Dengan Alat Tangkap longline di Perairan Indonesia Berdasarkan Data Hasil Tangkapan PT. Perikanan Samodra Besar Cabang Benoa-Bali. Skripsi. FPIK-IPB. Bogor.

Da’i, K., dkk. 2012. Daerah Penangkapan Tuna hand liners Yang Mendaratkan Tangkapannya Di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap Vol. 1 No. 2, hal: 33-37.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php