ayu shanty hapsary

Bagaimana Iklim Mampu Menggeser Pesut Kalimantan ?

Posted: September 9th 2015

Wilayah Indonesia yang masuk pada kelompok iklim hutan hujan tropis salah satunya pulau Kalimatan memiliki banyak keanekaragaman hayati yang secara endemik mendiami pulau Kalimantan dan sangat dipengaruhi oleh iklim. Oleh karenanya banyak spesies makhluk hidup yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, maka dikhawatirkan spesies yang ada akan terganggu dan mengalami kepunahan.

Salah satu satwa yang ada yaitu Pesut Kalimantan (Orcaella brevirostris) dianggap sebagai satwa yang paling terancam punah. IUCN (2002) telah memberikan status Critically Endangared (kritis terancam punah) pada jenis ini, sementara CITES telah menempatkannya pada Appendix 1 yang berarti jenis ini tidak diperkenankan untuk diperdagangkan. Pemerintah Republik Indonesia sendiri telah memberikan pengakuan atas kelangkaan dan ancaman kepunahan terhadap jenis ini dengan menetapkannya sebagai jenis satwa liar yang nyata terhadap pelestarian pesut yang habitatnya di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Disamping itu berbagai permasalahan yang menjadi ancaman bagi pesut seperti pendangkalan danau-danau Mahakam, pencemaran air, lalu-lintas air yang ramai, penurunan jumlah makanan dan penggunaan jaring (rengge).

Gambar 1. Pesut Kalimantan

Gambar 1. Pesut Kalimantan

Keberadaan pesut yang dari tahun 1975 memiliki 1000 ekor populasi dan sampai saat ini diperkirakan jumlah pesut tinggal 50 ekor di Sungai Mahakam. Pesut yang jumlahnya semakin sedikit diperkirakan ada hubungannya dengan perubahan iklim yang dapat mengganggu habitat pesut tersebut. Dan saat ini Pesut telah dilindungi undang-undang melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa liar.

Pesut termasuk golongan lumba-lumba oleh karena itu walaupun hidup di air, pesut bukanlah ikan melainkan mamalia. Pesut (Orcaela brevirostris) merupakan salah satu mamalia yang hidup di dalam air, bernapas menggunakan paru-paru dan berkembang biak dengan cara melahirkan.Pesut dewasa memiliki berat rata-rata antara 90-200 kg dengan panjang antara 2-2,7 meter dan berwarna abu-abu.

Secara umum, dunia mengenal pesut dengan nama Irrawaddy Dolphin. Nama itu merujuk pada salah satu sub populasi yang terdapat di sungai Irrawaddy/Ayeryawaddy di Myanmar, Asia tenggara.

Berdasarkan Red Data Book IUCN (1991), jenis pesut diklasifikasikan sebagai berikut:

Kelas : Mamalia

Ordo : Cetacea

Sub Ordo : Odontoceti

Super famili : Delphoinidae

Famili : Delphinidae

Sub famili : Orcaellinae

Genus : Orcaella

Spesies : Orcaella bervirostris.

Jenis pesut yang hidup di air tawar, tergolong tidak terlalu aktif dibanding dengan kebanyakan jenis lumba-lumba lainnya. Akan tetapi, pada keadaan tertentu terkadang melakukan lompatan-lompatan. Pesut umumnya bernafas tiga kali dalam interval berdekatan, kemudian menyelam selama satu sampai dua menit. Waktu menyelam akan lebih lama bila menyendiri atau mengalami ketakutan, namun maksimal 12 menit. Laju berenang maksimal 15 km/jam (normalnya 3-4 km/jam), berkelompok dalam jumlah kecil maksimal tujuh ekor dengan anak,namun pernah ditemukan 8-10 ekor dalam satu kelompok. Sebagian besar waktu bagi pesut, digunakan untuk makan dan mencari makan.

Pesut adalah mamalia yang sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan habitat hidupnya. Sedikit saja pesut mengalami gangguan di habitatnya, akan membuatnya stress dan berakibat buruk pada pesut. Perubahan pembentuk iklim yang banyak dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan seperti kerusakan hutan akan berdampak negative pada perubahan di lingkungan habitat pesut Mahakam. Hal itu sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan pesut Mahakam yang sangat sensitive terhadap perubahan itu.

Selama musim kemarau, sebagaimana terjadi pada musim kemarau tahun 1995, pesut banyak berkumpul dan bergerak di dalam sungai Mahakam, sungai Pela, sungai Melintang dan muara-muaranya. Hal ini terjadi karena pada saat air surut musim kemarau, danau-danau menjadi dangkal (kedalaman 1,-2,5 meter) dengan vegetasi rumput berakar di dasar dan rumput terapung yang rapat di sebagian besar danau. Bahkan reservat-reservat ikan seperti ini selain tidak memberikan ruang gerak bagi pesut, juga derajat keasaman yang rendah, sementara siang harinya menjadi panas.

Sebaliknya sungai Mahakam dengan kedalaman diatas 15 meter, sungai Pela dengan kedalaman 8,0-9,5 meter dan sungai Melitang dengan kedalaman 7,0-8,0 meter selama musim kemarau merupakan tempat yang layak bagi pesut. Disamping kedalamanya, sungai-sungai tersebut pada musim kemarau banyak dihuni ikan-ikan yang bermigrasi dari parairan rawa dan danau yang sebagian besar mengalami penyusutan dan pengeringan.

Jumlah pesut dari tahun ke tahun semakin berkurang, hal dapat dijelaskan dengan melihat tabel dibawah ini.

Tabel 1. Populasi pesut Mahakam dari tahun 1975-2000.

TAHUN POPULASI PENURUNAN PROSENTASE
1975 1000 0 0.00
1980 800 200 21.05
1985 600 200 21.05
1990 400 200 21.05
1995 100 300 31.58
2000 50 50 5.26
2950 950 100.00

Sumber : BKSDA Kaltim:2000

Sekarang populasi pesut di sepanjang alur utama Sungai Mahakam dianggap tersebar mulai Muara Kaman, di hilir hingga ke hulu sejauh Riam Udang di dekat Long Bagun. Selai di alur utama Sungai Mahakam tersebut , sebaran pesut juga meliputi anak-anak sungai dan danau-danau Mahakam. Anak-anak sungai yang tercatat menjadi daerah sebaran pesut adalah Sungai Kedang Rantau, S. Kedang Kepala, S. Belayan, S Kedang Pahu, dan S. Ratah. Danau-danau yang saat ini menjadi daerah persebaran pesut ialah Danau Semayang dan Danau Melintang. Untuk danau jempang, Yayasan Konservasi RASI( 2005 ) memperkirakan bahwa sekarang tidak ada lagi pesut yang hidup di perairan ini.


2 responses to “Bagaimana Iklim Mampu Menggeser Pesut Kalimantan ?”

  1. Natalia Rizki Prabaningtyas says:

    informasi yang sangat bermanfaat. data penurunan populasi cukup drastis dari tahun ke tahun berikutnya. sudah adakah langkah konservasi khusus yang dilakukan pemerintah setempat asli atau BKSDA dalam memelihara keberadaan ikan pesut ini? 😀

  2. valleryathalia says:

    wah.. hewan jenis ini ternyata sangat sensitif terhadap perubahan iklim! jadi bisa jadi indikator ya. harapannya manusia dapat mengontrol perubahan iklim ekstrim yang sekarang sedang hangat diperbincangkan, agar pesut ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php