Mae's Blog

Kenalilah aku, Hylobates albibarbis dari Borneo

Posted: September 4th 2015

hylobates_albibarbis

 

(Sumber: http://www.filin.vn.ua/mammalia/primates/hylobatidae.html)

 

Hola pembaca! Indonesia memiliki banyak pulau dan keanekargaman hayati yang melimpah. Salah satu pulau yang kaya dengan keanekaragaman hayatinya adalah Borneo Island atau Pulau Kalimantan. Pulau ini tepat dengan garis khatulistiwa sehingga tidak salah lagi pasti memiliki banyak keanekaragaman. Mendengar Pulau Kalimantan, saya langsung teringat akan kampung halaman saya di Kalimantan Tengah hehehe. Tapi dilain sisi, pulau Kalimantan sangat dikenal dengan Orangutan Kalimantan. Tapi, tahukah anda di Kalimantan juga memiliki primata lainnya yaitu Owa Kalaweit atau dikenal dengan Hylobates albibarbis. Hylobates albibarbis didalam IUCN (International Union for Conservation of Nature) termasuk dalam “ENDANGERED”.

            Hylobates albibarbis dapat dijumpai di hutan yang ada di Kalimantan, dapat juga dijumpai disekitar sungai. Sejalan dengan konversi hutan, populasi dari Hylobates albibarbis mengalami penurunan, menurut Suyanti dkk (2009) dalam penelitiannya yang dilakukan di Kalimantan Tengah Hylobates albibarbis umumnya hidup secara berkelompok terdiri tiga hingga empat individu. Sama seperti manusia yang bekerja pada siang hari, Hylobates albibarbis merupakan satwa diurnal, pada sinag hari mencari makan, bermain ataupun beristirahat di pohon yang rindang. Menurut Cheyne dkk (2007), hidup dalam berkelompok membantu satu dengan yang lainnya untuk menghindari adanya ancaman dari predator, Hylobates albibarbis akan mengeluarkan suaranya apabila dalam keadaan bahaya. Suara tersebut akan direspon dan kemudian Hylobates albibarbis akan bersembunyi dari bahaya.

591lg

           (Photo credit: Marilyn Cole, sumber: http://pin.primate.wisc.edu/factsheets/image/591)

                    Hewan endemik Kalimantan ini memiliki telapak kaki dan tangan yang berwarna hitam, pada bagian lengannya dan kakinya berwarna coklat. Pada gambar juga, kita bisa lihat bahwa Hylobates albibarbis memiliki warna coklat kehitaman selain itu, alisnya berwarna putih dan disekitar wajahnya berwarna putih tapi tidak menyeluruh. Berat Hylobates albibarbis jantang yaitu 6,1-6,9 kg dan betina 5,5-6,4 kg. Dalam penelitian yang dilakukan diketahui dalam satu kelompok Hylobates albibarbis terdapat pasangan (jantan dan betina dewasa) ataupun dua pasang, berdasarkan presentasi betina dan anak tidak memiliki perbedaan yang jauh hal ini menunjukkan bahwa reproduksi masih cukup baik (Doyen dan Jatna, 2010). Ada yang menarik nih, Hylobates albibarbis suara menjadi sangat penting dalam komunikasi antar individu dan suara yang khas ini menjadi daftar dalam mengidentifikasi.

Walaupun reproduksi berjalan baik tetapi tidak didukung dengan lingkungan yang memadai serta kerapnya perdagangan liar dan pembakaran hutan, populasi mereka akan semakin menurun. Hylobates albibarbis memiliki ukuran yang tidak terlalu besar dan memiliki bulu yang lumayan lebat. Suaranya yang khas, bulunya yang lebat serta ukurannya yang tidak terlalu besar membuat Hylobates albibarbis begitu menarik untuk dipelihara. Masyarakat pun tidak segan-segan menangkap dan menjual, hal ini pernah terjadi disekitar lingkungan saya di Kalimantan. Disaat kondisi lingkungan yang menurun bagaimana dengan penanggulangannya? Lebih tepatnya adalah dalam konservasi Hylobates albibarbis sehingga tetap terjada.

Sebelum melihat apa saja yang dilakukan untuk menyelamatkannya, terlebih dahulu tcari tahu penyebab dari menurunnya jumlah Hylobates albibarbis. Pada buku Indonesia Primates, penyebabnya adalah konversi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan dan pemukiman yang secara tidak langsung membabat habitat Hylobates albibarbis. Kebakaran hutan, penebangan pohon baik legal maupun ilegal, permasalahan umum yaitu global warming juga menjadi faktor lainnya karena akan meningkatkan intensitas kebakaran hutan serta ketersediaan makanan.

Nah, bagaimana dengan penyelamatannya? IUCN menetapkan Hylobates albibarbis dalam status endangered, maka dilakukan konservasi di Taman Nasional Bukit Baka – Bukit Raya, Taman Nasional Gunung Palung dan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Taman Nasional Sebangau oleh Suyanti dkk (2009) diketahui bahwa estimasi dari Hylabates albibarbis yaitu 1.882 hingga 2.400, adapun komposisi umur pada 32,61% untuk jantan dewasa, betina dewasa 32,61%, remaja 21,74% dan pada anak yaitu 13,04%. Pada satu kelompok terdapat dua anak dengan umur yang berbeda.

Apa tindakan yang dilakukan? Banyak tindakan yang telah dilakukan seperti membentuk perundang-undangan perlindungan satwa yang terancam punah, mencegah pembalakan hutan dan mencegah pembunuhan dan panangkapan liar melalui patroli hutan baik dari pemerintah maupun masyarakat. Salah satu tindakan lainnya adalah dengan membuka konservasi bagi Hylabates albibarbis yang terletak di Kalimantan Tengah bernama The Pararawen Gibbon Conservation Center. Letak dari konservasi ini berada di bagian utara dari Palangkaraya, tepatnya berada di Desa Lemo, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara. Terdapat camps disana yaitu gedung perkantoran (staff), tempat untuk menyimpan makanan serta sebuah klinik dan ruang perawatan. Konservasi tersebut tidak hanya terdapat owa-owa saja, tetapi seperti beruang, buaya dan masih banyak lagi.

Adalah Aurelien Brule atau yang dapat disapa dengan Chanee berperan dalam pengelola Pusat Konservasi dan Perlindungan Owa-owa Parawen. Chanee beserta rekan-rekannya juga ikut membantu dalam meningkatkan kepedulian masyarakat, pelestarian flora dan fauna dengan membangun Radio Kalaweit pada tahun 2003, tidak hanya memberikan berita-berita seputar penyelamatan satwa dan hewan endemik saja tetapi, musik dan dan berita-berita nasional juga disajikan. Lokasi ini juga berdekatan dengan Cagar Alam Pararawen I dan II, dimana digunakan sebagai sumber air bersih, pada tahun 2009 membentuk Care Center  bersama Yayasan Kalaweit.

26927b94a4344a75278f072a9dce589569a1602e

 

Chanee Brulee

(Sumber: http://www.bbc.co.uk/worldservice/programmes/2009/12/091209_outlook_radio_gibbon.shtml)

            Sejalan dengan waktu, semakin banyak primata dan hewan lainnya yang perlu dilerstarikan namun, hal ini perlu juga didukung dengan sumber daya, finansial dan masih banyak hal yang perlu diperhatikan. Menurut Radius (2013) dalam kompas.com, diketahui bahwa Pusat Konservasi dan Perlindungan Owa-owa Pararwen perlu adanya tindak lanjut terhadap kandang Owa-owa. Banyak kandang yang telah lapuk termakan waktu ataupun lumut, selain itu tidak memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk memperbaikinya. Hal ini tentu menjadi perhatian bersama, mengingat pentingnya melestarikan flora dan fauna Indonesia. Nah, Guys disini lah perlunya peran kita sebagai anak muda dan generasi muda untuk bersama-sama mencari jalan keluar yang terbaik. Kontribusi kita sangat diperlukan, akhir kata saya ingin bertanya “Maukah kau bersama melestarikan flora dan fauna?” Mari bersama kita melestarikannya agar anak cucu kita dapat melihat dan menikmati kekeayaan flora dan fauna!

Recomanded sites for more about Hylobates spp. and conservation àhttp://www.kalaweit.org/ and http://video.metrotvnews.com/program/146/kalaweit/9

Sources:

http://www.kalaweit.org/ tanggal 3 September 2015.

Administrator. 2010. Cagar Alam Pararawen I & II. http://bksdakalteng.dephut.go.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=55&Itemid=72. Tanggal 3 September 2015.

Doyen, S. G. dan Jatna, S. 2010. Indonesian Primates. Springer Science+Business Media, LLC. New York.

Suyanti., Sri, S. M., dan Ani, M. 2009. Analisis Populasi Kalawet (Hylobates agilis albibarbis) di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Jurnal Primatologi Indonesia 6 (1): 24-29.

Cheyne, S. M., David, J. C., dan Jito, S. Covariation In The Freat Calls Of Rehabilitant And Wild Gibbons (Hylobates albibarbis). The Raffles Bulletin Of Zoology 55(1): 201-207.

Radus, D. B. 2013. Konservasi Owa-owa Terimbas Krisis Ekonomi Eropa. http://regional.kompas.com/read/2013/05/14/23502766/Konservasi.Owaowa.Terimbas.Krisis.Ekonomi.Eropa.Tanggal 3 September 2015.

Radius, D. B. 2015. Kondisi Kandang Owa-owa di Pararawen Memprihatinkan. http://regional.kompas.com/read/2013/05/06/13324157/kondisi.kandang.owa-owa.di.pararawen.memprihatinkan. Tanggal 3 September 2015.

http://www.iucnredlist.org/details/classify/39879/0. Tanggal 1 September 2015.

 

 

 


12 responses to “Kenalilah aku, Hylobates albibarbis dari Borneo”

  1. mena19 says:

    info yang menarik karena yang saya tahu di kalimantan primata yang terkenal adalah orang utan. yang mau saya tanyakan adalah apakah The Pararawen Gibbon Conservation Center merupakan konservasi yang di pegang langsung oleh pemerintah Indonesia atau malah dari negara tetangga yang memegang? dan bagaimana peran pemerintah dalam menanggapi status endangered dari owa owa ini terkait dengan maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit?

    • Armae Dianrevy says:

      Terimakasih atas komentar dan pertanyannya, menurut informasi yang saya baca The Pararawen Gibbon Conservation Center merupakan salah satu konservasi yang dipegang oleh Yayasan Kalaweit Indonesia yang berkerja sama dengan Pemerintah Indonesia. Terkait dengan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, pemerintah telah berupaya dengan pembuatan Cagar Alam, salah satunya di Cagar Alam Pararawein I & II yang mencangkup satwa dan tumbuhan yang dilindungi termasuk Hylobates albibarbis.

  2. Stephanie Halimawan Tanjaya says:

    Adapun penyelamatan kera Hylobates ini sangat bermanfaat sekali.. begitu banyak jenis kera yang akan punah diIndonesia.. baik karena perburuan maupun karena habitatnya sendiri.. Namun perlu diperhatikan untuk kita manusia supaya memperhatikan kehidupan alam dari kepunahan-kepunahan yang ada seprti tidak melakukan perburuan liar ataupun membakar hutan yang akan membuat komunitas alam menjadi rusak dan beberapa hewan tertentu punah.. tq infonya 🙂

  3. Gusti Ayu Putri Amelia says:

    Informasi yg sangat menarik. Jujur saya bru mengenal owa ini, mungkin karena kurangnya pengetahuan saya ttg macam2 hewan yg ada di kalimantan. Namun sngguh sangat di sayangkan akibati dri penyempitan lahan di kalimantan membuat habitat asli owa semakin hilang. Semoga upaya konservasi ini berhasil dan sebaiknya kampanye ttg perlindungan satwa liar hrs semakin di gencarkan lagi.

  4. etti14 says:

    informasi yang menarik sekali armae, hewan yang satu ini memang sudah jarang kelihatan, karena pemburuan maupun habitat nya yang memang terancam. oleh karena itu perlu adanya perhatian khusus untuk flora dan fauna. sayang sekali jika indonesia banyak kehilangan kekayaan satwanya.

  5. Angelina Cynthia Dewi says:

    Artikel yang menarik dan informatif. Namun sangat disayangkan, justru warga negara asing yang berinisiatif untuk melakukan konservasi owa-owa. Padahal jika direnungkan, satwa ini merupakan salah satu bukti kekayaan bangsa Indonesia, lalu kemana perginya generasi muda bangsa?

  6. monicaratnasari says:

    Hallo Armae terimakasih untuk tulisanmu ini! Sangat menarik aku lebih mengenal Hylobates albibarbis dari Borneo, KALIMANTAN! Memang benar kontribusi kita akan sangat dibutuhkan, kita sebagai generasi muda harus lebih tergerak hatinya untuk melestarikan hewan-hewan yang memang sudah mulai langka. Tulisanku juga membahas tentang Owa, namun Owa Jawa yang keadaannya juga sudah mulai berkurang. Semoga kedepannya dapat dilakukan upaya konservasi untuk menyelamatkan Owa kita yaaaa 😀

  7. fennylc says:

    Informasi yang sangat menarik. Sebab selama ini satwa dari kalimantan yang lebih sering bicarakan untuk konservasi adalah orang utan. Sudah saatnya manusia tidak hanya sekedar sadar bahwa perusakan alam dalam rangka pembangunan dan ekonomi berdampak buruk terhadap keberadaan satwa, tetapi juga melakukan tindakan dalam rangka mencegah kepunahan satwa-satwa yang terancam punah 🙂

  8. Yovita says:

    infonya menarik ni tentang Hylobates albibarbis.. owa nya lucu, baru ini tau ad di borneo juga.. XD
    isi informasinya juga menarik dan mudah-mudahan dari informasi yang anda pada blog ini dapat tersampaikan ke orang lain juga untuk bisa berinisiatif seperti anda.

  9. Eunike Priscilla Tanio says:

    Owa adalah salah satu keluarga primata yang terdapat di Indonesia, khususnya Kalimantan. Status spesies Owa ini sendiri di Kalimantan pun sudah termasuk dalam status ENDANGERED, sehingga tindakan nyata untuk pelestarian Owa pun sangat perlu dilakukan. Selain itu, juga diperlukan tindakan tegas terhadap pelaku perusakan habitat Owa itu sendiri, sehingga Owa dapat kembali hidup di alam liar tanpa harus kehilangan habitatnya lagi.

  10. yosephsurya says:

    jika dilihat dari penyebab kepunahannya hampir mirip dengan bekantan ya.. disebabkan karena peralihan fungsi habitat oleh manusia. Memang di Kalimantan hutan sudah mulai di jadikan perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan populasi fauna di kalimantan tersebut.. perlunya dilakukan perubahan misalnya mengurangi konsumsi dari bahan kelapa sawit

  11. Hentikan Perdagangan liar!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php