Ayo Ikut Serta dalam Konservasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)

Ujung kulon merupakan satu-satunya habitat di Indonesia yang tedapat badak Jawa atau dikenal juga badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus). Badak jawa merupakan salah satu mamalia besar yang langka didunia dan berada diambang kepunahan. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari situs Mongabay Indonesia, pada 23 September 2020 jumlah populasi Badak Jawa adalah 74 individu. Spesies ini diklasifikasikan sebagai sangat terancam (Critically Endangered) dalam Daftar Merah IUCN.

Gambar 1. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus).
Sumber: IUCN

Penyebab terjadinya kepunahan terhadap Badak Jawa adalah tingginya permintaan akan cula badak dan untuk sistem pengobatan Tiongkok. Habitat badak yang ada saat ini, dibatasi oleh 2 faktor utama yakni ancaman gangguan habitat manusia dan kawasan Ujung Kulon yang didominasi oleh spesies palem (Arenga obtusifolia). Tanaman palem yang yang mendominasi, menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman pangan badak. Sejak 2014 tercatat kasus nelayan yang menggunakan racun pada penangkapan ikan di perairan ujung kulon, namun efeknya pada taman Badak Jawa belum diketahui. Akan tetapi, jika praktik ini terus dibiarkan akan menyebabkan dampak yang serius jika tidak di periksa.

Ancaman lain bagi populasi badak Jawa adalah meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat langsung pertumbuhan populasi manusia. Pembukaan hutan untuk pertanian dan penebangan kayu komersial mulai bermunculan di sekitar dan di dalam kawasan lindung tempat spesies ini hidup. Populasi badak Jawa yang sedikit, juga menyebabkan rendahnya keragaman genetis. Hal ini dapat memperlemah kemampuan spesies ini dalam menghadapi wabah penyakit atau bencana alam (erupsi gunung
berapi dan gempa).

Selain itu juga, di Taman Nasional Ujung Kulon merupakan rumah bagi 800 banteng jawa (Bos javanicus), jika jumlah banteng sangat banyak maka dapat berdampak negatif terhadap ketersediaan tanaman pakan untuk badak. Diyakini bahwa persaingan makanan dengan banteng mungkin telah berkontribusi pada penurunan historis jumlah badak jawa yang lambat. Penyakit yang ditularkan oleh sapi domestik lokal juga merupakan ancaman potensial terhadap populasi badak Jawa.

Oleh karena itu, eksistensi badak jawa dinilai sangat rawan terhadap terjadinya bencana alam, degradasi habitat, inbreeding, penyakit, dan perburuan. Tanpa tindakan pengelolaan yang tepat dan direncanakan secara matang untuk jangka panjang, populasi badak jawa akan mengalami kepunahan.

Salah satu Personal Action Plan yang saya akan lakukan sebagai mahasiswa Biologi untuk ikut serta menjaga populasi badak Jawa adalah dengan cara menyusun strategi dan terget penjangkauan masyarakat dengan cara melaksanakan dan mengembangkan kesadartahuan pentingnya menjaga konservasi badak Jawa yang dilakukan secara daring dan luring. Secara luring saya akan mensosialisasikan pentingnya konservasi badak Jawa agar keseimbagan ekosistem tetap terjaga. Dengan dilakukannya sosialisasi tersebut, diharapkan masyarakat akan semakin sadar dan mengetahui betapa pentingnya ikut serta dalam konservasi badak Jawa, sehingga tidak terjadi kepunahan secara total. Secara daring saya akan melakukan sosialisasi, memberikan edukasi serta mengajak pengguna sosial media yang saat ini kita ketahui hampir setiap orang pasti memiliki sosial media, sehingga melalui sosial media kita dapat mencakup yang lebih luas untuk ikut serta menjaga Badak Jawa.