Blog UAJY Aris

Baca YUk Penyebab Uang Pekerja Migran Mampu Jamin Pendidikan Anak

Posted: June 18th 2019

Kiriman uang dari para pekerja migran yang masuk ke dalam negeri atau remitansi tak hanya berdampak signifikan pada keluarga. Remitansi menggerakkan roda perekonomian dan berperan penting menghapuskan kemiskinan. PBB pun memberi hari khusus yaitu Hari Remitansi Internasional yang diperingati tiap 16 Juni. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi dan Riri Rahayuningsih.

Remitansi tak hanya mengubah wajah sebuah keluarga, namun juga satu kawasan. Kontribusi keuangan pekerja migran bagi kesejahteraan keluarga berpengaruh bagi pembangunan berkelanjutan negara asal mereka. Meski saat ini DIY tak lagi mengirimkan pekerja migran ke luar negeri, namun remitansi yang selama ini telah berjalan, dampaknya terus dirasakan.

Potret remitansi menjadi urat nadi kehidupan keluarga tercermin dari kisah-kisah yang lahir dari Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Salah satunya datang dari keluarga Suyitno, 40, dan Sumartini, 36. Kepada Harian Jogja, Suyitno bercerita, bercerita sebelum menikah, mereka sama-sama merasakan getirnya banting tulang dengan upah yang mereka rasa minim. Suyitno memilih menjadi buruh di pabrik tripleks dengan penghasilan Rp500.000 per bulan. Sementara Sumartini memilih menjadi buruh serabutan yang penghasilannya tak menentu.

Baca Juga: harga borongan bangunan

Suyitno sadar dengan tingkat pendidikan yang dia miliki, dia akan tetap mendapatkan upah di bawah Upah Minimum Regional (UMR) DIY. Maka Suyitno memutuskan untuk lebih dulu merantau bekerja sebagai buruh pabrik di Malaysia pada 2000. “Upah saya waktu itu Rp2 juta per bulan. Waktu itu, Rp2 juta sudah lebih tinggi daripada yang bisa saya dapatkan di Indonesia,” kata Suyitno pekan lalu.

Tiga tahun kemudian Suyitno kembali ke Indonesia dan melamar Sumartini di Desa Plembutan, Gunungkidul. Setelah menikah, mereka berdua tinggal di rumah orang tuanya di Dusun Papringan, Desa Plembutan. Tak lama kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.

Biaya pendidikan anak dan keinginan untuk lekas membeli tanah untuk tinggal di rumah sendiri, menjadi motivasi sepasang suami istri itu untuk mengambil suatu tantangan. Mereka sadar, upah mereka berdua yang dihasilkan dari bekerja sebagai buruh tidak akan cukup memenuhi segala kebutuhan masa depan.

Artikel Terkait: Upah Tukang Bangunan

Sumartini akhirnya memutuskan merantau ke Hong Kong menjadi pekerja rumah tangga pada 2015. Sementara Suyitno tetap tinggal di Gunungkidul mengurus anak mereka yang saat itu duduk di bangku kelas 1 SD, sambil menjalankan usaha kerupuk yang dirintisnya bersama orang tuanya. Suyitno mengaku tidak masalah dengan pergantian peran itu.

Setiap bulan Sumartini mengirim Rp4 Juta dari Hong Kong. Daji tenaga kerja di sana berkisar antara Rp7 juta hingga belasan juta. Menurut Suyitno upah itu dapat meningkatkan penghasilan keluarga mereka setidaknya sebanyak 50%. Kiriman Sumartini langsung ditabung.

Suyitno mengatur keuangan dengan sangat hati-hati. Setiap bulan setelah digunakan untuk ini itu, Suyitno juga lebih leluasa menyisihkan penghasilannya demi kebutuhan pendidikan anak semata wayangnya.

Tahun kedua Sumartini bekerja di Hong Kong, tabungan pun terkumpul. Akhirnya mereka bisa membeli tanah berukuran 7×9 meter di Desa Plembutan, Gunungkidul. Mereka tinggal tepat di belakang rumah orang tua mereka.

Kini setelah 4 tabun Sumartini bekerja di Hong Kong, menurutnya dana pendidikan anaknya sudah aman hingga SMP. Sebelumnya dia tak mengira akan memiliki dana pendidikan cadangan hingga beberapa tahun. Mereka pun bisa merenovasi rumah mereka menjadi lebih indah.

Mengenai usaha baru, Suyitno mengaku belum memiliki pandangan. Pasalnya, Suyitno masih sibuk membantu usaha kerupuk yang dijalankan orang tuanya. Suyitno juga sadar untuk membuka usaha baru mereka harus lebih lama berjuang untuk mengumpulkan modal.

“Satu keluarga kami itu rata-rata pernah bekerja di luar negeri, adik saya tahun 1990-an juga kerja di Kuwait dan Saudi Arabia, semua dilakukan buat hidup yang lebih baik. Memang di Desa Plembutan ini hampir semua warganya mantan TKI atau [tenaga kerja wanita] TKW,” kata Suyitno.

Dihubungi Harian Jogja melalui aplikasi pesan Whatsapp Sumartini menuturkan di Hong Kong ia merawat warga manula dan telah melalui dua kali kontrak. Panjang satu kontrak adalah dua tahun. “Saya selalu disiplin mentransfer uang untuk keluarga di kampung halaman,” ujarnya.

Uang yang Sumartini kirimkan untuk keluarga di Indonesia itu ia tujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk untuk ditabung dan digunakan sebagai investasi pribadi. Ia pun merasa bersyukur karena uang kirimannya dari Hong Kong bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga di Indonesia.

Tak hanya berharap kepada keluarganya, sebagai pahlawan devisa Sumartini juga berharap pada negara. Ia berharap negara bisa memberi pelayanan yang baik bagi para pekerja migran di luar negeri. “

Banyak Modal

Melihat perjalanan para warga Desa Plembutan, Gunungkidul, mengingatkan Sri Sutarmiyati atas masa-masa perjuangannya sebagai pengasuh manula di Taiwan pada 2000. Kasi Pelayanan Kantor Desa Plembutan ini memutuskan untuk menjadi pekerja migran dan meninggalkan satu orang anak yang masih balita.

“Waktu itu saya melihat tetangga saya, kok belum lama kerja di luar negeri sudah bisa beli mobil, memperbaiki rumah, menabung banyak. Saya kan jadi ingin juga, demi masa depan anak saya juga,” kata Sutarmi.

Berat hati Sutarmi meninggalkan anaknya, kadang rindu menyergap hatinya saat di perantauan. Berkali-kali dia ingin menyerah dan pulang ke Indonesia. Apalagi banyak rekan-rekan seangkatannya yang melarikan diri karena tidak kuat mental. Namun membayangkan masa depan pendidikan anaknya yang semakin cerah berkat gaji yang selalu dikirimnya, Sutarmi kuat menjalani berbagai macam tempaan majikannya di Taiwan.

“Gaji saya waktu itu Rp3 Juta. Saya kumpulkan selama setahun, baru saya kirim ke Indonesia. Alhamdulillah, tahun kedua sudah bisa beli tanah, meskipun cuma di Plembutan sini, bangun rumah yang lebih layak. Biaya pendidikan anak juga aman,” kata Sutarmi.

Bekerja sebagai pekerja migran di Desa Plembutan sejak 1990-an. Pada 2010, warga yang bekerja di luar negeri semakin banyak. Beberapa dari mereka bekerja hingga belasan tahun dan kini kembali ke Desa Plembutan dengan banyak modal.

Kepala Desa Plembutan, Gunungkidul, Edi Supriyanti mengatakan modal para pekerja migran yang berputar di desa mengubah wajah desa menjadi lebih hidup. Pada 1990-an, Desa Plembutan merupakan desa yang penuh tanah kosong. Rumah warga rata-rata masih terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Tak ada satu pun kendaraan bermobil terparkir di halaman rumah mereka.

“Setelah modal dari gaji terkumpul, biasanya mereka akan membangun rumah dulu, rumahnya jadi bagus-bagus. Tadinya kayu jadi dinding, diberi lantai. Kemudian setelah itu baru modalnya buat pendidikan anak, kalau sudah sampai belasan tahun, biasanya pulang ke Plembutan terus bikin usaha,” kata Edi.

Edi mengatakan cukup banyak mantan pekerja migran angkatan 2000 yang sudah kembali pulang ke Desa Plembutan. Biasanya mereka yang menghabiskan waktu belasan tahun mendirikan usaha. Usahanya bermacam-macam, mulai dari toko bangunan, kios pulsa, hingga jasa sewa peralatan hajat pernikahan.

Edi kemudian menegaskan bahwa perubahan wajah Desa Plembutan bisa dilihat dari banyaknya rumah yang direnovasi, bersanding dengan rumah yang masih berdinding kayu. Berbagai usaha warga pun mulai bermunculan di pinggir jalan besar Desa Plembutan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php