Blog UAJY Aris

APAKAH FIKSI ADALAH SASTRA

Posted: October 22nd 2018

Bicara masalah fiksi bermakna tidak jauh-jauh pun dari bicara masalah sastra. Namun memang, apakah jalinan pada sastra serta fiksi? Apa sastra merupakan sisi mutlak dari fiksi? Atau demikian sebaliknya?

Selesai ramai kata fiksi berlalu-lalang di banyak wadah, tingkat kepo orang masalah fiksi seakan bertambah. Soal ini diperkokoh dengan berita dari Prabowo Subianto yang—mengutip novel Ghost Fleet—menyebutkan jika Indonesia bakal bubar pada tahun 2030 dan pengakuan Rocky Gerung, pengamat politik yang diberitakan jadi (bekas) dosen Filsafat UI, yang mengatakan jika kitab suci merupakan fiksi.

Simaklah : contoh cerita fiksi

Munculnya berita ini cukuplah menyentuh hati kami, Mojok Institute cabang Language Center (uopppooo iki! ) , buat ikut mengkaji arti sebenarnya dari kata fiksi.

Kata fiksi datang dari bahasa Latin, yakni fictio, yang bermakna “membangun” atau “membuat”. Sesudah itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berisi makna fiksi dalam 3 arti, yakni :

narasi rekaan (roman, novel, dsb) ,
rekaan ; impian ; tidak berdasar pada realita,
pengakuan yang cuma berdasar pada impian atau pikiran
Pendek kata, fiksi kerap diingat atas sifatnya yang menghibur sekaligus juga bertentangan dengan narasi fakta. Dengan begitu, selesai kita sadari jika fiksi merupakan perihal yang ditulis berdasar pada impian saja, pasti dia tidak dapat disamakan dengan curhatan kawan yang baru putus, terus nangis-nangis, kan?

Baca juga : cerita fiksi
Inspirasi ini diperkokoh juga dengan pengakuan Welleck serta Warren, penulis Theory of Literature, yang mengatakan jika moment dalam karya fiksi merupakan ilusi dari realita. Berarti, karya fiksi tidaklah apakah yang memang berlangsung sesehari.

Bicara masalah fiksi bermakna tidak jauh-jauh pun dari bicara masalah sastra. Jangankan mengatakan sastra dari definisinya, wong jika ada orang kuliah di Jurusan Sastra saja kita rata-rata terasa dia dapat menulis fiksi. Iya atau gak?

Kata sastra sendiri dikatakan datang dari bahasa Sanskerta, yakni shastra, yang maknanya merupakan “teks yang memiliki kandungan instruksi” atau “pedoman”. Namun memang, apakah jalinan pada sastra serta fiksi? Apa sastra merupakan sisi mutlak dari fiksi? Pada batas apakah sastra berwujud fiksi alias fiktif, atau (bisa jadi) tidak fiktif?

Berdasar pada hasil study Mojok Institute sembari mengingat-ingat pelajaran Bahasa Indonesia demikian tahun yang lampau, karya sastra memang dibagi jadi dua, yakni karya sastra fiksi serta karya sastra nonfiksi. Jadi, jika di ibaratkan, sastra merupakan seseorang suami yang berpoligami dengan dua istri, bernama Mbak Fiksi serta Mbak Nonfiksi.
Lantaran dari atas hingga sampai paragraf ini tulisan kita telah agak-agak serius, kita lanjutin saja dengan nuansa yang sama sambil mendata sebagian contoh karya sastra berdasar pada deskripsi jalinan pada sastra serta fiksi :

Karya Sastra Fiksi

Puisi
Prosa
Drama
Karya Sastra Nonfiksi

Biografi
Otobiografi
Esai
Resensi

Namun ngomong-ngomong, mengapa puisi, prosa, biografi, esai, serta lain-lainnya itu masuk ke lis tulisan sastra? Apakah persyaratan dari sastra tersebut?

Buat menjawab pertanyaan ini, bisalah kita satu kali lagi mengartikan sastra (yang memayungi tulisan fiksi atau nonfiksi) menurut KBBI, yakni :

bahasa (kalimat, type bahasa) yang difungsikan dalam kitab-kitab (bukan bahasa sesehari) ,
kesusastraan,
kitab suci Hindu ; kitab ilmu dan pengetahuan,
pustaka ; primbon (berisi ramalan, hitungan, dsb) ,
tulisan ; huruf
Well, dari salah satunya arti diatas, Anda mungkin terkesiap lihat arti nomer 3 : kitab suci Hindu. Wow! Bisa-bisa, Anda terkenang pada pengakuan Rocky Gerung yang disinggung pada paragraf pertama tulisan ini~

Jangan-jangan, yang benar yaitu “kitab suci merupakan sastra”, alih-alih “kitab suci merupakan fiksi”? ? ? Hmm? ? ?

Namun yaaa, biarlah, ya. Mengambil Ivan Lanin, tiap-tiap kata itu pembawaan aslinya netral, Teman-Teman. Ijtihad manusialah yang membuat memihak.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php