Anggita Reizda Siman

Molekuler untuk Keamanan Pangan Indonesia

Posted: August 28th 2015

Masyarakat modern erat kaitannya dengan sifat konsumtif dan sifat ini telah terlihat di masyarakat kita saat ini. Keinginan setiap orang untuk memenuhi kebutuhannya tidaklah salah tetapi masyarakat juga perlu memiliki sifat selektif dalam memilih. Tidak terkecuali untuk memenuhi kebutuhan perut, masyarakat perlu selektif dan memiliki sikap mawas. Hal ini tidak boleh dipandang sebelah mata karena makanan merupakan penyokong kesehatan tubuh.

Sumber: http://www.beritasatu.com/kesehatan/281062-waspada-gaya-makanan-modern.html

Sumber: http://www.beritasatu.com/kesehatan/281062-waspada-gaya-makanan-modern.html

Selain itu, masyarakat modern memiliki sifat tidak ingin ribet sehingga pola hidup masyarakat sekarang ini semua serba instan. Peluang ini yang membuat para produsen pangan membuat produk pangan yang lebih mudah untuk di nikmati oleh masyarakat. Sebagai contoh, dahulu bila kita ingin memakan sambal terasi maka kita memerlukan cabai, tomat, terasi, ebi, dan bawang lalu semua bahan dimasak lalu diulek, dan barulah kita dapat menikmati sambal terasi. Akan tetapi, saat ini telah ada sambal terasi instan yang tidak perlu repot-repot membuat kita pun dapat menikmati sambal terasi kapan saja. Ada pula daging yang telah berbentuk HAM, atau nugget, atau bakso instan, semuanya ini dibuat untuk mempermudah masyarakat menikmati makanan.

Namun, pernakah terlintas dibenak kita dengan berbagai produk atau bahan pangan yang telah dibentuk sedemikian rupa benar aman untuk dikonsumsi. Apakah daging yang telah diolah dalam bentuk HAM atau nugget atau bakso merupakan “murni” daging atau ada tambahan daging lainnya? Apakah minuman kemasan atau air isi ulang tidak terkontaminasi bakteri berbahaya? Atau apakah kita sempat berpikir tempe yang sering kita konsumsi berasal dari produk kedelai bebas GMO (Genetic Modified Organism)?

Dalam hal ini mungkin kita akan mendapatkan kendala bila ingin membuktikan produk pangan tersebut secara fisik jika telah dalam bentuk makanan siap saji. Maka dari itu, pendekatan Molekuler dapat menjadi salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengetahui “kebenaran” suatu produk pangan. Dari pencarian pustaka yang saya lakukan di Mbah Google, saya mendapatkan beberapa artikel ilmiah di Indonesia yang telah menggunakan molekuler untuk pengujian keamanan pangan.

Salah artikel tersebut mengkaji mengenai air minum kemasan dan isi ulang yang diduga mengandung bakteri Escherichia coli serotype O157:H7. Penelitian ini dilakukan oleh Kandou (2009) yang dimuat dalam jurnal Chemical Program menyebutkan bahwa bakteri ini berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit Hemorrhagic colitis yaitu peradangan pada usus besar akibat pendarahan dan penyakit Hemolytic Uremic Syndrome (HUS) yang mengakibatkan gagal ginjal dan anemia. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa 8,33% air kemasan dan 25% air isi ulang yang diambil disekitar kota Manado yang dijadikan sampel terkontaminasi bakteri tersebut (Kandou, 2009). Sebenarnya untuk mendeteksi bakteri berbahaya seperti Escherichia coli serotype O157:H7 dapat dilakukan dengan pengujian secara mikrobiologi tetapi yang menjadi keunggulan dari teknologi molekuler ini adalah tingkat keakuratan yang lebih tinggi, waktu yang diperlukan untuk mengetahui hasilnya lebih cepat, dan sampel yang diuji dapat lebih banyak.

Penelitian mengenai keamanan bahan pangan lainnya dilakukan oleh Fibriana dkk. (2010), yang menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mengetahui bakso di Pusat Kota Salatiga yang diduga tercemar daging babi. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa 1 sampel dari 13 sampel yang mewakili baik itu dari warung kecil maupun warung besar di kota Salatiga mengandung daging babi. Hal ini didapat diketahui karena berdasarkan hasil PCR, lokus PRE-1 hanya ada di daging babi sehingga ini menjadi standar analisis makanan mengandung daging babi (Fibriana dkk., 2010).

Penggunaan molekuler untuk mendeteksi bakteri berbahaya pada daging ayam juga dilakukan oleh Andriani dkk. (2013). Dalam artikelnya yang dimuat dalam Jurnal Veteriner ini menyebutkan bahwa sumber infeksi Campylobacter sp. yaitu bakteri agen foodborne zoonosis pada manusia salah satunya dari daging ayam. Maka dari itu, dalam penelitiannya dilakukan deteksi infeksi bakteri pada daging ayam dari pasar tradisional dan swalayan di DKI Jakarta dengan menggunakan metode PCR dan DPCR (direct PCR). Hasilnya, ditemukan daging ayam yang telah terkontaminasi C. jejuni dan C. coli.

Sebenarnya masih banyak lagi penelitian molekuler yang telah dilakukan  dan 3 artikel diatas menjadi bukti bahwa molekuler sendiri telah digunakan sebagai salah satu benteng untuk keamanan pangan di Indonesia. Oleh karena itu, diharapkan dengan munculnya berbagai penelitian ini dapat membuka mata masyarakat untuk tidak hanya memikirkan “cepat”nya saja tetapi juga tetap waspada dengan apa yang dimakan. Terkadang, masyarakat kita perlu memiliki rasa “penasaran” dengan apa yang mereka makan dan perlu banyak membaca sehingga tau makanan mana saja yang berpotensi untuk diwaspadai.

 

Daftar Pustaka

Andriani. Sudarwanto, M. Setiyaningsih, S. dan Kusumaningrum, H. D. 2013. Metode Direct Polymerase Chain Reaction untuk Melacak Campylobacter sp. pada Daging Ayam. Jurnal Veteriner. 14(1):45-52.

Fibriana, F. Widianti, T. dan Retnoningsih, A. 2010. Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi pada Bakso Sapi di Pasar Tradisional Kota Malang menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction). Jurnal Pangan dan Agroindustri. 3(4):1294-1301.

Kandou, F. E. F. 2009. Analisis Molekuler Esherichia coli serotype O157:H7 pada Air Minum dalam Kemasan dan Isi Ulang menggunakan Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan rfbE sebagai Agen Target. Chemical Program. 2(1):8-14


17 responses to “Molekuler untuk Keamanan Pangan Indonesia”

  1. mariajanina says:

    hallo Anggi … luar biasa sangat menarik tulisannya dengan adanya Tulisan anda membuat saya mengetahui akan keamanan pangan di negara kita sendiri ..
    disini saya ingin bertanya menurut anda berdasarkan artikel’ yang anda baca apakah ada motifasi untuk anda sendiri agar dapat menggunakan molekuler dalam penelitian” anda kedepan ? dan juga yang ingin saya ketahui pada penelitin dilakukan oleh Kandou (2009) metode yang digunakan apa ya Ngi?..

    • anggi21 says:

      Terima kasih Saudari Maria Janina atas perhatiannya untuk mau membaca artikel ini 🙂
      Untuk menjadikan molekuler menjadi penelitian Strata 1 saya, mungkin belum karena saya sudah berrencana untuk menggunakan dunia mikrobia untuk penelitian saya, tetapi tidak menutup kemungkinan bila ada kesempatan membuat penelitian lainnya seperti PKM atau untuk melanjutkan S2, bisa dilirik 😀
      Dalam penelitian Kandou (2009) yang saya baca, Beliau juga menggunakan metode PCR untuk mendeteksi Bakteri E. Coli serotype O157:H7 pada air kemasan dan isi ulang..

  2. luhshyntia says:

    wahh,, tulisan yang menarik untuk saudari anggi dan inspiratif sekali dari beberapa jurnal yang didapat.Saya tertarik dengan jurnal yang menyinggung tentang daging ayam yang sudah terkontaminasi oleh bakteri. apakah di dalam jurnal Andriani dkk. (2013) tersebut seberapa besarkah bakteri tersebut menyerang daging ayam? apakah sampai menyebabkan gangguan kesehatan atau ada perubahan fisik dari daging ayam tersebut jika dilihat secara visual? -terima kasih-

  3. retnowulandari says:

    Waah cukup mengerikan yah mengenai ditemukannya lokus PRE-1 pada bakso di kota Salatiga tersebut. Sebagai seorang muslim dan juga tentunya penikmat dan penggemar bakso saya merasa cukup khawatir, yang ingin saya tanyakan apakah badan-badan terkait keamanan pangan di Indonesia seperti BBPOM cukup intens dan sudah menerapkan pengujian secara molekuler dalam mendeteksi keamanan pangan dengan kasus seperti ini? Tidak hanya melulu berfokus pada kualitas keamanan pangan secara kimiawi saja…

    • anggi21 says:

      Terima kasih kepada Saudari Luh Shyntia dan Retno Wulandari yang mau menyempatkan untuk membaca artikel ini 🙂
      Untuk Retno Wulandari, memang BPOM bertugas sebagai Lembaga keamanan pangan dan seharusnya bakso yang “tidak halal” juga menjadi fokus mereka. Akan tetapi, saya belum tau pasti apakah BPOM telah menggunakan molekuler dalam pengujian atau belum. Pada bulan Januari 2015 lalu, saya diberi kesempatan kerja praktik di BPOM tepatnya di Jakarta tetapi saya belum menemukan Lab Molekuler dan untuk BPOM lainnya saya juga kurang mengetahui 😀
      Untuk Luh Shyntia, dari literatur yang saya baca (Andriani, 2013) dan hasil pemahaman saya bahwa sampel daging ayam yang diambil adalah daging yang segar, belum ada tanda-tanda kebusukan. Dalam Artikel ini tidak dijelaskan bagaimana pengaruh bakteri bila terdapat pada daging, tetapi bia manusia mengkonsumsi daging yang terkontaminasi maka dapat menyebabkan penyakait gastroenteritis akut. Pada umumnya, bakteri ini ditemukan di daging babi tetapi mungkin bakteri ini dapat mengkontaminasi daging ayam karena lokasi pemotongan daging yang kurang bersih.

  4. Yunice Femilia Bandue says:

    Terima kasih Anggi buat informasi yang bermanfaat dan menarik. Sebagai penikmat bakso saya merasa prihatin dengan bakso yang tercampur dengan daging babi meskipun kalo bagi saya sendiri tidak menjadi masalah namun bagi saudara-saudara kita yang muslim tentu hal ini membuat mereka khawatir, yang saya ingin tanyakan apakah penggunaan molekuler seperti PCR untuk mendeteksi suatu keamanan pangan sudah di lakukan dengan maksimal di negara kita atau belum? Terima kasih 🙂

  5. pradhyaparamitha says:

    Informasi yang sangat bermanfaat anggi… sepertinya metode pendekatan molekuler di bidang keamanan pangan masih sangat jarang dilakukan di indonesia. Apakah badan pengawasan pangan atau badan pom indonesia sudah menerapkan metode molekuler dalam penelitian keamanan pangan?

  6. Restu apriyani says:

    Sedih saya membacanya. Bagaimana kita ingin sehat kalau masyarakatnya masih memberi pelayanan yang merugikan konsumennya.
    Bagaimana solusi anda agar kita tetap mengkonsumsi makanan di luar namun tetap sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Terimakasih

  7. Novia hertiyani says:

    Informasi yang berguna dan membuat saya sadar untuk lebih “peka” dan lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan ataupun minuman..yang ingin saya tanyakan dari ketiga jurnal itu bisa tolong jelaskan salah satu nya ttg cara analisisnya?
    Terima kasih :3

  8. selviaemanuella says:

    Untuk kajian molekuler ini sendiri, melihat berita yang ada beberapa BPOM daerah sendiri blm ckup tanggap dalam kajian molekuler dalam bidang pangan ini, bagaimana tahap awal sebagai mahasiswa untuk memulai kajian ini? trims

  9. richardkion says:

    dengan kajian ini molekuler di bidang pangan, akan terasa lebih aman, karena bisa diketahui semua ejenis bahan yang terkandung dlam suatu makanan.

  10. herisusanto says:

    bagus sekali blog yang anda buat, sehingga dapat diketahui kajian molekuler bukan hanya untuk satwa atau indetifikasi, namun ternyata untuk Bakso dipusat salatiga untuk mengetahui daging yang digunakan halal atau haram

  11. untuk saat ini memang sangat banyak produk olahan cepat saji yang belum kita ketahui dengan pasti kemurnian atau keaslian dari bahan yang digunakan, dan dari informasi yang disampaikan membuat kita lebih tau lagi mengenai kualitas pangan yang ada di Indonesia dan semoga dengan berkembanganya teknologi yang ada seperti PCR bisa membantu dalam pengolahan pangan di Indonesia..makasih yah infonya

  12. agnes9 says:

    Wah, informasi yang menarik sekali, Anggi. Sebagai anak pangan, saya cukup prihatin dengan kasus keamanan pangan di Indonesia. Semoga ada tindakan lanjut yang dilakukan terhadap hasil dari penelitan tersebut. Keep blogging! 😀

  13. friskaunandy says:

    Wah semoga pihak-pihak berwajib yg mengawasi keamanan pangan di Indonesia dan juga konsumen makin peduli dengan komposisi makanan yg dikonsumsi, tdk hanya melihat rasa dan harga miring.
    trimakasih infonya

  14. elmo1271 says:

    Wow,,nice blog Anggi. Dengan adanya teknik ini kualitas pangan dapat lebih baik, Ayo untuk Indonesia lebih baik. thanks infonya

  15. miabone says:

    Selain contoh yang Anda sebutkan, apakah untuk keamanan pangan di Indonesia sendiri sudah ada pihak/lembaga yang fokus di pendeteksian bahan pangan yang terbuat dari/mengandung GMO? Terimakasih sebelumnya untuk informasi yang sangat menambah wawasan ini 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php