Angelica’s Blog

Si Kucing Merah

Posted: December 10th 2020
cr: Oliver Wearn (https://www.ecologyasia.com/verts/mammals/bay-cat.htm)

Gambar diatas merupakan potret kucing merah, yang dikenal juga dengan nama Borneo Bay Cat. Kucing tersebut memiliki nama ilmiah Catopuma badia atau Pardofelis badia. Dibawah ini adalah penjelasan taksonomi lengkap kucing merah.

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mammalia

Bangsa : Carnivora

Suku : Felidae

Marga : Catopuma atau Pardofelis

Jenis : Catopuma bardia atau Pardofelis bardia

(Gray, 1874)

Kucing merah hidup didalam hutan dataran tinggi maupun dataran rendah yang tersebar di seluruh pulau Kalimantan. Kucing merah memiliki kebiasaan nokturnal. Ciri-ciri utama tubuhnya adalah bulunya yang berwarna cokelat terang, dengan warna yang lebih pucat di tubuh bagian bawah. Warna bulu di bagian kaki dan ekor agak pucat dan merah. Ekornya memanjang, meruncing pada ujungnya, dengan garis putih di sisi bawah, yang berwarna menjadi lebih putih ke ujung, dan ada bercak hitam kecil di ujung atasnya. Telinga kucing merah berbentuk bulat. Kepala kucing merah bentuknya pendek bulat, dan memiliki warna coklat gelap keabu-abuan dengan dua garis gelap yang berasal dari sudut setiap mata, dan bagian belakang kepala memiliki tanda yang berbentuk ‘M’ gelap. Bagian belakang telinga berwarna keabu-abuan gelap, sedikit bintik-bintik putih tengah yang ditemukan pada banyak spesies kucing lainnya. Bagian bawah dagu berwarna putih dan terdapat dua garis coklat samar di bagian pipi. Kucing merah memiliki rata-rata ukuran tubuh sebagai berikut:

  • panjang tubuh dari ujung kepala ke ujung tubuh : kurang lebih 49,5 – 67 cm
  • panjang ekor : kurang lebih 30 – 40,3 cm
  • berat badan : rata-rata 3 – 4 kg

Menurut IUCN Redlist, kucing merah sudah memasuki kategori endangered yang berbahaya, dan populasinya terus menurun. Beberapa penyebab menurunnya populasi kucing merah adalah sebagai berikut:

  • pengembangan daerah komersil seperti perumahan, perkotaan, dll.
  • perusakan hutan
  • perburuan; beberapa bagian tubuh dari kucing merah seperti kulitnya digunakan sebagai aksesoris.

Kenapa penurunan populasi dan kategori endangered terhadap kucing merah dianggap berbahaya? Salah satu alasannya adalah bahwa kucing merah ini tergolong hewan endemik, yang artinya secara natural kucing merah tidak ditemukan di daerah manapun selain pulau Kalimantan. Hal ini menjadikan kucing merah sebagai suatu ikon keunikan setidaknya di pulau Kalimantan, bila tidak di seluruh dunia, sehingga penting bagi kita untuk menjaga kelestariannya.

Kucing merah terdaftar dalam CITES Appendix II sebagai hewan yang dilindungi. Selain itu, dibawah hukum Indonesia dan Malaysia, larangan terhadap perburuan dan perdagangan kucing merah telah dibuat. Kucing merah dilindungi dibawah beberapa kawasan konservasi di Pulau Kalimantan, seperti Danum Valley Conservation Area, Taman Nasional Gunung Mulu, Lanjak-Entimau Wildlife Sanctuary, Taman Nasional Gunung Palung, Taman Nasional Bentuang Karimun, serta Sungai Wain Protection Forest. Dengan adanya kawasan konservasi yang melindungi kucing merah sudah mewujudkan sebagian dari tujuan kita untuk melestarikan kucing merah, tetapi saya akan kembali menambahkan visi atau action plan saya untuk melindungi dan melestarikan kucing merah.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam skala besar-besaran adalah dengan memperketat penggunaan kekayaan hutan agar tidak terjadi overeksploitasi (terutama karena pulau Kalimantan adalah salah satu pulau dengan tingkat deforestasi yang tinggi), karena kehidupan kucing merah sangat bergantung pada kondisi hutan. Tetapi hal tersebut belum tentu bisa dicapai 100%, karena bisa jadi pemilik hutan atau pemerintah yang memiliki hutan tersebut memiliki tujuan yang berbeda dengan kita yang ingin melestarikan kucing merah. Hal lain yang bisa dilakukan adalah pemantauan kucing merah di hutan dengan menggunakan camera trap yang dipasang di sekeliling hutan. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui jumlah populasi kucing merah, adanya kenaikan maupun penurunan populasi, serta untuk mengamati kebiasaan kucing merah dengan harapan hal tersebut akan menambah pengetahuan kita akan kucing merah.

Kemudian, perlu dilakukan adanya penangkaran kucing merah untuk mengembangbiakkan kucing merah. Selain untuk perbanyakan, dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap kucing merah. Dalam penangkaran ini, diberikan pertolongan pertama terhadap kucing merah yang terluka, kemudian diberikan perhatian terhadap kehidupan kucing merah yang sedang hidup didalam penangkaran. Dibawah beberapa ketentuan misalnya kesehatan, jumlah, umur, serta kemampuan kucing merah, maka kucing merah yang telah dirawat serta dikembangbiakkan dibebaskan kembali ke alam liar dalam kurun waktu tertentu untuk meningkatkan populasinya di alam liar. Dan dengan bantuan camera trap di alam liar, kita kembali mengamati populasi serta kondisi kucing merah secara keseluruhan. Apabila terwujud, maka sedikit demi sedikit populasi kucing merah akan meningkat, dan kucing merah akan keluar dari kategori endangered menjadi kategori least concerned menurut IUCN.

Sekian gambaran mengenai action plan saya dalam menjaga kelestarian kucing merah khas Kalimantan ini. Semoga teman-teman pembaca merasa tertarik dengan ide perlindungan terhadap kucing merah, dan lebih memahami pentingnya kelestarian kucing merah bagi kita, baik ahli biologi maupun orang awam. Semoga tidak hanya kucing merah, melainkan seluruh jenis hewan serta tumbuhan di Indonesia serta di seluruh dunia dapat kita lestarikan keberadaannya demi kebaikan alam, serta kebaikan kita sendiri.

Sumber Pustaka:

https://www.iucnredlist.org/species/4037/112910221#conservation-actions


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php