Action Plan : Burung Maleo

Action Plan : Burung Maleo

Posted: December 11th 2019

Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Satwa Endemik Sulawesi

Burung Maleo (Macrocephalon maleo) merupakan burung endemik Sulawesi yang jumlah populasinya mengalami penurunan yang tajam, sehingga IUCN menggolongkan burung ini ke dalam Endengered Species. Fenomena ini menggambarkan bahwa burung maleo memiliki resiko kepunahan yang tinggi sehingga tindakan penyelamatan perlu dilakukan, yaitu melalui tindakan konservasi.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone merupakan kawasan benteng pertahanan dari berbagai spesies flora dan fauna untuk tetap bertahan hidup, diantaranya burung maleo. Pemerintah Indonesia menetapkan Burung Maleo sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 421/KPTS/UM/8/1970 tanggal 26 Agustus 1970. Pemerintah Tingkat I Sulawesi Utara melalui Surat Keputusan No. 522/XI/2787 tanggal 21 Juli 1987 telah melarang penangkapan burung maleo dan pengambilan telur maleo.

Penurunan jumlah populasi burung maleo dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pengambilan telur, perusakan habitat, dan perburuan burung merupakan ancaman terbesar. Adanya pembukaan hutan secara masal, kebakaran hutan dan pembukaan areal perkebunan oleh masyarakat , serta ilegal loging juga merupakan masalah yang dapat menyebabkan penurunan populasi maleo. Selama 10-15 tahun terakhir ini populasi maleo di Muara Pusian menurun tajam dari 150-200 pasang sampai tinggal 50-70 pasang, hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan sebesar 47-65 %. Hal ini diperkirakan karena tingginya tekanan manusia terhadap burung ditempat tersebut, terutama tekanan perburuan langsung melalui penembakan burung. Faktor lain yang dapat menyebabkan penurunan populasi maleo adalah adanya ancaman pada masa peneluran maleo, yakni perburuan serta adanya predator alami seperti burung elang, biawak, ular, anjing.

Burung maleo memiliki tingkah laku yang unik saat bertelur. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Poli dkk. (2016), pada saat akan bertelur maleo mencari tempat bertelurnya sendiri. Burung betina bertugas untuk melakukan pemilihan lokasi untuk bertelur, sedangkan burung jantan hanya akan mengikuti burung betina dari belakang. Burng jantan dan burung betina akan melakukan pembagian tugas saat mempersiapkan tempat untuk bertelur. Apabila burung jantan menggali lubang untuk bertelur, maka burung betina akan mengawasi daerah di sekitar penggalian dengan berdiri di tempat yang lebih tinggi, begitu pula sebaliknya.

Setelah melakukan penggalian lubang, maleo betina akan masuk kedalam lubang untuk bertelur, dan maleo jantan berada diatas tepat pinggir lubang sambil melakukan pengawasan. Maleo betina membutuhkan waktu antara 2-5 menit untuk bertelur. Setelah maleo betina bertelur atau keluar dari lubang, maka sepasang maleo melakukan penimbunan terhadap lubang tersebut dengan tanah/pasir galian. Burung maleo dalam melakukan penimbunan benar-benar sangat jeli dan cermat hingga lubang bekas timbunan tersebut benar-benar seperti tidak ada bekas galian. Hal unik yang dilakukan burung maleo untuk melindungi telurnya adalah selain membuat sarang/ lubang untuk bertelur, sepasang burung maleo akan menggali lubang lain disekitar tempat mereka meletakkan telurnya yang bertujuan untuk penyamaran terhadap predator.

Maleo tidak pernah mengawasi atau mengusik telur yang telah dipendamnya di dalam tanah sampai akhirnya menetas. Maleo hanya menyiapkan lubang pengeraman di tempat yang dianggapnya paling aman dari berbagai gangguan dan menerima panas dengan baik. Berdasarkan penlitian diketahui bahwa kedalaman lubang untuk bertelur adalah sekitar 38 – 96 cm, suhu lubang peneluran (Egg Pit) rata-rata 290 °C – 350 °C, suhu udara peneluran rata-rata 270 °C – 340 °C.

Upaya personal yang dapat dilakukan kedepannya untuk penanggulangan penurunan populasi burung maleo akibat predator dapat dilakukan dengan membangun tempat penetasan buatan (Artificial Hatchery) di lokasi peneluran burung maleo. Upaya ini diharapkan dapat membantu proses perkembangbiakan burung maleo, meminimalisir gangguan yang dapat menghambat penetasan telur burung maleo seperti predator maupun ancaman manusia, sehingga perkembangbiakan burung maleo bisa lebih meningkat dan diharapkan dapat menyelamatkan burung maleo dari ancaman kepunahan.


2 responses to “Action Plan : Burung Maleo”

  1. dkrisna says:

    Artikel yang cukup menarik, mungkin juga bisa dilakukan upaya diskusi dengan masyarakat lokal untuk bagaimana pentingnya burung Maleo ini sebagai hewan yang terancam punah. Semoga action plannya dapat berjalan lancar yaa.

  2. Theodora Tasha says:

    Artikel nya cukup menarik, semoga action plan bisa dijalani kedepannya! Semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php