Jyawijaya

Ragam Genetik Burung Maleo Senkawor

Posted: August 22nd 2017

Kehati dibagi menjadi tiga kategori, yaitu keanekaragaman ekosistem, keanekaragaman jenis, dan keanekaragaman genetika (Darajati dkk., 2016). Keanekaragaman genetik merupakan bahan baku adaptasi di masa depan dan merupakan dasar untuk fleksibilitas dan responsif evolusi (Rahayu dan Nugroho, 2015). Menurut Rahayu dan Nugroho (2015) penurunan keanekaragaman genetik akan mengancam kelangsungan populasi spesies tersebut, karena keanekaragaman genetik menentukan kapasitas populasi untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungannya. Data mengenai keanekaragaman genetik suatu spesies dapat memberikan informasi mengenai genetika populasi spesies tersebut, hubungan filogenetik, salah satu indikator dalam keberhasilan kegiatan konservasi, dan landasan dalam menentukan tujuan dan arah pengembangan konservasi (Budiarsa dkk., 2009 ; Rahayu dan Nugroho, 2015).

Informasi mengenai keanekaragaman genetik suatu spesies dalam satu populasi atau antarpopulasi, merupakan salah satu bahasan yang menarik dan bisa didapatkan dalam ekologi molekuler yang juga dibahas dalam genetika konservasi, genetika populasi, dan ilmu terkait lainnya. Penurunan keanekaragaman genetik biasa terjadi pada spesies dengan ukuran populasi yang sedikit atau berukuran kecil (Rahayu dan Nugroho, 2015 ; Indrawan dkk., 2012).

Gambar 1. Burung Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo) © Iwan Hunowu (SENKAWOR, 2017)

Salah satu spesies yang keanekaragaman genetiknya telah dikaji adalah burung Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo), Burung Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo S. Müller, 1846) (Sukmantoro dkk, 2007), merupakan salah satu hewan liar endemik di pulau Sulawesi dan banyak diperhatikan (Rusiyantono dkk, 2011 ; Samayana, 2015). Tren penurunan jumlah populasi Maleo di berbagai lokasi terus terjadi karena disebabkan oleh banyak faktor. Oleh karena itu, sejak tahun 2003 IUCN (International Union for Conservation of Nature Resources) memasukkan jenis Maleo Senkawor sebagai satwa liar yang terancam punah dengan kategori Endangered (BirdLife International. 2016).

Penelitian mengenai keanekaragaman genetik burung maleo pernah dilakukan oleh Budiarsa dkk (2009), penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman genetik burung maleo menggunakan marka molekuler intron satu gen rhodopsin (RDP1) pada burung maleo yang mewakili populasi berhabitat di pesisir pantai (coastal nesting grounds) dan populasi yang berhabitat di hutan (in land nesting). Gen rhodopsin merupakan gen yang sangat bermanfaat untuk taksa burung, ukurannya menguntungkan (1~10 kb), dan mudah diamplifikasi pada taksa galliformes.

Gambar 2. Diagram skematik dari gen rhodopsin pada ayam domestik (Gallus; Takao et al., 1988) dengan bagian intron 1 diperbesar (Birks dan Edwards, 2001).

Metode yang digunakan untuk mengamplifikasi DNA pada penelitian tersebut adalah teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) yang menggunakan primer RDP1.U1 (5’-GTAACAGGGTGCTACATCGA-3’) dan RDP1.L1 (5’-ACAG ACCACCACATATCGTT-3’). Proses selanjutnya adalah dilakukan sekuensing pada hasil amplifikasi (produk PCR), lalu dilakukan analisis data sehingga didapatkan informasi mengenai jumlah haplotipe dan diversitas nukleutida. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 7 haplotipe dengan keanekaragaman nukleotida sebesar 0,0037-0,013 dan menjelasakan bahwa burung maleo yang mewakili populasi berhabitat di pesisir pantai (coastal nesting grounds) memiliki keanekaragaman haplotipe dan nukleotida lebih rendah dibandingkan populasi yang mewakili habitat hutan (in land nesting).

Hal tersebut mengindikasikan bahwa pada populasi burung maleo yang mewakili berhabitat di pesisir pantai (coastal nesting grounds), tidak terjadi perkawinan silang antar individu yang berhaplotipe berbeda yang tinggi dikarenakan isolasi geografis. Ekologi molekuler akan sangat bermanfaat bagi para peneliti, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar dalam ekologi yang susah atau bahkan tidak bisa terjawab dengan pendekatan konvensional lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

BirdLife International. 2016. Macrocephalon maleo. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T22678576A92779438. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.20163.RLTS.T22678576A92779438.en

Birks, S. M.  dan Edwards, S. V. 2001. A phylogeny of the megapodes (Aves: Megapodiidae) based on nuclear and mitochondrial DNA sequences. Molecular Phylogenetics and Evolution 23 : 408–421

Budiarsa, I.M.,  Artama, I.W.T., Sembiring, L. dan Situmorang, J. 2009. Diversitas Genetik Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Berdasarkan Intron Satu Gen Rhodopsin Nukleus (RDP1). Prosiding Seminar Nasional Penelitian Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.

Darajati, W., Pratiwi, S., Herwinda, E., Radiansyah, A.D., Nalang, V.S., Nooryanto, B., Rahajoe, J.S., Ubaidillah, R., Maryanto, I., Kurniawan, R., Prasetyo, T.A, Rahim, A., Jefferson, J., dan Hakim, F. 2016. Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan 2015-2020. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS, Jakarta.

Indrawan, M., Primack, R. B., Supriatna, J. 2012.  Biologi Konservasi Edisi Revisi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta.

Rahayu, D. A. dan Nugroho, E. D. 2015. Biologi Molekuler dalam Perspektif  Konservasi. Plantaxia, Yogyakarta.

Rusiyantono, Y., Tanari, M. dan Mumu, M. I. 2011. Conservation of Maleo Bird (Macrocephalon maleo) Through Egg Hatching Modification and Ex Situ Management. BIODIVERSITAS 12 (3) : 171-176

Samana, J. Y. 2015. Estimasi Populasi Dan Karakteristik Fisik Burung Maleo (Macrophalon Maleo) Di Resort Saluki Desa Tuva Kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Skripsi. Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial Universitas Tadulako.

Sukmantoro W., Irham, M., Novarino, W., Hasudungan, F., Kemp, N.  dan Muchtar. M. 2007. Daftar Burung Indonesia no. 2. Indonesian Ornithologists’ Union, Bogor.

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php