Jyawijaya

BANDENG SIDOARJO (!)

Posted: February 20th 2017

Potensi yang besar dalam perikanan air tawar, payau, maupun air laut dimiliki Indonesia sebagai salah satu negara maritim (Susanto, 2010). Wilayah perairan Indonesia yang merupakan wilayah yang lebih besar menunjang kemampuan Indonesia untuk menjadikan komoditas perairan serta produk olahannya menjadi lebih beragam (Devina, 2015).

Diperkirakan sebesar 6,5 juta ton per tahun potensi lestari perikanan laut Indonesia yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan ZEE (Zona Ekonomi Ekslusif) dengan tingkat pemanfaatan mencapai 5,71 juta ton atau 77,38 persen, produksi perikanan tangkap dan perikanan budidaya pada tahun 2011 masing-masing sekitar 5,4 juta ton dan 6,9 juta ton (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2011) dalam (Hafiludin, 2015).

Kabupaten Sidoarjo merupakan daerah di Jawa Timur dengan luas wilayah 714,24 km2 dengan kawasan terluas adalah perairan. Memiliki posisi sangat strategis, berbatasan dengan Surabaya sebagai kota metropolitan kedua di Indonesia, Sidoarjo mendapatkan dampak yang positif bagi pertumbuhan daerahnya (sidoarjokab.go.id).

Gambar 1. Peta Administrasi Kabupaten Sidoarjo (sidoarjokab.go.id)

Pada sektor perikanan Kabupaten Sidoarjo mengandalkan udang dan bandeng sebagai komoditas unggulan yang dijadikan maskot Kabupaten Sidoarjo (Gambar 2). Dari total produksi budidaya tambak di Kabupaten Sidoarjo, produksi kedua komoditas tersebut mencapai lebih dari 85% dan sekitar 70% nya merupakan produksi bandeng. Jumlah petani tambak Sidoarjo mencapai 3.227 orang dengan total luas lahan tambak 15.530 hektare. Desa-desa di Sidoarjo yang banyak terdapat tambak bandeng antara lain : Desa Banjar Kemuning (APS), Desa Kalanganyar, Desa Segoro Tamak dan Desa Gesik Semanggi (wpi.kkp.go.id).

Gambar 2. Logo Resmi Kabupaten Sidoarjo (sidoarjokab.go.id)

Produksi ikan bandeng nasional mengalami kenaikan dari tahun 2007-2011 yaitu sebesar 263.139 ton (2007), 277.471 ton (2008), 328.288 ton (2009), 421.757 ton (2010) dan 585.242 ton (2011), dengan tingkat kenaikan sebesar 38,76% selama tahun 2010-2011 (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2011) dalam (Hafiludin, 2015). Sedangkan total produksi bandeng di Sidoarjo tahun 2009 mencapai 16,03 ribu ton atau naik 1,13% dibanding tahun sebelumnya. Di tahun 2010, produksi budidaya udang windu dan ikan bandeng di Sidoarjo meningkat meski terjadi anomali cuaca.  Produksi bandeng Sidoarjo 2010 meningkat menjadi 19.839 ton, sedangkan produksi udang 2010 melonjak 3.725 ton dari sebelumnya 3.465 ton (wpi.kkp.go.id).

Ikan bandeng adalah salah satu jenis ikan yang telah dibudidayakan pada kolam tambak. Hewan ini pada awalnya merupakan pekerjaan sampingan bagi nelayan yang tidak dapat pergi melaut. Bandeng merupakan ikan yang dapat hidup di air tawar, air asin maupun air payau (Sulardiono dkk., 2013). Bandeng  (Chanos chanos sp) atau milkfish merupakan salah satu jenis ikan air payau yang memiliki rasa yang spesifik, dan telah dikenal di Indonesia bahkan di luar negeri.

Gambar 3. Ilustrasi Bandeng  (Chanos chanos)  (animaldiversity.org)

Menurut penelitian Balai Pengembangan dan Penelitian Mutu Perikanan (1996), kandungan omega-3 bandeng sebesar 14.2%,  melebihi kandungan omega-3 pada ikan salmon (2.6%), ikan tuna (0.2%) dan ikan sardines/ mackerel (3.9%). Kandungan gizi bandeng secara lengkap dapat dilihat pada komposisi kimia yang terdapat pada bandeng, dengan kandungan protein yang tinggi (20.38%), bandeng merupakan salah satu sumber pangan bergizi (wpi.kkp.go.id).

Bandeng Sidoarjo dikenal khas karena tidak berbau lumpur dan rasanya gurih. Sebagai salah satu sentra produksi bandeng di Jawa Timur, industri pengolahan bandeng pun berkembang di wilayah ini. Permasalahan terkait pemanfaatan bandeng sebagai komodiatas utama di Sidoarjo adalah sampai saat ini produk olahan berbahan baku ikan bandeng yang sudah ada cenderung masih terbatas pada konsumen yang memang benar-benar menyukai rasa ikan bandeng (wpi.kkp.go.id) tetapi kendala tersebut sudah berusaha di tanggulangi dengan menambah variasi aneka produk bandeng yang dipasarkan.

Salah satu faktor yang membatasi peningkatan konsumsi ikan bandeng adalah struktur tubuh dengan banyak duri halus yang mengganggu preferensi konsumen khususnya bagi golongan usia remaja, anak-anak dan manula (wpi.kkp.go.id). Bandeng mempunyai tak kurang dari 164 duri atau 82 pasang duri dengan penyebaran sebagai berikut : pada bagian punggung ada 42 pasang duri bercabang yang menempel di dalam daging dekat permukaan kulit luar, bagian tengah ada 12 pasang duri pendek, pada rongga perut ada 16 duri pendek dan bagian perut dekat ekor ada 12 pasang duri (wpi.kkp.go.id). Upaya peningkatan preferensi konsumsi ikan bandeng dilakukan melalui berbagai pengolahan terutama dengan tujuan menghilangkan duri halus tersebut. Berbagai produk olahan bandeng pun kemudian berkembang seperti bandeng presto, bandeng asap, otak-otak bandeng dan lain-lain (wpi.kkp.go.id).

Gambar 4. Produk Olahan Bandeng (Otak-otak) (bandenglapindosidoarjo.blogspot.co.id)

Permasalahan yang lainnya adalah hasil produksi ikan dan udang ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Sidoarjo, permasalahan tersebut sudah ditanggulangi dengan mendatangakan pasokan ikan bandeng dari luar daerah (wpi.kkp.go.id). Sampai saat ini sebagian besar budidaya bandeng masih dikelola dengan teknologi yang relatif sederhana dengan tingkat produktivitas yang relatif rendah. Jika dikelola dengan sistem yang lebih intensif, produktivitas bandeng dapat ditingkatkan hingga 3 kali lipat (Kordi, 2010) dalam (Sulardiono dkk., 2013)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php