alfonslie

13-5-1998: The Flowers of Revolution

Posted: May 13th 2015

Judul di atas mungkin terdengar seperti judul film yang pernah anda dengar, Ya ada sebuah judul film The Flowers of War tentang pengorbanan 12 orang wanita pada saat perang dunia kedua.. Film itu bercerita bagaimana mereka rela di perkosa dan di bunuh demi menyelamatkan anak” dari tentara Jepang saat terjadi pendudukan terhadapt kota Nanjing. Kembali ke judul yang saya angkat, mengapa saya menggunakan judul tersebut?. 13 Mei 1998 mungkin ada neraka bagi etnis Tionghoa terutama mereka yang berjenis kelamin perempuan. Mereka diperkosa, dilecehkan, bahkan dibunuh dengan dibakar hidup-hidup. Entah binatang atau manusia yang melakukan hingga saat ini kita menutup sebelah mata. Karena notabene pemerintah tidak pernah mengusut tuntas kasus Mei 1998. Mahasiswa boleh menyebut mereka pahlawan revolusi. Tetapi bisa jadi korban revolusi 1998 terbesar adalah para perempuan etnis tionghoa.

Pada masa setelah kemerdekaan dapat dikatakan hubungan antara pribumi dan etnis Tionghoa juga terus berlanjut dengan rasa saling curiga. Kedudukan warga Tionghoa menjadi kelompok yang disisihkan dan selalu dicurigai sebagai bagian dari rezim Soekarno yang pro Komunisme. Puncak dari segala sentimen ini dapat terlihat pada tragedi berdarah Mei 1998 tersebut. Hal ini kemungkinan besar terjadi akibat kecemburuan ekonomi dan faktor keyakinan dan rasial dalam kasus ini. Konsep scapegoating atau pengkambing-hitaman juga dapat diterapkan dalam kasus pemerkosaan dan kekerasan terhadap etnis Tionghoa pada Mei 1998 ini.

Dalam situasi dimana ada krisis nasional, masyarakat secara otomatis akan mencari kelompok yang dapat mereka salahkan dan menjadikannya sebagai tempat amukan atau menumpahkan kemarahan, hal ini dipahami sebagai pengkambinghitaman atau scapegoating. Berdasarkan pendapat mayoritas masyarakat, etnis Tionghoa yang secara ekonomi sukses dan menduduki posisi ekonomi strategis, dilain pihak mereka telah distigmatisasi secara negatif dan kebanyakan memiliki keyakinan berbeda, secara tidak beruntung dijadikan sebagai dislike minority. Hal inilah yang menjadikan mereka sebagai target utama dari kerusuhan tersebut, terlepas dari kerusuhan itu diorganisasikan oleh pihak tertentu atau tidak.

Perempuan yang berasal dari etnis Tionghoa mengalami hal yang lebih mengerikan pada saat terjadinya kerusuhan ini. Mereka menjadi korban utamakarena dianggap paling rentan dan paling mudah dijadikan sasaran amukan massa. Secara tidak langsung, berdasarkan konstruksi masyarakat Indonesia yang ada perempuan yang berasal dari etnis Tionghoa dapat dikatakan termasuk kedalam golongan yang didefinisikan sebagai double minority (Tionghoa dan Perempuan).Perempuan Tionghoa secara demografis tentu adalah minoritas karena pada waktu itu etnis Tionghoa jumlahnya tidak mencapai 2% dari seluruh penduduk di Indonesia, dan mereka yang merupakan perempuan adalah bagian dari kelompok minoritas perempuan Indonesia. Bahkan menurut pemahaman dari Ita F. Nadia (Aktifis tim relawan pada waktu kejadian Mei 1998), perempuan etnis Tionghoa dapat dikatakan sebagai golongan triple minority; karena mereka (1) perempuan, (2) berasal dari etnis Tionghoa yang minoritas, dan (3) beragama non-Muslim sehingga mereka paling tepat dijadikan korban dalam kerusuhan berbasis politik tersebut, karena mereka pasti akan sulit membela diri.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Tim Gabungan Pencari Fakta 13-15 Mei 1998 yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia pimpinan presiden B.J. Habibie, dipastikan bahwa terdapat 85 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual yang berlangsung dalam rangkaian kerusuhan Mei 1998. Dengan rincian 52 korban perkosaan, 14 korban perkosaan dengan penganiayaan, 10 korban penyerangan/penganiayaan seksual, dan 9 orang korban pelecehan seksual. *Data ini dikumpulkan dari yang melapor, sedangkan yang tidak melapor diperkirakan jumlahnya hingga 10x lipat (red); apalagi pada waktu itu pemerintah terkesan menutup-nutupi kejadian ini kepada dunia dan media massa.

Tim juga menemukan fakta bahwa sebagian besar dari korban adalah perempuan yang memiliki etnis Tionghoa, dan hampir semuanya adalah korban dari gang rape, dimana korban diperkosa oleh sejumlah orang secara bergantian dalam waktu yang bersamaan. Bahkan kebanyakan kasus juga dilakukan di depan orang lain. Tim juga mengakui bahwa terdapat keterbatasan dalam pencatatan dan verifikasi keseluruhan korban ini karena adanya pendekatan hukum positif yang mengisyaratkan harus ada laporan dan tanda-tanda kekerasan yang dialami.

Menurut sumber yang secara langsung diwawancarai oleh jurnalis dari media Tempo, Ita F. Nadia selaku Koordinator Divisi Pendampingan Korban Perempuan dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan pada saat itu; dapat memastikan bahwa keseluruhan dari para korban perempuan yang melaporkan pengalaman mengerikan ini berasal dari etnis Tionghoa. Ia mengatakan bahwa temuan yang ia dapatkan di lapangan dapat dipastikan lebih mengerikan, karena ia mengaku bahwa berdasarkan pengalaman para korban yang sungguh menderita akibat kekerasan seksual yang mereka alami banyak yang mengalami shock dan trauma berkepanjangan, bahkan banyak yang memilih untuk meninggalkan Indonesia. Lebih miris lagi, ia mengatakan bahwa beberapa memilih untuk langsung mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri setelah mendapatkan perlakuan yang begitu keji tersebut.

 

Mengapa harus ada tulisan seperti ini? Toh bangsa ini (mungkin) sudah hidup damai tentram dan bisa berbaur perlahan-lahan. Tetapi tulisan ini bertujuan untuk kalian yang CINA.. iya CINA… Kalian tidak pernah tau perjuangan mereka yang mati dengan keji untuk kalian.. Kalian menikmati kehidupan yang sekarang tanpa pernah memperjuangkan kebenaran untuk bangsa kalian di masa lalu…. Apa yang kalian ingat dari 13 Mei? Hanya sebuah tanggal? Itu kegagalan kalian menjadi seorang Tioghoa di negara ini. Kalian harus tau 13 Mei adalah hari terburuk bangsa Tionghoa di negara ini. Tujuh belas tahun berlalu dan bangsa ini belum bisa menegakkan keadilan untuk warga negaranya sendiri.

13 Mei 2015.

Sumber: Tionghoa.info.
Tempo.Com
Tim Pencari Fakta Kerusuhan Mei 1998.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php