alfonslie

Semua Menyebut Evan Dimas Aku Menyebut Paolo Sitanggang

Posted: September 16th 2014

paolo

Tulisan ini terpaksa dibuat karena rasa ingin mengulas tentang peran seorang Paolo Sitanggang sudah tidak dapat tertahankan lagi. Sudah lama saya ingin membahas tentang seorang gelandang Timnas U-19 ini.  Paulo Oktavianus Sitanggang atau yang lebih dikenal dengan nama Paulo adalah pemain sepak bola kelahiran 17 Oktober 1995 yang berasal dari Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia. Paulo sempat bersekolah di sekolah sepak bola Kurnia Medan dikarenakan orangtuanya mengetahui minat besar Paulo dalam bermain sepakbola. Ia kemudian memutuskan untuk berlatih di Surya Putra Mariendal Medan, yaitu sekolah sepak bola yang dipimpin oleh ayahnya sendiri. Pada tahun 2010, Paulo yang saat itu berumur 15 tahun mengikuti seleksi All Star Team Challange yang digelar oleh AC Milan Junior Camp. Ia berhasil masuk ke dalam daftar 18 pemain sepak bola muda yang nantinya dilatih di San Siro, Milan. Namun naas cedera menggagalkan keberangkatan pemain jenius ini ( bagi saya dia jenius).

8 Dari 9 orang ketika ditanya siapa gelandan terbaik timnas u-19 akan menyebut Evan Dimas… ahh iya Evan Dimas memang tidak dapat di pungkiri menjadi gelandang yang sangat mobile.. terutama jika dia di plot di blakang 1 striker dan 2 winger kita. Tetapi jika menghadapi tim yang memiliki postur maupun skill di atas rata-rata timnas kita evan akan sangat kesulitan memposisikan diri. Nah munculah sosok Paolo Sitanggang yang mampu membongkar pertahanan musuh bukan dengan goyang ala Ronaldo atau Di Maria tetapi dengan positioning yang kerap saya samakan dengan kemampuan Michael Carrick di Manchester United. Berbicara kesamaan dengan Carrick kenapa bisa saya samakan? Jika seorang iniesta atau messi pun sangat mengagungkan Paul Scholes di lini tengah Manchester United saya sangat mengagungkan Carrick. Baik Carrick dan Paolo mampu memerankan peran Defensive Role Midfield yang memiliki skill trough pass yang di atas rata-rata.

Dalam pembelaan saya toh Evan Dimas sangat kehilangan Paolo. Kita dapat melihat ketika Evan disandingkan dengan Zulfiandi dan Hargianto ia akan sangat tidak nyaman untuk merangsek kedepan meninggalkan posisinya di gelandang tengah dengan model zone marking. Hal ini juga berlaku juga untuk Scholes apabila dipasangkan dengan Anderson atau pun Cleverley (PHP) ia akan bermain bertahan dan cenderung bermain sebagai breaker bukan seorang holding midfield yang mampu mengontrol bola. Situasi pada Scholes dan Evan Dimas itu terjadi karena mereka tau partner mereka bukan seorang Carrick atau Paolo yang mampu mengontrol bola sambil berpikir bagaimana ia akan membuat celah.

Akhir kata yang ingin saya tegaskan adalah bagaimana peran seorang Paolo yang versatile di sisi gelandang Timnas U-19 sangat cerah masa depannya…. Harapan yang dulu ada pada sosok Ahmad Bustomi.. Namun sirna karena sialnya Bustomi tidak berada pada generasi yang menguntungkan bagi dirinya. Mungkin suatu saat Paolo akan mendapatkan Trial di klub Eropa dan mampu membuka mata scout eropa bahwa pemain Indonesia ini mampu bermain sekelas Iniesta.. Ciao.. Garuda Jaya.


2 responses to “Semua Menyebut Evan Dimas Aku Menyebut Paolo Sitanggang”

  1. agungprayogo says:

    ulasan yg sangat luar biassa bung alfon…smoga bisa di dengar indra sjafri dan di masa depan nnt lini tengah indonesia mempunyai pmain sperti xavi dan iniesta, yaitu evan dimas dan paolo..forza Milan!!!

  2. sinta wulandari says:

    kalian kereeenz bingitz… “-“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php