alfonslie

Mengubah Pemakan Bangkai dan Penghisap Darah Menjadi Alat Sensus

Posted: September 3rd 2014

Seekor Antelop terjatuh di dalam sebuah hutan tanpa siapapun yang mengetahuinya. Tetapi lambat laun banyak hewan yang akan menikmati bangkai tersebut. Lalat pemakan bangkai dan binatang pemakan bangkai lainya akan memakan karkasnya dan mulai beternak didalam bangkai tersebut. Telur-telur tersebut akan berkembang dengan memanfaatkan bangkai sebagai sumber energi mereka. Tidak lama antelope tersebut akan hilang ditelan oleh waktu, tetapi fragmen dari DNA tersebut akan tetap terdapat didalam tubuh serangga dan pemakan bangkai yang memakannya.

Hal diatas menjadi sebuah kabar gembira bagi konservasionis yang berjuang setengah mati untuk menyelamatkan spesies yang hampir punah. Mereka tidak harus lagi mencari spesies yang ingin mereka teliti tetapi mereka cukup menangkap lalat yang hidup di daerah spesies tersebut dan mereka akan mampu mendapatkan DNA hewan tersebut di dalam tubuh lalat.

Teknik sensus dengan menggunakan ekstraksi DNA dari lalat ini lah yang digunakan oleh sebuah tim oleh Thomas Gilbert dari Universitas Copenhagen pada tahun 2013 untuk memperlajari mamalia yang terdapat pada sebuah bagian dari hutan di Vietnam utara. Tim Thomas Gilbert mengekstraksi DNA dari 25 lintah yang diambil secara acak dari dalam hutan dan  secara mengejutkan mereka menemukan  21 sampel lintah memiliki DNA mamalia. Dari 21 sampel tersebut terdapat DNA kelinci ammanite yang terakhir ditemukan pada tahun 1996 dan rusa ‘muntjac’ yang terakhir ditemukan pada tahun 1997.

Kedua mamalia yang ditemukan pada sampel lintah tersebut adalah mamalia yang sangat langka. Berdasarkan klasifikasi IUCN ( International Union for Conversation of Nature ) mereka di kategorikan sebagai spesies yang hanya memiliki sedikit sampel. Kelinci ammanite telah lama tidak terlihat walaupun sudah menggunakan jebakan kamera selama 2000 hari dan rusa ‘muntjac’ sendiri hanya diketahui melalui sampel terkorak dan peneliti barat tidak pernah menemukan spesimen hidup dari rusa tersebut.

Adanya penemuan oleh tim Thomas Gilbert ini sangat membuka wawasan bagi para peneliti bahwa keberadaan kedua mamalia tersebut masih dapat ditemui dalam keadaan hidup dan semakin mendorong pemerintah Vietnam untuk melakukan konservasi terhadap kedua spesies tersebut. Selain itu penemuan ini menunjukkan bahwa teknik molekuler sangat membantu konservasionis untuk memecahkan misteri sensus spesies langka dan mempermudah pekerjaan mereka.

Gilbert_leeches

Gambar 2. Hewan – hewan yang berhasil terdeteksi dari ekstraksi DNA pada sampel lintah di Vietnam utara.

 

Daftar Pustaka:

1. Calvignac-Spencer, Merkel, Kutzner, Kuhl, Boesch, Kappeler, Metzger, Schubert & Leendertz. 2013. Carrion fly-derived DNA as a tool for comprehensive and cost-effective assessment of mammalian biodiversity. Molecular Ecologyhttp://dx.doi.org/10.1111/mec.12183

2.Schnell, Thomsen, Wilkinson, Rasmussen, Jensen, Willerslev, Bertelsen & Gilbert. 2012. Screening mammal biodiversity using DNA from leeches. Current Biologyhttp://dx.doi.org/10.1016/j.cub.2012.02.058

3. Taberlet, Coissac, Hajibabaei & Rieseberg. 2012. Environmental DNA. Molecular Ecology http://dx.doi.org/10.1111/j.1365-294X.2012.05542.x

 


16 responses to “Mengubah Pemakan Bangkai dan Penghisap Darah Menjadi Alat Sensus”

  1. kaka says:

    wow keren sekali kaka blog nya. two thumbs up deh

  2. tosy says:

    Informasinya menarik fon, tetapi sebaiknya proses2 teknik molekulernya dan kekurangan/kelebihan teknik molekuler yang digunakan dijelaskan

  3. alfonslie says:

    oke terima kasih atas sarannya tosi 🙂

  4. rivanakhaliska says:

    informasi menarik koh! teknik molekuler tebukti bisa mempermudah dan mempercepat dalam identifikasi spesies yang hampir punah

  5. jejejacqueline says:

    Jadi di dalam tubuh lalat pemakan bangkai bisa jadi ada banyak DNA ya.. keren niih!!

  6. Asteria Floretta says:

    KERENNNN phon… 🙂 menarik. Ternyata bisa untuk sensus juga ya. Hehehe good!!

  7. yulent says:

    infonya menarik….
    tambah lagii info ny ko… hahhahaa..

  8. adeirma says:

    Keren!! Semoga bisa digunakan untuk meneliti dan mengidentifikasi hewan endemik Indonesia yang sudah punah (y)

  9. Andre says:

    Teknik yang sangat sulit sepertinya

  10. catherinekath says:

    Perlu diperdalam lagi mengenai bagaimana teknik ekstraksi DNA yang dilakukan dan amplifikasi yang dilakukan, sehingga dapat mengidentifikasi DNA region dari hewan langka tersebut. Karena kedepannya diharapkan dari metode yang mereka miliki, tidak hanya divietnam, di Indonesia dapat dilakukan penjajakan spesies demikian.

  11. mynarita says:

    wah, info yang menarik ko! ini bisa menjadi jalan baru yang mungkin lebih mudah bagi para peneliti untuk meninjau kembali DNA dari mahkluk hidup yang sudah punah.. tinggal ditinjau lebih lanjut mengenai metodenya, dan mungkin bisa diterapkan untuk konservasi di wilayah Indonesia, misalnya saja harimau jawa / bali, siapa tau bisa di kloning dan bisa hidup lagi *katanya* 🙂

  12. Izemi is me says:

    teknik sensus dengan ekstraksi DNA, hmmm~ seriusan baru dengar kalo u/ kasus macam ini Foon~ 😀 mantap. . . . keep blogging yo!

  13. niken says:

    unikk., gak terpikirkan sensus bisa cuma pake nangkap lalat, tapi proses selanjutnya itu hahaa… nice post bpk alpon..

  14. 7ulius says:

    nice post, bos. 🙂
    teknik yg super duper, tapi sulit dipercaya

  15. Vincentius Yafet Winata says:

    teknik yang sangat efektif dan bermanfaat. Sangat baik dalam menjawab tantangan zaman mengingat sulitnya identifikasi spesies untuk menentukan sensusnya. Lanjutkan 😀

  16. bhumi yudha prasetya says:

    info yang menarik koh, semoga teknik yang bagus ini dapat lebih dikembangankan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php