A-YO GG !

Blog Archives


E-DNA ?? Kenalan Yuk !

Posted: September 2nd 2015

Identifikasi mikroorganisme yang merupakan hasil sampling baik di lingkungan perairan mauput daratan menjadi salah satu masalah penting dimana para peneliti ingin menerapkan metode yang handal dan berbasis molekuler tentunya. Salah satu aplikasi dalam bidang molekuler yang tentunya dapat memudahkan penelitian yang dilakukan. Jadi, apa yang dimaksud dengan Environment DNA (E-DNA) ? E-DNA secarah sederhana adalah DNA yang berasal dari lingkungan (Environment). E-DNA muncul akibat adanya perubahan pandangan dan pendekatan baru untuk memonitori DNA lingkungan yang pada umumnya berada pada  lingkungan perairan. Teknik E-DNA didasarkan pada kenyataan bahwa semua hewan yang hidup di air meninggalkan DNA belakang melalui feses, urin, atau kulit sel. DNA eksternal ini disebut DNA Lingkungan atau E-DNA. E-DNA juga dapat diandaikan sebagai bagian dari makhuk hidup yang terdapat di lingkungan. Sehingga dapat dimungkinkan sampel DNA yang kita ambil dari lingkungan seperti di udara, perairan, dan tanah sekalipun masih ada kemungkinan terdapat DNA dari makhluk hidup. Terminologi dari E-DNA dapat dijelaskan dengan deskripsi sebagai berikut : Pada grafik diatas memberikan gambaran yang jelas tentang terminologi yang berbeda yang digunakan dalam jadwal berdasarkan tiga parameter yang diletakan pada sumbu yang berbeda : Jenis primer yang digunakan : barkode standar yang digunakan dalam barkode konvensional. Tingkat dimana identifikasi dapat dilakukan. Beberapa primer lainnya hanya dapat mengidentifikasi genus, keluarga, atau tingkat order. Sedangkan primer lainnya dapat membuat identifikasi untuk tingkat spesies. Kompleksitas sampel. Sampel dapat berisi DNA dari spesimen tunggal.   Nah, demikian penjelasan singkat tentang E-DNA, sekarang tempat seperti apa yang dapat menjadi sumber E-DNA ? Berikut penjelasnnya : Perairan Lingkungan perairan menjadi salah satu sumber E-DNA yang berasal dari organisme yang hidup didalamnya seperti ikan, tumbuhan laut, karang, dan mikroorganisme laut lainnya. Sumber DNA dapat berasal dari feses yang dikeluarkan ikan, sisa – sisa kulit sel yang lepas, dan bagian – bagian tubuh lainnya. Sumber DNA dari perairan dapat dijadikan bahan utama untuk menunjukan keberadaan suatu spesies tanpa perlu untuk menangkap individu atau bahkan dipantau keberadaan / populasinya. Tanah Mirip seperti perairan, E-DNA juga dapat ditemukan di tanah. Sumber DNA bisa berasal dari bekas feses, bagian tubuh seperti rambut, kuku, kulit dan sebagainya. Sampel tanah yang yang diambil dapat dijadikan sebagai fokus utama dalam penyelidikan dan pengkajian suatu makhluk hidup. Jika kita bandingkan dengan lingkungan perairan, tanah merupakan sumber materi DNA atau RNA dari mikroorganisme atau makhluk hidup yang sangat berlimpah dari segi kuantitas DNA yang diperoleh. Udara Sumber DNA diudara dapat diambil dengan teknik sederhana, yaitu dengan teknik usap (swab) atau menggunakan medium pertumbuhan yang dibiarkan terbuka selama beberapa waktu di lingkungan. Selanjutnya sampel yang telah diambil lalu ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan diolah dengan metode E-DNA untuk mengidentifikasi mikrobia yang terdapat di udara.   E-DNA perlu tempat/lingkungan penyimpanan yang sesuai agar kualitas nya dapat terus terjaga dengan baik. Pada umumnya menggunakan prinsip preservasi misalnya pada sampel tanah yang menggunakan larutan penyangga dan disimpan dalam suhu rendah sebelum proses ekstraksi DNA.   KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN   Keuntungan besar dari E-DNA yang bisa kita peroleh adalah pada umumnya kesempatan untuk mendeteksi spesies lebih tinggi dibandingkan dengan teknik survei secara tradisional misalnya seperti memancing, mengguanakan jaring ikan pada lingkungan perairan. Sensitivitas yang tinggi pada E-DNA ini berlaku terutama pada spesies dengan kepadatan populasi yang rendah. Selain itu, biaya yang dibutuhkan lebih sedikit dan efisien untuk kepentingan identifikasi spesies. Sampling untuk E-DNA dapat dilakukan oleh satu orang saja dan biaya untuk pengumpulan sampel air dengan teknik modern lebih efisien dibandingkan dengan teknik tradisional. Keuntungan lain adalah sampel E-DNA menggunakan bahan yang steril serta penggunaannya sangat akurat artinya kesalahan dalam identifikasi dalam diminimalisir. Kelemahan dari E-DNA adalah jumlah E-DNA sangat tergantung terhadap strategi pengambilan sampel sehingga perlu adanya perhitungan yang akurat.   Nah, demikian penjelasan secara singkat tentang E-DNA. E-DNA sejatinya dapat menjadi salah satu teknik modern yang dapat kita gunakan untuk menunjang penelitian yang kita lakukan, apalagi yang berada di lapangan / lingkungan. Jadi, tertarik kah anda untuk , mencoba E-DNA ?? 🙂   REFERENSI   Herder, Jelger., Alice Valentini, Eva Bellemain, Tony Dejean, dan Pierre Taberlet. 2014. Environmental DNA. Stichting Ravon. Nijmegen.


Belerang : Sumber Daya, Sokongan Hidup, dan Ironi didalamnya.

Posted: March 3rd 2015

  Deskripsi Belerang / Sulfur Sulfur adalah salah satu materi dasar yang penting dalam proses kimia, berbentuk zat padat yang berwarna kuning dan banyak dipakai untuk bermacam-macam bahan kimia pokok maupun sebagai bahan pembantu, sehingga dijuluki sebagai raja kimia Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang S dan nomor atom 16. Belerang ditemukan dalam meteorit. R.W. Wood mengusulkan bahwa terdapat simpanan belerang  pada daerah gelap di kawah Aristarchus. Belerang terjadi secara alamiah di sekitar daerah pegunungan dan hutan tropis.  Sulfit tersebar di alam sebagai pirit, galena, sinabar, stibnite, gipsum, garam epsom, selestit, barit dan lain-lain. Bentuknya adalah non-metal yang tak berasa, tak berbau dan multivalent. Belerang dalam bentuk aslinya, adalah sebuah zat padat kristalin kuning. Di alam belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineral- mineral sulfide dan sulfate. Ia adalah unsur penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino (Nurdajat dan Elkhasnet, … Read more


Seaweed ! Seaweed ! Truuulaaalaaa…. ! #SeaweedforLife

Posted: December 5th 2014

Potensi besar menanti Indonesia apabila Negara Maritim ini mampu untuk mengembangkan kekayaan lautnya dengan baik dan bijak. Harapan tentunya besar ketika pemerintahan baru telah berganti dan kebijakan – kebijakan yang menguntungkan negara yang akan dibuat danditerapkan. Sudah lama Indonesia terpuruk dengan kekayaan laut yang dimilikinya karena “dibajak” oleh pihak asing akibat dampak dari regulasi yang tidak jelas dan kurang ketat. Sudah saatnya kita sadar untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam terutama laut bagi kesejahteraan kita bersama. Topik yang menjadi fokus saya adalah potensi rumput laut Indonesia, terutama di daerah saya yaitu Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Salah satu kekayaan alam yang dimiliki oleh Kabupaten Maluku Tenggara Barat adalah wilayah laut yang mengelilinginya. Kepulauan kabupaten Maluku Tenggara Barat terletak seperti namanya yaitu di bagian tenggara dari Provinsi Maluku. Wilayah Maluku Tenggara Barat sebagian besar berupa lautan yang didalamnya terdapat berbagai ragam jenis ikan dan kekayaan laut lain yang sangat luar biasa. Potenis kelautan yang ada sebagian besar masih digunakan untuk perikanan saja, padahal potensi kelautan tadi dapat digunakan untuk budidaya rumput laut yang nilai ekonominya cukup tinggi. Menurut Anggadireja (2007), Rumput laut merupakan salah satu komoditas perdagangan internasional. Jenis rumput laut yang cocok untuk dibudidayakan adalah jenis Eucheuma spp. (E. cottonii dan E. spinosum) yang dapat ditanam di laut dan jenis Gracilaria spp. yang dapat ditanam di tambak. Ekosistem rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara cukup luas dan sangat berpotensial. Pada tahun 2010, Kabupaten Maluku Tenggara Barat memiliki potensi area untuk budidaya rumput laut seluas 5.103,88 hektar, namun baru sekitar 50,00 hektar yang baru dimanfaatkan. Hal ini menjadi bukti bahwa masih ada sekitar 5.053,88 hektar yang belum tergarap sama sekali.   Permasalahan Mendasar dan Solusi Kesadaran masyarakat Maluku Tenggara Barat terhadap potensi rumput laut masih sangat rendah. Hal ini terbukti dengan sebagian besar profesi yang digeluti oleh masyarakat disana adalah petani, pedagang, dan sebagian besar adalah nelayan. Mirisnya lagi walaupun sebagian besar adalah nelayan, tetapi fokus terhadap rumput laut masih belum digeluti secara sungguh – sungguh. Ikan masih menjadi primadona bagi nelayan disana karena potensi ikan cukup besar dan harga jual yang cukup tinggi untuk satu ekor ikan. Satu ekor ikan dengan ukuran besar dapat dijual dengan harga Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000 di pasar – pasar tradisional. Menurut saya ada 3 kendala utama dalam mengembangkan rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara Barat yaitu : Masyarakat belum paham betul tentang keberadaan rumput laut di daerah mereka sendiri. Sebagian masyarakat yang telah beralih untuk mengembangkan rumput laut masih mendapatkan kesulitan untuk menjual hasil produksi ke pasar – pasar tradisional dan regional. Rumput laut belum menjadi primadona bagi kebutuhan masyarakat disana. Sehingga masyarakat kurang tertarik untuk memanfaatkannya. Rumput laut mempunyai potensi yang lebih besar dari rentang harga Rp. 50.000 – Rp. 100.000 karena rumput laut bila dibudidayakan dan dikembangkan dengan baik maka dapat menjadi komoditi utama bagi Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Tentunya ada harapan untuk dapat berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat lewat Dinas Kelautan dan Perikanan. Solusi yang telah dilakukan oleh pemerintah Kab. Maluku Tenggara lewat Dinas Kelautan dan Perikanan adalah sebagai berikut : Sosialisasi manfaat rumput laut terus digiatkan dari kampung ke kampung lewat pertemuan – pertemuan dan pembukaan tambak –  tambak untuk budidaya rumput laut terus dibuka di setiap kampung. Dukungan modal terus diberikan lewat Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Maluku Tenggara Barat kepada masyarakat – masyarakat  yang tertarik untuk mengembangkan rumput laut. Sosialisasi terhadap masyarakat baik di pesisir maupun diperkotaan terhadap manfaat rumput laut tentunya diharapkan dapat menambah ketertarikan masyarakat terhadap rumput laut. Berdasarkan hasil pengamatan saya ketika mengikuti kunjungan ke kampung – kampung yang pernah menjadi target sosialisasi rumput laut (- setiap liburan saya selalu pergi ke Saumlaki, Maluku Tenggara Barat) hampir rata – rata masyarakat fokus terhadap rumput laut. Hal itu dapat dibuktikan dengan pada tiap – tiap rumah terdapat tempat untuk menjemur rumput laut hasil tangkapan yang kemudian akan langsung dijual ke pasaran dalam bentuk rumput laut yang telah kering. Tidak hanya itu saja, beberapa kampung malah menjadi penghasil rumput laut terbesardi kabupaten itu. Tampaknya rumput laut telah mengalir dan menjadi prioritas dalam kehidupan ekonomi masyarakat dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Hal ini tentunya menjadi kemajuan yang luar biasa dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Melihat perkembangan dan keberhasilan pemerintah dalam mengembangkan rumput laut sebagai komoditi utama bagi kabupaten tersebut maka saya tergerak untuk melakukan beberapa aksi personal diantaranya sebagai berikut : Menulis lebih banyak artikel tentang rumput laut dan manfaatnya. Target dari pembaca tentunya kepada kalangan muda. Hal ini dibantu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada jaman ini. Media sosial tentunya menjadi modal utama dalam mengembangkan dan mempromosikan tentang rumput laut ini. Artikel tentang rumput laut tentunya akan saya tulis pada blog saya : (http://blogs.uajy.ac.id/alanpeter/) dan via facebook dengan memposting pada halaman (https://www.facebook.com/pages/Dinas-Kelautan-dan-Perikanan-Kab-Maluku-Tenggara-Barat/). Tujuan nya adalah jelas untuk mempromosikan potensi rumput laut di kalangan masyarakat dan anak muda, terutama di daerah saya. Apalagi hal ini didukung dengan perkembangan informasi dan teknologi yang sedang berkembang disana. Mempromosikan gerakan #SeaweedforLife di berbagai media sosial seperti Twitter ( @alanbatkormbawa), Path (Alan Batkormbawa), LINE (Alan Peter), Instagram (Alan Batkormbawa) dan tentunya Facebook (Frederik Peter Alan). Perkembangan teknologi informasi yang cepat seperti saat ini tentunya dapat dimanfaatkan sebagai faktor utama untuk memulai gerakan ini. Gerakan yang dimaksud adalah berupa poster, quotes – quotes tentang peduli terhadap potensi rumput laut, dan gambar/foto – foto. Hal ini saya lakukan karena dikalangan anak muda sedang digiatkan dengan kegiatan #SaveShark yang sasarannya dari anak muda, orangtua, hingga kalangan artis. Jadi, kenapa rumput laut juga tidak seperti itu. Membuat kaos dengan tema rumput laut dengan desain yang berisi mengapa kita perlu peduli terhadap rumput laut. Targetnya tentu pada kalangan mahasiswa di Fakultas Teknobiologi maupun di kalangan eksternal. Setiap langkah awal selalu ada rintangan baik yang ringan maupun berat sekalipun. Tapi apalah arti dari setiap rencana yang digalakan apabila tidak ada keinginan untuk memulainya. Langkah sederhana ini mungkin belum seberapa dengan yang dilakukan oleh pemerintah  untuk menyadarkan masyarakat dalam memanfaatkan potensi rumput laut di Indonesia. Namun setidaknya langkah sederhana ini dapat membantu pemerintah dalam melaksanakan proyek – proyek kelautan yang berhubungan dengan memanfaatkan potensi rumput laut Indonesia terutama di daerah saya, Kabupaten Maluku Tenggara Barat.


Cendrawasih Merah : Antara Kultur, Eksploitasi, dan Konservasi

Posted: September 8th 2014

Keberadaan satwa burung di Indonesia semakin hari semakin menurun. Hal ini terjadi karena adanya perburuan liar sehubungan dengan meningkatnya permintaan pasar. Selain itu penurunan kualitas habitat sebagai akibat dari aktivitas manusia, lemahnya pengamanan, pengawasan, penerapan, sanksi hukum, serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang konservasi, juga turut mengakibatkan penurunan populasi burung di alam. Walaupun telah berstatus dilindungi (termasuk oleh pemerintah daerah di mana habitat dan jenis burung berada ), namun perburuan liar tetap terus berjalan. Hal ini juga terjadi di Papua yang mna merupakan habitat raksassa dimana ratusan bahkan ribuan jenis tanaman dan hewan tersebar di daratan tanah dari pulau yang dulu dikenal nama “Irian Jaya” itu. Pulau “surga” ini masih memiliki daya dukung lingkungan yang baik yang sesungguhnya tidak terlepas dari ekosistem – ekosistem yang masih mempunyai siklus hidup yang baik didalamnya. Lingkungan alam dan kelestariannya yang masih terjaga dengan baik tentu saja tidak lepas dari kepedulian dan sifat memiliki dari … Read more


Hello world!

Posted: September 3rd 2014

Welcome to Komunitas Blogger Universitas Atma Jaya Yogyakarta. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!



© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php