A-YO GG !

Seaweed ! Seaweed ! Truuulaaalaaa…. ! #SeaweedforLife

Posted: December 5th 2014

Potensi besar menanti Indonesia apabila Negara Maritim ini mampu untuk mengembangkan kekayaan lautnya dengan baik dan bijak. Harapan tentunya besar ketika pemerintahan baru telah berganti dan kebijakan – kebijakan yang menguntungkan negara yang akan dibuat danditerapkan. Sudah lama Indonesia terpuruk dengan kekayaan laut yang dimilikinya karena “dibajak” oleh pihak asing akibat dampak dari regulasi yang tidak jelas dan kurang ketat. Sudah saatnya kita sadar untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam terutama laut bagi kesejahteraan kita bersama. Topik yang menjadi fokus saya adalah potensi rumput laut Indonesia, terutama di daerah saya yaitu Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Peta Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Sumber : www. migas.bisbak.com)

Salah satu kekayaan alam yang dimiliki oleh Kabupaten Maluku Tenggara Barat adalah wilayah laut yang mengelilinginya. Kepulauan kabupaten Maluku Tenggara Barat terletak seperti namanya yaitu di bagian tenggara dari Provinsi Maluku. Wilayah Maluku Tenggara Barat sebagian besar berupa lautan yang didalamnya terdapat berbagai ragam jenis ikan dan kekayaan laut lain yang sangat luar biasa. Potenis kelautan yang ada sebagian besar masih digunakan untuk perikanan saja, padahal potensi kelautan tadi dapat digunakan untuk budidaya rumput laut yang nilai ekonominya cukup tinggi.

Menurut Anggadireja (2007), Rumput laut merupakan salah satu komoditas perdagangan internasional. Jenis rumput laut yang cocok untuk dibudidayakan adalah jenis Eucheuma spp. (E. cottonii dan E. spinosum) yang dapat ditanam di laut dan jenis Gracilaria spp. yang dapat ditanam di tambak. Ekosistem rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara cukup luas dan sangat berpotensial. Pada tahun 2010, Kabupaten Maluku Tenggara Barat memiliki potensi area untuk budidaya rumput laut seluas 5.103,88 hektar, namun baru sekitar 50,00 hektar yang baru dimanfaatkan. Hal ini menjadi bukti bahwa masih ada sekitar 5.053,88 hektar yang belum tergarap sama sekali.

 

Permasalahan Mendasar dan Solusi

Kesadaran masyarakat Maluku Tenggara Barat terhadap potensi rumput laut masih sangat rendah. Hal ini terbukti dengan sebagian besar profesi yang digeluti oleh masyarakat disana adalah petani, pedagang, dan sebagian besar adalah nelayan. Mirisnya lagi walaupun sebagian besar adalah nelayan, tetapi fokus terhadap rumput laut masih belum digeluti secara sungguh – sungguh. Ikan masih menjadi primadona bagi nelayan disana karena potensi ikan cukup besar dan harga jual yang cukup tinggi untuk satu ekor ikan. Satu ekor ikan dengan ukuran besar dapat dijual dengan harga Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000 di pasar – pasar tradisional. Menurut saya ada 3 kendala utama dalam mengembangkan rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara Barat yaitu :

  1. Masyarakat belum paham betul tentang keberadaan rumput laut di daerah mereka sendiri.
  2. Sebagian masyarakat yang telah beralih untuk mengembangkan rumput laut masih mendapatkan kesulitan untuk menjual hasil produksi ke pasar – pasar tradisional dan regional.
  3. Rumput laut belum menjadi primadona bagi kebutuhan masyarakat disana. Sehingga masyarakat kurang tertarik untuk memanfaatkannya.

Rumput laut mempunyai potensi yang lebih besar dari rentang harga Rp. 50.000 – Rp. 100.000 karena rumput laut bila dibudidayakan dan dikembangkan dengan baik maka dapat menjadi komoditi utama bagi Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Tentunya ada harapan untuk dapat berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat lewat Dinas Kelautan dan Perikanan. Solusi yang telah dilakukan oleh pemerintah Kab. Maluku Tenggara lewat Dinas Kelautan dan Perikanan adalah sebagai berikut :

  1. Sosialisasi manfaat rumput laut terus digiatkan dari kampung ke kampung lewat pertemuan – pertemuan dan pembukaan tambak –  tambak untuk budidaya rumput laut terus dibuka di setiap kampung.
  2. Dukungan modal terus diberikan lewat Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Maluku Tenggara Barat kepada masyarakat – masyarakat  yang tertarik untuk mengembangkan rumput laut.
  3. Sosialisasi terhadap masyarakat baik di pesisir maupun diperkotaan terhadap manfaat rumput laut tentunya diharapkan dapat menambah ketertarikan masyarakat terhadap rumput laut.

Kegiatan Panen Rumput Laut bersama Wakil Presiden RI, Boediono, Menteri Kelautan dan Perikanan RI, dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Maluku Tenggara Barat Tahun 2010. (Sumber : bbp.mtbkab.com)

Berdasarkan hasil pengamatan saya ketika mengikuti kunjungan ke kampung – kampung yang pernah menjadi target sosialisasi rumput laut (- setiap liburan saya selalu pergi ke Saumlaki, Maluku Tenggara Barat) hampir rata – rata masyarakat fokus terhadap rumput laut. Hal itu dapat dibuktikan dengan pada tiap – tiap rumah terdapat tempat untuk menjemur rumput laut hasil tangkapan yang kemudian akan langsung dijual ke pasaran dalam bentuk rumput laut yang telah kering. Tidak hanya itu saja, beberapa kampung malah menjadi penghasil rumput laut terbesardi kabupaten itu. Tampaknya rumput laut telah mengalir dan menjadi prioritas dalam kehidupan ekonomi masyarakat dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Hal ini tentunya menjadi kemajuan yang luar biasa dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Kegiatan Menjemur Rumput Laut di Pulau Selaru, Kab. Maluku Tenggara Barat

Melihat perkembangan dan keberhasilan pemerintah dalam mengembangkan rumput laut sebagai komoditi utama bagi kabupaten tersebut maka saya tergerak untuk melakukan beberapa aksi personal diantaranya sebagai berikut :

  1. Menulis lebih banyak artikel tentang rumput laut dan manfaatnya. Target dari pembaca tentunya kepada kalangan muda. Hal ini dibantu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada jaman ini. Media sosial tentunya menjadi modal utama dalam mengembangkan dan mempromosikan tentang rumput laut ini. Artikel tentang rumput laut tentunya akan saya tulis pada blog saya : (http://blogs.uajy.ac.id/alanpeter/) dan via facebook dengan memposting pada halaman (https://www.facebook.com/pages/Dinas-Kelautan-dan-Perikanan-Kab-Maluku-Tenggara-Barat/). Tujuan nya adalah jelas untuk mempromosikan potensi rumput laut di kalangan masyarakat dan anak muda, terutama di daerah saya. Apalagi hal ini didukung dengan perkembangan informasi dan teknologi yang sedang berkembang disana.
  2. Mempromosikan gerakan #SeaweedforLife di berbagai media sosial seperti Twitter ( @alanbatkormbawa), Path (Alan Batkormbawa), LINE (Alan Peter), Instagram (Alan Batkormbawa) dan tentunya Facebook (Frederik Peter Alan). Perkembangan teknologi informasi yang cepat seperti saat ini tentunya dapat dimanfaatkan sebagai faktor utama untuk memulai gerakan ini. Gerakan yang dimaksud adalah berupa poster, quotes – quotes tentang peduli terhadap potensi rumput laut, dan gambar/foto – foto. Hal ini saya lakukan karena dikalangan anak muda sedang digiatkan dengan kegiatan #SaveShark yang sasarannya dari anak muda, orangtua, hingga kalangan artis. Jadi, kenapa rumput laut juga tidak seperti itu.
  3. Membuat kaos dengan tema rumput laut dengan desain yang berisi mengapa kita perlu peduli terhadap rumput laut. Targetnya tentu pada kalangan mahasiswa di Fakultas Teknobiologi maupun di kalangan eksternal.

Sosialisasi Gerakan #SeaweedforLife di media – media sosial

Setiap langkah awal selalu ada rintangan baik yang ringan maupun berat sekalipun. Tapi apalah arti dari setiap rencana yang digalakan apabila tidak ada keinginan untuk memulainya. Langkah sederhana ini mungkin belum seberapa dengan yang dilakukan oleh pemerintah  untuk menyadarkan masyarakat dalam memanfaatkan potensi rumput laut di Indonesia. Namun setidaknya langkah sederhana ini dapat membantu pemerintah dalam melaksanakan proyek – proyek kelautan yang berhubungan dengan memanfaatkan potensi rumput laut Indonesia terutama di daerah saya, Kabupaten Maluku Tenggara Barat.


Comments are closed.

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php